Aku dan Peta Perburuan Takjil Saat Ramadhan

Aku dan Peta Perburuan Takjil Saat Ramadhan

0
BAGIKAN
Takjil Ramadhan

Hari ini genap saya menjalani Ramadhan tahun ke-4 di tanah rantau, tepatnya di Ibukota Jakarta. Kota yang keras sekeras tekad dan merupakan kota perjuangan saya dalam menggapai mimpi-mimpi. Kota sebagai Ibunya kota dari kota-kota lainnya di Indonesia. Kota yang dianggap menjanjikan bagi para anak rantau di penghujung pulau-pulau di Indonesia. Kota dimana saya bisa melihat orang-orang dari berbagai pelosok Indonesia. Kota yang penuh dengan orang-orang yang harus kuat berjuang untuk tetap menghidupkan api semangat dalam meraih segala impian.

Pertama kali merantau ke Jakarta tepat tiga tahun yang lalu, seorang bocah lulusan sekolah menengah atas dari pelosok desa kecil di Jawa Tengah untuk berjuang menggapai mimpi-mimpinya. Semangat akan impianlah yang membawa saya ke tanah Batavia ini.

Saya yang saat ini berstatus sebagai mahasiswi semester tujuh Universitas Negeri Jakarta, dimana di semester ini sedang padat-padatnya mengurus urusan kuliah. Padatnya perkuliahan ternyata belum berakhir sampai menjelang ibadah puasa ramadhan tahun ini. Dimana biasanya saya menghabiskan bulan Ramadhan di kampung, akan tetapi tahun ini saya tidak bisa menjalani ibadah puasa di kampung halaman, lantaran ramadhan tahun ini dibarengi dengan program semester pendek yang saya jalani. Kebetulan semester pendek ini tepat di awal bulan puasa dan berakhir satu minggu sebelum lebaran tiba. Perkuliahan di program semester pendek dijalani setiap hari pukul 10.00 – 12.00 WIB.

Udara Jakarta di siang hari sangat panas sehingga setelah selesai kelas, saya tidak langsung pulang akan tetapi sengaja ‘ngadem’ terlebih dahulu di perpustakaan, biasanya sengaja sampai sore agar pas sampai rumah saudara sudah bedug maghrib. Di tanah rantau ini saya memang ikut dengan saudara, akan tetapi jauh berbeda ketika kita berpuasa di kampung halaman dengan orang tua. Bukan hanya semester pendek akan tetapi saya dan teman-teman seperjuangan juga masih beraktifitas dalam sebuah forum kampus. Saya dan teman-teman pun biasanya sengaja ikut berburu takjil kampus. Biasanya saya sudah menyusun peta perburuan takjil, dimulai dari masjid kampus kemudian menyeberang ke belakang halaman kampus yaitu masjid perumahan lalu mundur kebelakang yaitu masjid komplek sekolahan. Dari mulai takjil kecil-kecil sampai makanan berat bisa saya dapatkan ketika sedang berburu takjil. Biasanya saya dan teman-teman melaksanakan ibadah sholat maghrib baru menuntaskan rute perburuan takjil sekitar kampus. Pengalaman dan segores kisah ramadhan saya di tanah rantau sengaja dituliskan oleh saya dalam aktifitas perburuan takjil, bukan takjil nya yang dilihat tetapi pengalaman dan riwayat aktifitas ramadhan.

Pelajaran yang bisa diambil adalah kita harus bersyukur ketika sedang berada di rumah dengan orang tua, dan apapun hidangan yang diberikan oleh ibu kita itulah hidangan ranking satu yang enak untuk kita. Ketika sudah di tanah rantau maka tempe goreng atau apapun makanan sederhana olahan ibu kita sendiri tentu sangat di rindukan bagi kita yang sudah di tanah rantau.

Sekian aktifitas ramadhan dan sebuah peta perburuan takjil dari saya, semoga bisa dipertemukan di Ramadhan tahun depan.

TIDAK ADA KOMENTAR

Tinggalkan Pesan Balasan