Berkah Ramadhan di Tanah Utsmani, Turki

Berkah Ramadhan di Tanah Utsmani, Turki

0
BAGIKAN
Masjid Agung Kocatepe, Ankara. Credit Photo by tr.wikipedia.org

Nasi hangat yang dihidangkan bersama cah kangkung, capcay, sampai sambal goreng kentang sebagai menu pembuka shaum di bulan Ramadhan tentu terdengar biasa saja di telinga kalian bukan ?. Tapi tidak bagi kami, mahasiswa-mahasiswi yang sedang berjuang mengenyam pendidikan diluar bumi pertiwi. Sajian penggugah selera tersebut bagaikan harta karun yang tak akan kami lewatkan.

Perkenalkan namaku Witsqa. Aku adalah salah satu mahasiswi kandidat sarjana di sebuah universitas negeri ternama yang terdapat di tanah Utsmani. Aku bertempat tinggal di ibu kota negara Turki, yakni di kota Ankara.

Inilah cerita Ramadhan pertamaku di tanah perantauan. Tempat yang jauh dari orang tua. Jauh dari teman-teman tersayang. Jauh dari yang namanya zona nyaman.

Tujuh belas jam bukanlah waktu yang sebentar bukan?. Ya, kira-kira 17 jam umat muslim yang tinggal dan berada di kawasan Turki diwajibkan menahan dahaga, lapar, serta hawa nafsunya dari terbitnya fajar hingga terbenamnya matahari di bulan suci Ramadhan. Masa summer solstice sedang merajai musim itu, musim panas yang bertepatan dengan rajanya bulan, Ramadhan. Summer solstice adalah fenomena dimana siang hari jauh lebih panjang dibandingkan dengan malam hari. Terbiasa shaum atau puasa dengan jangka waktu yang lebih pendek di tanah air, membuat kami mendapatkan tantangan lebih dalam melaksanakan ibadah shaum kali itu. Ditambah lagi, Ramadhan 1435 H kali itu bertepatan dengan musim panas yang terik mataharinya malu-tapi-mau menyeggol sekujur tubuh yang membuat peluhterkucur tiada henti.

Berbeda lingkungan tempat tinggal, budaya, serta kultur sedikit banyak mengubah kepribadian dan kebiasaan kami. Dikarenakan waktu imsak ditentukan sekitar pukul tiga dini hari dan matahari terbenam sekitar pukul delapan malam waktu setempat, yang kemudian dilanjutkan dengan ibadah shalat tarawih pada pukul sepuluh malam. Sehingga shalat tarawih yang selesai pada larut malam membuat kebanyakan penduduk lokal berusaha tidak terbuai dalam rayuan malam, kebanyakan berusaha untuk tetap terjaga hingga sahur menjelang. Kebiasaan penduduk lokal yang telah mendarah daging tersebut, layaknya virus yang sangat cepat menyebar kedalam tubuh, membuat kami, para muhajir pun terbawa akan kebiasaan pribumi tersebut.

“Huaaaaaah…..”, teriakku sambil merebahkan tubuh ringanku keatas kasur semi-empuk.

“Kenapa, Wits?”, tanya temanku penuh rasa penasaran.

“Kalau aja di Indo ya, pasti ibu udah masak cah kangkung favoritku sebagai menu pembuka shaum, kalau disini….”, belum sempurna kalimatku, temanku ini langsung menyerobot begitu saja memotong kalimatku.

“Hus!! Istigfar, Wits. Baru tengah hari nih. Masih jauh dari kumandang adzan Maghrib tauuu.”, temanku mengingatkan.

“I…i..iya. Maaf. Nostalgia doang kok. Kenangan indah sama si cah kangkung.”, sergahku tak mau kalah dan membela diri.

Sebenarnya karena kami sedang dalam masa liburan musim panas saja, aku dan salah satu teman Indonesiaku diizinkan untuk tinggal di satu apartemen yang sama sementara. Atas alasan agar bahasa Turki kami semakin fasih, kami tidak diizinkan untuk tinggal disatu apartemen yang sama. Alasan yang masuk akal.

Beginilah cerita kehidupan kami disini, yang baru saja mencicipi nikmatnya Ramadhan pertama di negeri dua benua. Karena dituntut untuk terjaga sampai sahur, barulah setelahnya kami memutuskan untuk istirahat sejenak setelah shalat Subuh. Siangnya, tak ada nyali sedikitpun bagi kami untuk bertatapan langsung dengan sang Surya. Layaknya vampire, selama terik matahari terus menyinari bumi utsmani bagian tengah, kami sangat segan untuk keluar dan memutuskan untuk tetap tinggal didalam apartmen. Biasanya ketika memasuki petang hari barulah kami beranjak untuk keluar dari sangkar emas nan nyaman kebanggaan kami.

Nikmatnya hidup sebagai seorang pelajar di tanah asing. Siapa bilang hidup di tanah asing itu menyusahkan? Khususnya bulan Ramadhan, rezeki buat kami terus mengalir. Alhamdulillah, selalu ada saja berkahnya.

1
2
3
BAGIKAN
Berita sebelumyaRamadhan dan Idul Fitri Pertama di Amerika Serikat
Berita berikutnyaSummer Ramadhan di Dresden, Jerman
Mojang Bandung berdarah asli Sunda. Saat ini mengenyam pendidikan Hacettepe University, Ankara, Turki, dengan jurusan Mathematic Science. Witsqa ini merupakan sosok yang cukup aktif di beberapa organisasi seperti Perhimpunan Pelajar Indonesia (PPI) di Ankara, Forum Lingkar Pena (FLP) Turki, Kelompok Pemusik Angklung (KPA) Ankara, dan masih banyak lagi. Witsqa juga merupakan pribadi yang menyukai tantangan dan hal baru dalam hidup.

TIDAK ADA KOMENTAR

Tinggalkan Pesan Balasan