Ajari Kami Menjadi Bangsa yang Terdidik

Ajari Kami Menjadi Bangsa yang Terdidik

0
BAGIKAN
Siswa Sekolah Dasar
Siswa Sekolah Dasar

Namanya Hanafi, pemuda tangkas penuh energi. Berasal dari desa yang saya lupa namanya. Ia pernah menyebutnya tapi masih saja terdengar asing. Katanya, desanya hanyalah dusun kecil dan cuma ada satu sekolah di sana. Anak-anak desa banyak yang putus sekolah, memilih bertani dan menggembala sapi. Bagi yang memiliki semangat belajar, akan merantau ke kota besar. Meskipun banyak pula yang berakhir menjadi pengamen jalanan.

TEKAD

Pelajar di Kaki Gunung Kelud

Bukan jalan singkat yang dilalui Hanafi sebelum tiba di Jerman. Ia merasa tawaran beasiswa tak pernah berpihak padanya. Selalu tertolak dan akhirnya bosan menunggu. Ia nekad menjual persawahan yang tak seberapa luas; satu-satunya harta warisan keluarga, demi uang jaminan pengajuan visa dan biaya awal kursus bahasa Hanafi yang tak murah.

Ia menyewa kamar kecil pinggiran kota dan memilih mengayuh sepeda bekas yang dibelinya di Flohmarkt. Meskipun transportasi di Jerman murah, ia tetap setia mengayuh sepedanya. Saat  musim dingin, suhu bisa menusuk dan tentu saja jalanan licin dan becek. Harus kuat fisik, agar tak mudah sakit. Itu yang ia pertahankan di setiap pergantian musim. Butuh banyak kesabaran untuk melewatinya. Karena sebelum berstatus mahasiswa, tak ada semesterticket yang bisa menggratiskan semua transportasi umum. Sebagai pelajar kursus bahasa memang serba salah. Turis bukan, mahasiswa juga bukan.

Bagi seorang Hanafi, menjadi mahasiswa Jerman adalah hal yang membanggakan. Di negeri inilah para ilmuwan-ilmuwan itu menempa diri. Walau pun tak ada yang bisa menjanjikan bahwa lulusan luar negeri akan sukses, setidaknya ia tahu bahwa merantau akan memberikan banyak ilmu berharga.

Delapan bulan Hanafi belajar bahasa Jerman hingga ia menerima Zulassung dari universitas yang diinginkannya. Perjuangannya sedikit terbayar, ia resmi menjadi mahasiswa. Dan, ia lebih senang lagi karena izin kerja part-time kini sudah dikantongi. Ia pun punya banyak kesempatan untuk membiayai hidupnya di tanah rantau ini.

“Ada hikmahnya juga tak lolos beasiswa. Itu artinya saya tak punya hutang kepada negara! Dan saya tak harus buru-buru pulang setelah lulus nanti”, ceritanya ketika itu.

“Tapi tetep pengen pulang kan?”, tanya saya penasaran. Dibalasnya dengan desah panjang, jemarinya mengepal.

“Tentu saja! Saya tahu perihnya hidup dalam kebodohan dan kemiskinan. Melihat negara ini, membuat saya iri. Saya ingin anak cucu saya kelak bisa juga menikmati fasilitas secanggih ini tanpa harus meninggalkan tanah airnya!“, pahamlah saya apa arti desah panjang itu. Di sanalah mimpi besarnya bersemayam. Terlalu besar, hingga memenuhi dadanya.

BEASISWA

Berbeda dengan Hanafi, Umar Bakri sedikit beruntung. Ia dosen PNS penerima beasiswa dari pemerintah. Meskipun pencairan dana sering terhambat, Umar Bakri tetap sigap mengatur finansialnya. Ia sudah banyak berhemat sejak awal kedatangan. Namun di tahun ke tiga, beasiswa terhenti. Masa kontrak telah habis. Sayang risetnya belum juga selesai. Dan tak ada perpanjangan pendanaan untuknya. Konon, negara sedang sulit. Padahal ia tetap harus membayar tuition fee kampusnya.

Di satu sisi, ia juga harus menghidupi keluarga. Istri dan anak-anaknya terlanjur diboyong ke Jerman untuk menemaninya. Namun, Umar Bakri tak putus asa. Selain menjadi researcher di kampus, ia juga bekerja di sebuah pabrik packaging. Dan menjelang akhir tahun, ikut pula menjadi kuli angkut di Pasar Natal. Tak ada gengsi di hati kandidat doktor ini.

