Berkenalan dengan Penakluk 7 Puncak Dunia

Berkenalan dengan Penakluk 7 Puncak Dunia

3
BAGIKAN
Berkenalan dengan Penakluk 7 Puncak Dunia. Photo Courtesy by SatyaWinnie.com

Saya masih terbawa suasana saat lampu studio dinyalakan. Ujung mata masih basah mengingat Rob Hall yang terbujur kaku di punggung puncak selatan Everest karena sebuah perjuangan untuk mendaki puncak tertinggi di dunia. Film yang diangkat dari kisah nyata di tahun 1996 ini ternyata tak mudah dilupakan oleh para pendaki dunia. Sutradara Baltasar Karmour menjadikan film ini wajib nonton bagi siapa saja. Di awal cerita, keindahan panorama alam Himalaya ditampakkan dengan sempurna dibawah langit Nepal. Tiba di basecamp Everest, yang terasa justru berbeda. Ketika menonton film 5cm, saya merasa siap mendaki gunung. Everest 2015? Nyali saya ciut. Mengingat suhu dingin dan badai salju yang bisa datang kapan saja. Di Jerman sini, salju turun 3 hari saja bisa membuat malas kuliah.

Pagi ini, saya mendengar seorang kawan penyiar Radio PPI Dunia di program Keliling Indonesia. Dari balik speaker laptop, bincang-bincang SS Juni bersama narasumbernya mengingatkan saya kembali dengan film Everest dan pertemuan saya dengan narasumber tersebut di Bandung tahun lalu.

Radio PPI Dunia
Radio PPI Dunia

Pertengahan bulan Agustus 2015, saya berlibur ke Indonesia dan kembali melakukan perjalanan keliling Pulau Jawa sebelum benar-benar pulang ke Makassar. Alasannya cuma satu, melepas rindu kepada teman-teman mahasiswa rantau yang tersebar di seluruh Pulau Jawa. Dan juga menyapa kembali beberapa sahabat seperjuangan di Jerman yang telah lebih dulu kembali ke Indonesia.

Di Bandung, saya bertemu Hamka dan Qadri. Dua anak manusia yang seminggu ini tak sabar menunggu kepulangan saya, menanti kelanjutan ide dan visi misi dari sebuah komunitas yang ingin kita bangun bersama. Beberapa kali mandek karena memang tak mudah menyatukan sudut pandang dan (sok) idealismenya pikiran kami masing-masing.

Di suatu sore yang cerah, Hamka mengajak saya bertemu dua orang kawannya di sebuah warung kopi di bilangan Banceuy. Untuk meredam rasa penasaran saya, Hamka menjamin bahwa warung kopi ini berbeda dengan kafe-kafe lain di Bandung.

“Kita mau ketemu siapa sih?“, tanya saya kepada Hamka ketika kami memasuki warung kopi yang memang berbeda. Saya takjub dengan interior warung kopi ini. Pandai sekali pemiliknya menjaga kenangan di masa lalu, warung ini tidak tercemar geliat modernitas industri warung kopi. Ia masih setia menggunakan kursi jati untuk menjamu tamu-tamunya, bukan sofa empuk layaknya cafe pada umumnya. Dindingnya pun dipenuhi foto hitam putih kota Bandung di masa silam dan tak lupa wajah para pendirinya dari tahun ke tahun. Benar saja, warung ini dibuka pertama kali di tahun 1930 oleh seorang Hokkien, Yong A Thong, yang merantau dari Medan. Setelah berganti nama asli dari Chang Cong Se (Silahkan Mencoba), warung kopi yang di dindingnya tertempel sticker Trip Advisor ini pun diberi nama Purnama. Terletak di Jalan Alkateri, diapit oleh toko tumpukan gordyn dan kain.

Masih dalam suasana nostalgia, seolah-olah saya pernah hidup di era 50an, saya memesan kopi tubruk panas. Tergoda dari aroma kopi yang sepertinya sedang digiling bijinya di balik dapur warung ini. Seolah memang memaksa saya menikmati proses bertutur sapa alamiah tanpa perangkat teknologi. Dan secangkir kopi tentu terasa sepi tanpa kudapan roti selai srikaya. Maka, akan panjang pula cerita-cerita kami bersama dua orang kawan yang sebentar lagi akan tiba di warung ini.

Seorang perempuan dengan senyum lebar memasuki pintu kayu Purnama. Di bahunya terhampir tas ransel besar. Di belakangnya, berjalan seorang lelaki berbadan tegap juga dengan senyum yang tak kalah lebarnya. Mereka menghampiri meja kami.

“Halo, Satya!“, kata perempuan itu sembari mengulurkan tangan. “Ini Atan!“, ia menyebut nama lelaki yang datang bersamanya itu. Perkenalan itu berlanjut. Rupanya Satya adalah kawan Hamka, sesama traveller blogger. Merekalah orang-orang yang rajin mendengungkan keindahan alam Indonesia, sekaligus membuat ‘panas‘ para anak muda rumahan.

