Belajar di Negeri Seribu Benteng

Belajar di Negeri Seribu Benteng

2
BAGIKAN
Morocco Traditional Berber House In Tafrout

Negeri seribu benteng itulah salah satu sebutan untuk negara Maroko. Bukan tanpa alasan, ketika mengunjungi Maroko maka akan nampak benteng-benteng di setiap sudut kota. Namun, aku tidak akan bercerita tentang sejarah Maroko tapi sedikit berkisah tentang kehidupan mahasiswa rantau pencari ilmu di Maroko.

Kisah ini bermula dari Makassar, saat aku mengenyam pendidikan di Universitas Islam Negeri (UIN) Alauddin Makassar. Aku mengambil jurusan Bahasa dan Sastra Arab dengan mimpi suatu saat nanti bisa melanjutkan studi di negeri Arab. Sambil belajar di kampus UIN, aku terus mencari informasi beasiswa ke berbagai negara. Tak membutuhkan waktu yang lama, pencarianku membuahkan hasil. Alhamudillah, aku dinyatakan lulus beasiswa pendidikan di dua negara, yaitu Maroko dan Sudan.

Tetapi perjuangan tak berhenti di situ, aku dihadapkan dengan pilihan yang sulit, memilih Sudan sebagai negara tujuanku atau negeri seribu benteng Maroko atau tetap melanjutkan kuliah di UIN yang saat ini memasuki semester ke tiga. Tetapi melibatkan Allah dalam setiap keputusan adalah cara terbaik. Setelah istikharah, hati pun memilih beasiswa Maroko. Perjalanan perantauanku pun dimulai di Makassar menuju Jakarta dan transit di Doha selama 2 jam hingga tiba di Fez, Maroko.

Pertama kali menginjakkan kaki di Maroko, aku terkejut dengan suhu yang begitu dingin. Setelah bertanya kepada kawan senior, ternyata aku tiba saat Maroko mengalami musim gugur. Mereka bercerita bahwa di Maroko juga terdapat 4 musim yaitu, musim gugur, musim dingin, musim panas, dan musim semi. Namun pada akhirnya aku pun mulai terbiasa menjalani hari-hari bersama teman-teman baru, termasuk beradaptasi dengan makanan, budaya, serta bahasa keseharian orang Maroko, bahasa Arab dan bahasa Perancis.

Menjadi mahasiswa baru di Universitas Sidi Mohammed Ben Abdellah di kota Fez mengingatkan aku kembali dengan masa-masa saat mengikuti ospek di UIN Makassar. Tetapi ada yang berbeda dengan yang aku rasakan. Aku mengikuti semua program pengenalan kampus sebagai langkah baru di negeri seribu benteng ini, semangat baru, tekad yang kuat, serta mengencangkan kembali tali perjuangan agar pantang menyerah.

“Semangat…Semangat…Semangat!“, kata itulah yang selalu aku teriakkan sebelum memulai hari-hari sebagai mahasiswa baru di kampus. Kadang saking semangatnya, walaupun tak ada mata kuliah pada hari itu, aku tetap meluangkan waktu untuk ke kampus dan menghabiskan waktu melatih kemampuan bahasa Arabku. Suasana yang kondusif dan mendukung karena aku bisa bertemu dengan mahasiswa asli Maroko serta mahasiswa asing dari berbagai negara. Aku pun mempunyai keinginan baru untuk belajar menguasai bahasa Perancis yang juga sebagai bahasa ke dua di Maroko.

Tepat sebulan kedatanganku di Maroko, saat semangat masih menggebu-gebu, aku mendapat kabar duka dari Makassar. Ayahku meninggal dunia. Hatiku rapuh, aku tak bisa melawan rasa sedih ditinggal Ayah. Dalam isak tangis, aku mengirimkan beliau doa dari tempatku berdiri. Hanya doa, karena keadaanku saat itu tidak memungkinkan untuk pulang ke Indonesia. Dan hingga saat ini, empat tahun sudah jasad ayah terkubur dibawah pusara namanya, belum juga aku menziarahi makamnya. Aku pun berniat, hal pertama yang akan aku lakukan setelah menyelesaikan program Master tahun 2016 nanti adalah menziarahi makamnya. Kembali, doaku haturkan untuk almarhum Ayah, semoga beliau tenang di alam sana dan amal ibadahnya diterima Allah SWT.

Hidup tetap berlanjut, Kawan! Suka, duka, bahagia, sengsara, semuanya tetap akan aku lalui. Saat bahagia tidak lupa untuk bersyukur, saat diuji sebaiknya bersabar karena ujian diberi agar bisa mengerti arti kebahagiaan. Kuliahku pun tetap berjalan seperti biasanya, bahkan dengan semangat yang lebih menggebu. Alhamdulillah, aku meraih gelar sarjana pertamaku dalam kurun waktu 3,5 tahun. Dan sekali lagi Alhamdulillah, aku diberi kesempatan untuk melanjutkan S2 di Universitas Qodi Iyad Marrakech.

“Rindu serindu-rindunya“, itulah yang paling cocok untuk mewakili perasaan rindu pada Ibu Pertiwi. Bahkan aku pun merindukan kendaraan umum seperti becak dan bemo yang tak pernah aku temui di sini. Tiba di luar negeri barulah saya sadar ternyata Indonesia begitu indah. Pulau, gunung, pantai, kebun hijaunya semuanya serba terbayang indah.

Terlepas dari semua polemik politik yang masih selalu menghantui negeri tercinta itu. Dibandingkan negara lain, Indonesia adalah salah satu negara terkaya tetapi jika boleh jujur, Indonesia negara kaya tapi miskin. Karena itu aku berharap suata saat nanti negeri yang paling kaya ini bisa mensejahterakan penduduknya.

Bangsa yang besar adalah bangsa yang menghormati jasa pahlawannya adalah ungkapan Ir. Soekarno dari pidatonya pada peringatan Hari Pahlawan 10 November 1961. Sosok Soekarno juga sangat dikenal di Maroko. Ketika diadakan Konferensi Asia Afrika di Bandung, Ir. Soekarno menjadi salah seorang yang mencetuskan kemerdakaan negara Maroko yang ketika itu berada dibawah penjajahan Perancis.

Sukmahadi di Maroko
Sukmahadi di Maroko

Karena itu Raja Muhammad V memberikan hadiah berupa pembebasan visa untuk warga Indonesia yang ingin berkunjung ke Maroko. Hadiah ini sebagai bentuk terima kasih atas jasa Ir. Soekarno. Tak hanya itu, nama Ir. Soekarno pun diabadikan menjadi nama jalan di Kota Rabat, ibukota Maroko saat ini. Disana juga terdapat Jalan Bandung dan Jalan Jakarta.

Hubungan bilateral antara Maroko dan Indonesia masih sangat baik hingga hari ini. Bisa dirasakan oleh pemuda-pemudi Indonesia  yang mengisi 15 kuota beasiswa dari pemerintah Maroko. Kami belajar bisa belajar gratis di Maroko dan menikmati kebudayaan serta keunikan negeri seribu benteng ini. Semoga kami kelak bisa kembali dengan membawa ilmu-ilmu yang bermanfaat dan juga semangat yang tetap membara untuk membangun Indonesia.

2 KOMENTAR

  1. Kisah yang sangat epic, semangat bro. Sedih mendengar kepergian ayahmu bro, dan keputusan yg luar biasa untuk tetap bertahan di perantauan! All the best to you 🙂

Tinggalkan Pesan Balasan