Dampaknya, ia tak punya banyak waktu di kampus. Disertasinya pun makin molor. Sebenarnya ada banyak pilihan bagi Umar Bakri untuk mengurangi beban hidupnya di tanah rantau. Ia bisa memulangkan istri dan anak-anaknya ke Indonesia. Atau, bahkan ia pun bisa ikut pulang bersama mereka. Toh, ia tetap bisa melanjutkan penelitiannya di Indonesia.

Tapi tak ada dari pilihan itu yang diambilnya. Di sini, anak-anaknya bisa bersekolah dengan gratis. Bahkan mendapat bantuan dana setiap bulan dari pemerintah kota untuk setiap anak. Kindergeld namanya. Pelayanan kesehatan pun ditanggung asuransi yang tergolong murah untuk satu keluarga. Dan jika ia mau, ia bisa menerima tawaran menjadi pekerja tetap di kampusnya. Mudah bagi seseorang yang memiliki nilai akademik yang mengagumkan di sini.

“Udahlah, Pak! Tak perlu pulang ke Indonesia. Toh pemerintah juga sepertinya tidak peduli lagi padamu. Ngomongnya karena persoalan administrasi, ah paling dikorupsi!”, goda seorang kawan padanya, seperti sedang mengujinya.

“Hahaha.. tidaklah! Biar bagaimana pun saya harus menyelesaikan amanah ini. Dan InsyaAllah pulang bareng keluarga nanti, Jangan karena bobroknya pemerintah, saya harus menghukum satu Indonesia”, jawab Umar Bakri mantap. Hatinya mungkin terlukai tapi ketulusannya mencerdaskan anak bangsa ternyata tidak terbeli oleh kenyamanan dan kemudahan hidup di Jerman ini.

Ajari Kami Menjadi Bangsa yang Terdidik

Pemuda Nusantara
Pemuda Nusantara

Meskipun bukan nama sebenarnya, dua cerita di atas adalah kisah nyata untuk mengingatkan kita kembali bahwa masih ada orang-orang yang percaya bangsa ini akan tetap tegak berjalan, bahkan di tengah polemik sekarang ini. Sulit untuk dipungkiri, kami pun turut merasakannya meskipun berada jauh di seberang lautan. Ketegangan antargolongan yang selama ini ada dalam pergaulan politik Indonesia mulai menghiasi kehidupan (Pancasila) kami di negeri orang; yang seharusnya semakin solid karena jumlah kami yang sedikit.

Padahal kasus Blasphemy Law ini bukanlah yang pertama kali terjadi di Indonesia. Kita mengingat HB Jassin di tahun 1968, dipenjara 1 tahun karena membuat cerpen kontroversial yang berjudul “Langit Makin Mendung“. Arswendo Atmowiloto yang terkenal dari karyanya “Keluarga Cemara“, terbukti menista agama Islam dan dihukumi 5 tahun penjara. Ada pula Antonius Richmond Bawengan, didakwa melakukan penistaan agama di Pengadilan Negeri Temanggung karena dianggap melecehkan agama tertentu; dijatuhi hukuman penjara selama 5 tahun. Serta seorang ibu rumah tangga bernama Rusgiani divonis 1 tahun 2 bulan karena menghina tempat sesaji umat Hindu di Bali.

Terakhir adalalah Basuki Tjahaja Purnama yang menambah deratan nama pelaku penistaan agama di Indonesia. Kasus ini pun semakin sulit karena beririsan dengan politik.

Sebenarnya, negara lain pun pernah mengalami hal serupa. Di Inggris, dua pastor dipenjara 6 bulan dan wajib membayar denda sebesar $4000 karena mengomentari agama lain dengan menggunakan kalimat yang meremehkan dan menyinggung perasaan orang lain. Di Bangladesh, seorang guru kelas sains yang beragama Hindu dipenjara 6 bulan karena mengatakan tak ada surga di depan murid-muridnya. Di Rusia, seorang pemuda 22 tahun dipenjara 3,5 tahun karena bermain Pokemon Go di dalam gereja. Sebelumnya, pemain band Pussy Riot juga dipenjara karena mengkritik Presiden Vladimir Putin di dalam katedral. Hal serupa dialami juga oleh seorang Rapper Malaysia karena membuat video klip di dalam masjid. Dan masih banyak lagi contoh kasus lainnya. Nyaris tak ada yang lolos dari jeratan hukum.

