Bahagianya Berbagi Di Bulan Ramadhan

Bahagianya Berbagi Di Bulan Ramadhan

0
BAGIKAN
Bahagianya Berbagi Di Bulan Ramadhan

Sudah dua kali Ramadhan kuhabiskan di kampung orang. Ramadhan tahun ini sebenarnya aku berharap bisa punya lebih banyak waktu di kampung halaman. Tapi ternyata malah lebih parah dari tahun sebelumnya. Ya beginilah pilihan yang harus diambil oleh kebanyakan mahasiswa yang menjadi bagian dari kepanitiaan kampus. Lebih banyak mengorbankan waktu libur untuk menunaikan kewajiban-kewajibannya sebagai panitia penyambutan mahasiswa baru.

Tidak seperti tahun kemarin, walaupun tidak menjadi lebih buruk. Tahun kemarin saat pertama bulan Ramadhan, aku sendiri saja di kos. Karena teman-teman kosanku yang lain tidak mengikuti kepanitiaan seperti yang aku lakukan. Mereka telah pulang kampung lebih dulu.

Namun, ibu kos yang letak rumahnya bersebelahan dengan kosanku berbagi kebahagiaan di awal Ramadhan tahun ini. Berbagi hidangan berupa rendang daging sapi untuk sahur nanti. Subhanallah, rasanya seperti di rumah. Biasanya memang hidangan di awal dan akhir puasa lebih enak daripada saat pertengahan. Walau di rumah pun tidak selalu daging sapi. Alhamdulillah, hal itu bisa menjadi penawar kerinduan akan rumah di awal Ramadhan.

Kebahagiaan dan obat rindu rumah saat Ramadhan tahun ini berbeda dengan Ramadhan kemarin. Kosanku sudah pindah. Pindah ke tempat yang lebih baik. Aku di asrama sekarang. Alhamdulillah, bulan Maret lalu aku resmi mendapat sebuah Beastudi yang memberikan fasilitas asrama untuk menunjang pelatihan dan bimbingan yang diberikan. Di asrama aku tinggal bersama sembilan orang penerima manfaat beastudi lainnya dan satu orang fasilitator.

Disanalah kami menghabiskan hampir sebulan full ramadhan. Aktifitas kami beragam. Ada yang sudah sibuk mengurus seminar dan sidangnya untuk kelulusan nanti, ada yang KKN (Kuliah Kerja Nyata), ada juga yang masih tingkat dua. Yang jelas kami disana tidak boleh pulang kampung sebelum 9 Juli, dikarenakan acara wajib yang harus kami ikuti dari PKPU – Lembaga Kemanusiaan Nasional- yang menjadi pemberi beastudi kami. Sebelumnya aku mengira akan gabut karena menunggu waktu pulang yang begitu lama. Tapi ternyata tidak. Aktifitas di kampus sebagai panitia membuatku hampir setiap hari harus keluar rumah. Selain itu, ada juga beberapa kegiatan rutin asrama yang tetap berjalan juga kegiatan tambahan spesial lain selama Ramadhan. Semua kesibukan itu mengalihkan perasaan kangen rumah.

Di bulan Ramadhan ini terasa berbeda karena keseringan berinteraksi dengan orang banyak. Membuat lebih banyak pengalaman dan kenalan. Mengenal orang baru dan menjejaki tempat baru. Bergabung bersama lapisan masyarakat yang sebelumnya belum pernah kukenal, seperti kaum dhuafa dan yatim yang membutuhkan bantuan hingga orang-orang hebat dan penyabar; pengurus acara sosial yang notabene harus terjun ke lapangan. Dan interaksi dengan masyarakat nyatanya kadang tidak selalu mulus.

Bermacam-macam kegiatan sosial menghiasi hari-hari Ramadhanku di Bogor. Ada kegiatan buka bersama anak-anak Desa Galuga yang merupakan desa tempat pembuangan sampah akhir Bogor, buka puasa bersama 5000 yatim dan dhuafa, belanja bareng yatim (acara dari PKPU) dan terakhir acara bersama masyarakat sekitar asrama.

Kami menjalin hubungan dengan warga yang baru kami kenal di tempat kami tinggal. Mencoba menjalin ukhuwah lebih luas di bulan penuh berkah melalui acara yang kami laksanakan di sekitar tempat tinggal mereka.

Ramadhan menjadi lebih indah saat berbagi dengan orang lain. Membantu meringankan beban mereka walaupun tidak banyak. Meskipun berpuasa bukan di kampung sendiri, menjalin hubungan yang baik dengan masyarakat sekitar tempat kita tinggal akan mendatangkan rasa nyaman dan menjadi obat kerinduan akan kampung halaman.

Tetangga yang dekat lebih utama daripada saudara yang jauh. Karena saat ada sesuatu hal yang menimpa kita, tentunya tetangga terdeka lah yang lebih dulu akan kita mintai pertolongan.

TIDAK ADA KOMENTAR

Tinggalkan Pesan Balasan