Bola Dunia

Bola Dunia

0
BAGIKAN
Credit: iurii/Shutterstock
Credit: iurii/Shutterstock

Ini cerita tentang Arian, seorang pemuda idealis berusia dua puluh tiga tahun. Lulusan cum laude—ilmu Geografi—dari sebuah universitas negeri ternama, juga incaran perusahaan-perusahaan yang sedang mencari tenaga kerja.

Arian punya banyak mimpi hebat. Contohnya? Mengelilingi Afrika, bekerja di organisasi sosial sekelas UNESCO, dan mengejar gelar master di tanah Eropa yang gemah ripah loh jinawi.

Namun tidak.

Kecintaan sekaligus kegeraman Arian terhadap dunia pendidikan membuat ia menunda; Arian lebih memilih mengabdi di pelosok Indonesia, di suatu tempat asing di mana listrik hanya dongeng tidur seorang ibu kepada anaknya.

Ini juga cerita tentang Angkasa, seorang pelajar kelas satu SMP yang besar di sudut terpencil Indonesia, dalam lingkungan keluarga yang kurang mampu secara finansial. Bapaknya sedang berlayar entah ke mana, ibunya sakit, dan adik-adiknya berjumlah empat.

Bagi Angkasa, masa depan hanya ada dua: 1) berlayar seperti bapaknya, atau 2) menjadi nelayan. Seandainya ia punya modal, sebenarnya profesi penjaja suvenir juga terbuka.

Tapi, pilihan lain datang begitu semesta mempertemukannya dengan Arian; seorang bapak guru yang mengenalkannya pada benda plastik bundar yang berukuran kecil, tapi memuat banyak tempat. Bola dunia.

Suatu hari, dalam salah satu pelajaran di pagi hari yang cerah, Angkasa jatuh cinta; bukan pada Maemunah teman sebangkunya, melainkan pada penjelasan Arian tentang Eropa.

Waktu itu, di dalam kelas berlantai tanah dan di tengah kerumunan anak berseragam lusuh yang terkagum-kagum, Arian menunjuk berbagai titik di bola dunia. Mulai dari garis biru tipis yang membelah Paris menjadi dua bagian (Sungai Seine), segitiga di Swiss yang menunjukkan Pegunungan Alpen, hingga sebuah titik di barat Jerman bertuliskan ’Aachen’.

Kepada anak-anak yang ribut mengerumuninya, Arian bertanya, ”Ada yang tahu siapa presiden ketiga negara kita?”

”Pak Sukarno!”

”Bu Megawati!”

”Hmm… siapa, ya?”

Angkasa-lah yang menjawab dengan benar, ”Pak Habibie.”

”Betul! Hebat, Angkasa!” seru Arian senang. ”Nah, Aachen adalah kota tempat Pak Habibie berkuliah dulu, sampai bisa menjadi insinyur yang pernah membangun pesawat untuk Indonesia. Beliau…”

Deg.

Penjelasan Arian masuk ke telinga kanan Angkasa, lalu keluar lagi lewat telinga kiri tanpa mau repot-repot singgah. Pasalnya, Angkasa sedang terpelongo, telanjur sibuk dengan pikirannya sendiri. Apa? Pesawat terbang?

Untuk Indonesia?

Tentang pesawat terbang, Angkasa tidak tahu banyak. Melihatnya secara langsung pun ia belum pernah. Ia hanya tahu bahwa, 1) pesawat adalah alat transportasi udara yang mahal, dan 2) bapaknya tergila-gila pada alat itu. Makanya ia diberi nama ’Angkasa’, tempat pesawat berlalu lalang.

Angkasa masih ingat betul. Pada suatu sore, sambil minum kopi di bangku reyot di depan rumah, Bapak berkata, ”Angkasa, semoga suatu hari nanti kamu jadi orang sukses, bisa menyantuni anak yatim dan mengajak Bapak naik pesawat.”

Sore itu, Angkasa mengiyakan saja agar ia bisa cepat main layangan. Tapi, kali ini, ia ingin merealisasikan harapan tersebut, bahkan mengubahnya menjadi harapan yang lebih hebat: ia akan belajar untuk membuat pesawat!

”Pak Arian, saya pengin buat pesawat!” sela Angkasa tiba-tiba, mengagetkan seisi kelas. ”Saya juga pengin ajak Bapak saya naik pesawat!”

Deg. Deg.

Usai meneriakkan kalimat itu, jantung Angkasa berdebar kencang. Bukan karena takut Arian akan marah, melainkan karena baru kali ini ia merasa bebas.

Baru kali ini ia berani bermimpi.

Arian tersenyum, menyadari bahwa ada seorang murid spesial di kelas beratap rumbia ini. ”Kalau begitu, kamu harus sekolah setinggi-tingginya. Kalau perlu, sampai ke Jerman.”

