Aku, Kakiku, Belajar dan Mengenal Hal Baru

Aku, Kakiku, Belajar dan Mengenal Hal Baru

0
BAGIKAN
Women's day celebration with vietnamese

2014 adalah tahun yang penuh berkah bagiku. Menjelang akhir tahun tepatnya 2 september 2014, saya berkesempatan untuk melihat wajah belahan bumi lain selain Indonesia, tepatnya Taiwan. Ini adalah pertama kalinya saya menginjakkan kaki selain di Nusantara. Peluk hangat ayah, kakak, keponakan, senyum manis serta bisikan-bisikan doa orang-orang terkasih yang melepas kepergianku di airport masih sangat lekat di benakku kala itu. Mereka adalah semangatku untuk belajar di negeri orang. Berharap semuanya tetep baik bahkan bertambah baik sampai saatnya saya kembali lagi ke tanah air Indonesia. I will really miss them, indeed.

Taiwan yang juga dikenal sebagai Formosa yang berarti “pulau yang indah” dalam bahasa Portugis, terletak di Asia Timur dan merupakan bagian dari R.O.C. Bahasa yang digunakan di sini adalah mandarin, bahasa yang sering dikata orang merupakan bahasa tersulit di dunia. Taiwan memiliki empat musim yaitu fall, winter, spring, dan summer. Negara ini kaya dengan adat dan budaya yang tentunya amat berbeda dengan Indonesia. Semua hal tersebut merupakan hal baru dalam hidupku. Hidup baru, lingkungan baru, kebiasaan baru, dan tentunya tantangan baru. Sebagai mahasiswa rantau, saya berharap bisa survive dan betah di negeri dengan banyak manusia berkulit putih ini.

Pertama kali saya sampai di Taiwan, banyak hal yang membuat saya heran karena belum pernah saya temui di Indonesia. Sebagai contoh, di Taiwan sangat jarang sekali ditemui tempat sampah namun negara ini sangat bersih. Tidak ada sampah berserakan seperti di Indonesia. Contoh lain, masyarakat di sini cenderung lebih tertata dan tertib hingga perilaku yang sepertinya sepele di tempat umum pun ada aturannya. Sebagai contoh ketika di tangga atau eskalator umum, hanya orang yang berjalan cepat memilih sisi kiri sedangkan sisi kanan adalah untuk orang yang berjalan santai dan atau hanya berdiri (jika di eskalator). Jadi satu sama lain tidak akan mengganggu.

Saya belajar di National Formosa University yang berlokasi di bagian tengah negara Taiwan, tepatnya Huwei, Yunlin. Tidak seperti di Taipei ibukota Taiwan, di Huwei tidak terdapat banyak muslim. Di daerah ini tidak ada masjid dan cukup sulit untuk menemui makanan halal. Hampir semua makanan berbau “pork” termasuk minyak untuk mengolah makanan. Hanya beberapa tempat makan yang bisa saya kunjungi dan itupun restoran vegetarian yang mana semua makanan berbahan dasar sayur yang diolah dengan jahe sebagai bumbu utama. Less sugar less salt tapi rasa jahenya ‘ngena’ banget deh. Inilah yang mendorong saya untuk tinggal di apartemen bersama dengan temen-temen Indonesia lain dibanding dormitory kampus. Kenapa? Karena di dormitory tidak diperbolehkan kegiatan masak-memasak.

Masih berhubungan dengan religion. Ada empat mahasiswi Muslim di sini dan semua berjilbab. Pertama kali kami di Huwei ketika Fall season. Banyak pandangan mata yang mengisyaratkan bahwa kami adalah makhluk aneh. Kenapa? Karena di saat mayoritas manusia memakai hotpants dan baju mini lainnya, kami memakai baju panjang dan menutup kepala. Tidak sedikit pertanyaan kami dapat dari fenomena ini. “What happens to your head? Don’t you have hair? Don’t you feel hot?”. Itu semua terdengar funny. Hahaha… Belum lagi mengenai kami yang nggak makan pork. Semua itu membuat mereka heran.

Selanjutnya mengenai hambatan dalam berkomunikasi. Ketika di kampus bisa dikatakan minim kesulitan dalam berkomunikasi. Di kelas internasional terdapat berbagai macam mahasiswa dengan asal negara berbeda jadi bahasa inggris-lah yang tentunya digunakan dalam kegiatan learning process. Lain halnya dengan di kampus, hanya sedikit masyarakat sekitar yang bisa dan mengerti bahasa Inggris. Hal inilah yang saya rasa menjadi hambatan terbesar dalam berinteraksi dengan masyarakat sekitar. Secara bahasa asing yang saya kuasai hanya bahasa Inggris. Ketika membeli sesuatu dan atau hanya sekedar menjawab pertanyaan sepele masyarakat sekitar saja saya kewalahan. Bahasa tubuh yang kemudian saya gunakan untuk berkomunikasi. Kebayang nggak sih serasa seperti a dumb person. Hmmm… Sampai akhirnya saya mengikuti chinese course yang diberikan gratis dari pihak kampus dan finally saya mulai bisa berkomunikasi dengan masyarakat sekitar meskipun masih minim.

Dunia baru dengan bermacam adat, budaya, bahasa bahkan agama, mengingatkan saya bahwa betapa indahnya dunia ini. Kami berbeda, kami saling bercerita dan kami belajar bersama. Toleransi dan saling menghormatilah yang menjadi dasar diversitas kehidupan ini.

“Always walk through life as if you have something new to learn and you will”. – Vernon Howard

Salam Semangat dari Huwei, Taiwan.

TIDAK ADA KOMENTAR

Tinggalkan Pesan Balasan