Dari Satya, saya banyak mendapat cerita tentang perjalanan ala traveler Indonesia. Saya mengagumi mereka yang bepergian menantang jalanan dengan segala keterbatasan transportasi maupun keamanan. Satu hal yang membuat saya iri setengah mati. Takdir membawa saya mengenal jalanan Eropa lebih dulu daripada negeri sendiri. Setengah benua itu telah terjejaki, tetapi belum khatam satu pulau pun di Indonesia.

Perempuan pecinta paragliding ini menyimpan mimpi untuk menjejaki seluruh provinsi di Indonesia. Dan sepertinya mimpi itu akan segera terealisasi dengan banyaknya undangan yang ia terima untuk memperkenalkan kota-kota pariwisata di Indonesia melalui tulisan-tulisan di blognya.

“Ini buku yang kau pesan, Ham!”, kata Atan sambil mengeluarkan dua buku tebal dari tas ranselnya. Aku melirik judulnya.

Menapak Tiang Langit: Pendakian 7 Puncak Dunia.

Begitu kalimat yang tertera pada muka buku yang lebih cocok disebut album itu. Berisi kumpulan kisah perjalanan empat orang anak bangsa menuntaskan mimpi mereka menjelajah alam. Bukan sekedar alam tropis penuh eksotis seperti Indonesia, kaki-kaki mereka telah mendaki serangkaian puncak dunia pencakar langit.

Puncak Carstenz Pyramid di Papua ditaklukkan pertama kali sebagai pembuka petualangan mereka. Setahun berikutnya, mereka menyapa atap Afrika di puncak Gunung Kilimanjaro, sekaligus menantang Gunung Elbrus di negeri beruang merah, Rusia. Dari Rusia, mereka melanjutkan penjelajahan ke titik paling selatan bumi. Gunung Vinson Massif, Antartika, yang garang dengan suhu minusnya itu dibelai manja di tahun yang sama.

Tibalah mereka di atap dunia, Everest menyambut dengan raungan longsoran salju yang nyaris mengubur jasad mereka di bumi Nepal. Tepat di hari Kebangkitan Nasional, perjuangan melawan badai itu terbayar dengan mengibarkan bendera Merah Putih di puncak tertinggi dunia. Sebagai penutup petualangan menapak tiang langit, Gunung Denali di Kutub Utara, Alaska, Amerika Serikat, mereka meninggalkan jejak di atas saljunya yang mengkilau.

Atan terus bercerita tentang isi buku yang lembarannya saya bolak-balik sedari tadi. Ia bercerita bagaimana cara bertahan hidup dengan kondisi suhu minus, menyelesaikan hajat alam dalam kantong khusus dan membawa kembali kantong tersebut sepanjang pendakian, perkara tak boleh membuang sampah biologi di gunung. Lalu menyantap makanan kaleng yang expired 5 tahun lalu. Makanan tersebut sengaja disiapkan sebagai stok cadangan untuk para pendaki Vinson Massif. Masih aman dikonsumsi karena tertimbun dalam kulkas abadi salju Antartika.

Dialah Janatan Ginting, mahasiswa Universitas Katolik Parahyangan Bandung yang dikisahkan dalam buku yang aku pegang. Janatan bersama empat teman kuliahnya, Sofyan Arief Fesa, Xaverius Frans, dan Broery Andrew Sihombing telah mencatat nama mereka sebagai orang Indonesia pertama yang berhasil menaklukkan 7 puncak dunia, termasuk Everest yang mahsyur karena dibuat filmnya.

Hari itu, saya bertemu dengan dua orang anak muda Indonesia yang tangguh dan penuh inspirasi. Dari mereka, saya belajar menggenggam mimpi, hingga nanti saya siap membumikan mimpi itu di langit Indonesia.

BAGIKAN
Berita sebelumyaZona Nyamanku Tertinggal Jauh di Belakang
Berita berikutnyaMahasiswa Rantau: Pesan Kebangkitan dari Jerman
Menyelesaikan pendidikan di salah satu universitas swasta di Malaysia di bidang Mechanical Engineering. Akhir musim dingin tahun 2012, ia melangkahkan kaki lebih jauh menuju Benua Eropa. Di sebuah universitas di wilayah North Rhein Westphalia, Jerman, ia melanjutkan studinya di jurusan Metallurgy and Metal Forming.   Pecinta pantai dan penikmat senja ini juga suka travelling. Ia menuliskan kisahnya mengunjungi berbagai negara di Eropa dan Afrika dalam sebuah blog.   "Tulis semua mimpi yang kau mau! Biar Tuhan yang menghapus, yang tidak baik untukmu"

3 KOMENTAR

  1. Ah rasanya baru kemarin kita ngopi-ngopi di Purnama ya Bey. Terima kasih sudah menuliskan ini yaaaaaaaa. Semoga kita bisa bertemu lagi dan sharing cerita perjalanan kehidupan yang seru-seru 🙂

    • Iyaa satyyyy… jd kangen bandung deh! Sukses terusss yaaaa.. Dtunggu tulisan2 perjalananmu yg selanjutnya 🙂

Tinggalkan Pesan Balasan