”J-Jerman?”

”Iya, negara Eropa tempat kota Aachen terletak. Jerman terkenal dengan pendidikan dan teknologinya yang maju,” jawab Arian. ”Tapi, kamu harus belajar.”

Sejak percakapan itu, hidup Angkasa berubah.

Jika dulu Angkasa malas membaca, kali ini buku adalah sahabatnya. Terutama buku-buku fisika maupun geografi yang ia pinjam dari Arian. Ia pelajari semuanya hingga hapal luar kepala, bahkan hingga nilai-nilai akademisnya melonjak drastis.

Hidup Arian juga ikut berubah. Melihat perjuangan Angkasa, ia jadi percaya bahwa keajaiban itu nyata; Angkasa, muridnya yang sampai sekarang belum pernah menginjakkan kaki di bandara, akan membangun pesawat suatu hari nanti; dan ia, orang yang sekarang berdomisili di daerah tertinggal demi idealisme, akan mewujudkan semua mimpi gilanya.

Kepada: Angkasa

Dari: Pak Arian

”Selamat ulang tahun, Nak.

Ini buku tentang studi di Eropa. Bukan hadiah yang mahal, tapi Bapak harap bermanfaat.

Jangan pernah berhenti belajar.

Ada pesawat yang menunggu untuk dibangun.”

Hari berganti hari, bulan berganti bulan, tahun berganti tahun.

Kini, Angkasa sedang mempersiapkan diri untuk melanjutkan SMA di Pulau Jawa. Arian sendiri makin sibuk dengan aktivitas mengajarnya, juga memprakarsai program pendidikan lainnya.

Begitu-begitu saja, sampai akhirnya, sebuah tawaran wawancara mendatangi Arian; temanya adalah perubahan yang diciptakan oleh anak muda.

Wawancara tersebut dilakukan pada sebuah hari Selasa di ruang kelas Angkasa, tepat setelah jam sekolah berakhir. Seorang kameramen dan seorang jurnalis wanita-lah yang melakukannya.

”Selamat siang, Mas Arian. Nama saya Herda,” kata sang Jurnalis.

Kameramen, di sela-sela kegiatannya mengatur kamera, menimpali santai, ”Saya Reza.”

Arian mengangguk. ”Selamat siang.”

”Bisa kita mulai wawancaranya?”

”Silakan.”

Pertanyaan demi pertanyaan—yang ringan, bahkan cenderung klise—pun diajukan. Arian menjawabnya dengan santai, bahkan sambil sesekali bercanda. Sampai akhirnya…

”Sepuluh tahun dari sekarang, di mana Anda melihat diri Anda sendiri?”

Arian membuka mulut, namun akhirnya ia katupkan lagi. Ia sudah menjalani berpuluh-puluh wawancara, namun pertanyaan ini tidak pernah muncul. ”…maaf?”

Herda memperbaiki posisi duduknya, bahasa tubuh yang mengisyaratkan bahwa jawaban Arian akan jadi menarik. ”Sepuluh tahun lagi, apakah Anda akan tetap mengajar di sini?”

”…”

Arian termenung terlalu dalam, memikirkan pertanyaan yang sejujurnya sudah lama ia hindari. Kenapa manusia harus selalu memilih? Tidak bisakah mereka, sekali saja, memiliki semua?

Wawancara sudah selesai. Herda dan Reza telah pamit pulang. Tinggal Arian sendiri di dalam kelas, merasa linglung. Kelinglungan itu bertambah besar waktu pintu kelas berderik, diikuti oleh masuknya seseorang: Angkasa.

Jika biasanya Angkasa menenteng sebuah buku, kali ini ia menenteng segelas air putih untuk Arian. Ia antarkan gelas itu ke meja guru sambil berkata, ”Diminum, Pak.”

”Terima kasih.”

Sunyi. Sedetik, dua detik…

Angkasa berujar sungkan, ”Saya dengar pertanyaan terakhir tadi, Pak.”

Arian mengangguk kecil. Dinding kayu tipis yang membatasi kelas dengan dunia luar jelas tidak bisa diandalkan untuk menjaga privasi. ”Tidak apa-apa.”

Sunyi lagi. Sedetik, dua detik, tiga detik…

”Sa-saya dan teman-teman pasti akan merasa kehilangan kalau Bapak tidak mengajar lagi,” kata Angkasa sambil menunduk. ”Tapi, kalau ada hal lain yang harus Bapak lakukan, tidak apa-apa, Pak.”

”Tugas Bapak belum selesai.”

”Maaf, Pak. Saya kira, tidak ada ujung dalam membangun pendidikan.”

Arian terperangah.

10 tahun kemudian…

Duk.