Meskipun begitu, negara-negara ini tak ada yang goyah. Masyarakatnya justru lebih berhati-hati menyeimbangkan kebebasan berekspresi dan kebebasan berpendapat. Setidaknya tidak lagi mengomentari hal-hal yang bukan pada ranahnya.

Dan tentu tak adil rasanya jika kesalahan satu orang membuat kita menghakimi jutaan manusia yang lain. Apalagi bagi teman-teman mahasiswa yang sedang menuntut ilmu di negara lain dan memilih tak ingin pulang karena kecewa dengan keadaan bangsa yang menurutnya semakin terpuruk.

Justru yang perlu kita lakukan sebagai mahasiswa adalah memupuk keberanian untuk berpikir mandiri, melalui peneropongan baru untuk menemukan cara penyelesaian yang baru pula. Karena meneruskan praktik politik yang telah usang dan memproyeksikan kecurigaan tradisional kepada masyarakat mahasiswa bukanlah tindakan bijaksana yang bisa dilakukan oleh calon cendikiawan.

Kita perlu bergerak dengan penuh kepercayaan bahwa salah satu prasyarat mendukung pertumbuhan bangsa adalah memadukan kekuatan Pemerintah dengan kekuatan masyarakat yang terletak di luar sektor pemerintahan, salah satunya adalah kelompok mahasiswa. Kita adalah pemeran utama dalam dunia pendidikan, sesuai dengan tujuannya memanusiakan manusia demi menyelesaikan persoalan masa kini maupun mengantisipasi persoalan di masa mendatang. Itulah mengapa kehidupan pembelajar begitu kompleks sebab terkait dengan manusia, ilmu, dan masa depan.

Saya memahami bahwa tanah luar negeri seringkali menawarkan banyak kemudahan dan kenyamanan dalam memenuhi kebutuhan dasar kita. Manusiawi sekali jika kita memilih hidup di negara yang memiliki sistem pendidikan yang lebih baik, jaminan kesehatan yang layak, sumber penghasilan yang jelas, dan fasilitas lain yang sulit didapatkan di Indonesia.

Tetapi hanya berkutat pada pertimbangan karir dan rasa aman pribadi belaka adalah indikasi dari ketidakberdayaan dan keputusasaan yang menghasilkan apatisme (sosial) terhadap bangsa. Adalah tanggung jawab kita untuk menghadirkan rasa bangga menjadi orang Indonesia, karena hanya itulah satu-satunya cara untuk menimbulkan rasa self-respect and self-reliance kita di mata dunia.

Namun saya tidak akan meragukan nasionalisme orang-orang yang memilih menetap di luar negeri, karena ada banyak jalan melibatkan diri ke dalam arus perjuangan nasional. Kalau pun membenci Pemerintahannya, berhentilah bersikap skeptis terhadap bangsa sendiri. Kalau pun ragu dengan kekuatannya, setidaknya berterima kasihlah dengan cara tidak mematikan niat tulus dan semangat orang-orang yang masih berusaha memajukan bangsa ini. Mari melawan keterbatasan walaupun dengan sedikit kemungkinan!

“Namun tengoklah ke sini
Tak seharusnya ke sana
Di sini semua ilmu menjadi budi
Di sana semua ilmu menjadi api”

*Ditulis di sudut perpustakaan Universität Duisburg Essen, Jerman. Mengalun pula bersamanya God Bless – Bara Timur

BAGIKAN
Berita sebelumyaBola Dunia
Menyelesaikan pendidikan di salah satu universitas swasta di Malaysia di bidang Mechanical Engineering. Akhir musim dingin tahun 2012, ia melangkahkan kaki lebih jauh menuju Benua Eropa. Di sebuah universitas di wilayah North Rhein Westphalia, Jerman, ia melanjutkan studinya di jurusan Metallurgy and Metal Forming.   Pecinta pantai dan penikmat senja ini juga suka travelling. Ia menuliskan kisahnya mengunjungi berbagai negara di Eropa dan Afrika dalam sebuah blog.   "Tulis semua mimpi yang kau mau! Biar Tuhan yang menghapus, yang tidak baik untukmu"

TIDAK ADA KOMENTAR

Tinggalkan Pesan Balasan