Arian menaruh—setengah membanting—backpack-nya ke lantai, menimbulkan debam kecil yang terdengar samar. Lalu, tanpa mengeluarkan isinya lebih dulu, ia langsung merebahkan diri di atas kasur. Sekujur tubuhnya pegal-pegal. Pasalnya, ia baru saja menempuh perjalanan pulang dari benua lain.

Afrika.

Setahun yang lalu, setahun sebelum kuliahnya di Jerman selesai, Arian berangkat ke Afrika. Niat awalnya hanya untuk traveling sebagai backpacker, namun akhirnya ia malah menetap di sana. Ia ambil cuti kuliah yang panjang demi menjadi guru (lagi) di sudut Afrika. Tidak lupa pula ia memuaskan diri dengan berwisata safari dan menjelajahi kota-kota eksotis sebelum akhirnya kembali ke Jerman.

Ya, salah satu mimpi terbesarnya sudah terwujud.

Tapi masih ada mimpi lain yang harus diselesaikan: kuliahnya.

Masih ada hari, pikir Arian. Sekarang, istirahat dulu.

Tapi, sebelum ia sempat memejamkan mata, telepon rumahnya berdering kencang. Arian sempat mengabaikannya sekali, namun akhirnya ia beranjak bangun dan mengangkatnya. ”Halo?”

Guti Morgen!

Arian mengernyit. Mengucapkan selamat pagi meskipun sudah malam dan mengganti ’guten’ dengan ’guti’? Orang di seberang telepon pastilah Michelle, sahabat sekaligus tetangganya yang eksentrik. ”Ya, halo?”

”Sekarang, kamu punya janji untuk bertemu dengan seseorang, kan?”

Oh, itu, pikir Arian malas. Seminggu yang lalu, seorang perempuan memang sempat menghubunginya via telepon untuk bertemu. Perempuan itu ingin memakai jasa Arian untuk menerjemahkan sebuah dokumen, katanya. ”Iya, tapi sepertinya bisa ditunda. Aku terlalu lelah. Lagipula, dia belum datang.”

“Orang itu ada di apartemenku sekarang. Tadi, kamu belum pulang,” kata Michelle ramah.

”Jujur, aku tidak punya tena—”

”Selelah-lelahnya kamu, kamu harus tetap bertemu dengannya,” kata Michelle dengan nada usil. ”Psst, dia membawa kejutan!”

Arian mengernyit. Kejutan? ”Apa?”

”Kamu akan tahu sendiri.”

Setelah berbasa-basi sebentar, sambungan telepon pun terputus. Arian, mengabaikan keinginannya untuk lanjut beristirahat, berjalan menuju ruang tamu, lalu menunggu sambil bertanya-tanya, kejutan macam apa yang dibawa oleh orang asing ini?

Tok tok tok….

”Ya, sebentar,” balas Arian sambil beranjak dari sofa, lalu membuka pintu dengan tergesa. ”Anda aka—”

Arian terpaku.

Di depannya, seseorang berdiri. Bukan perempuan asing berdarah Jerman yang ingin menerjemahkan dokumen, melainkan seorang laki-laki berkulit sawo matang dan berwajah ramah—wajah yang sepertinya pernah ia lihat dulu.

Tapi siapa?

”Selamat malam, Pak Arian,” sapa orang itu sambil mencium tangan Arian, membuat Arian ternganga heran. Kemudian, sambil mendongak, orang itu berkata, ”Saya murid dari pelosok Indonesia yang pernah berjanji akan membuat pesawat.”

Deg.

Mendadak, Arian seperti ditampar oleh kenangan masa lalu, waktu ia membawa bola dunia ke dalam kelas tak layak huni, lalu seorang murid berseragam lusuh berteriak bahwa ia akan membangun pesawat.

Angkasa….

”Saya sudah sampai di Jerman, Pak,” kata Angkasa lirih, penuh haru.

Arian tidak mampu berkata-kata. ”K-kamu—”

”Sebentar lagi, saya akan membangun pesawat itu.”

”…persis seperti yang kamu m-mimpikan dulu?”

”Persis.”

Itu dia cerita tentang dua anak muda yang dipertemukan untuk jadi bukti: tidak ada mimpi yang terlalu tinggi, tidak ada semangat yang terlalu besar, dan tidak ada tempat yang terlalu besar untuk dijelajahi.

VIANur Azizah Maharani
BAGIKAN
Berita sebelumyaMimpi Gisela
Berita berikutnyaAjari Kami Menjadi Bangsa yang Terdidik
MahasiswaRantau.com adalah sebuah website yang menjadi media bagi Mahasiswa Indonesia yang sedang menempuh pendidikan di luar kota atau luar negeri.

TIDAK ADA KOMENTAR

Tinggalkan Pesan Balasan