Budaya Jerman : “Manajemen Waktu Di Ujung Pintu”

Budaya Jerman : “Manajemen Waktu Di Ujung Pintu”

1
BAGIKAN

Lari. Bukanlah hal menarik bagi saya, tidak seperti sebagian orang yang sengaja membeli sepatu jutaan rupiah untuk bisa berlari kencang, menantang diri di track tertentu, lalu berlomba-lomba menjadi juara satu. Akan tetapi, saya harus tetap berlari, setidaknya untuk mengejar jadwal kereta, mengejar jadwal kuliah, atau sekedar memastikan supermarket masih terbuka.

Yah, itulah Jerman. Semua peraturan berjalan tepat waktu. Tidak akan ada masinis kereta yang mau berbelas kasih jika kamu terlambat 1 menit pun. Untuk seorang mahasiswa Indonesia seperti saya, yang notabenenya masih memegang budaya jam karet khas Indonesia, ini terlalu kejam. Bagaimana mungkin, supir bus tega meninggalkan saya, hanya karena saya terlambat sekian detik dan pintu bus sudah terlanjur ditutup. Tiket yang harganya juga lumayan, terpaksa hangus dan harus beli yang baru. Bukan sekali dua kali ini terjadi pada saya.

Khairul Faiz
Khairul Faiz

Manajemen Waktu di Ujung Pintu

Kata orang bijak, jangan jadi domba di kandang singa, belajarlah menjadi singa. Yah, saya tidak punya pilihan lain selain harus belajar menjadi orang Jerman. Belajar disiplin menggunakan waktu. Saya pun mulai menata waktu saya. Setiap kali hendak berpergian, saya merancang itinerary waktu yang akurat. Selalu saya siapkan waktu 30 menit sebelum keberangkatan.

Orang Jerman bukan kejam, mereka sangat menghargai waktu. Yang saya bisa pelajari adalah  semua aturan waktu, ada di ujung pintu. Misalnya, pintu kereta akan tertutup tepat waktu, sehingga yang terlambat naik, akan ditinggalkan. Begitu pula pintu masuk supermarket, yang tertutup tepat waktu. Tidak ada pengunjung yang bisa masuk semau-maunya. Bahkan di kampus saya, ada professor yang pintu ruangannya tidak bisa di buka dari luar, sehingga mahasiswa yang terlambat, tidak akan bisa masuk.

Time is Money

Mereka sangat menghargai waktu. Kebanyakan institusi yang melayani publik, biasanya menerapkan appointment system. Tidak ada pelayanan dadakan, semua harus bikin janji terlebih dahulu. Mulai dari bank, asuransi, dokter praktek, rathaus (kantor walikota), kantor imigrasi bahkan rumah ibadah sekalipun. Jangan sekali-sekali buat janji/appointment, tapi tidak ditepati. Konsekuensinya, nanti akan dipersulit jika buat janji yang kedua kalinya. Di kantor urusan dormitory tempat saya bahkan, akan mendenda sebesar 35 euro jika kita datang terlambat, tidak sesuai appointment yang kita buat sebelumnya. Alasannya simple, mereka sudah membuang waktunya untuk menunggu dan kita harus membayar untuk itu. Jika dibandingkan dengan Indonesia, jangankan terlambat, kadang sudah buat janji tapi malah lupa untuk datang. Ironis memang.

Dunia tanpa “menunggu”…

Nah, mungkin manajeman waktu yang diletakkan di gagang pintu ini juga bisa diterapkan di Indonesia. Jika semua pintu tertutup tepat waktu, mungkin kita akan terbiasa disiplin menggunakan waktu. Jangan heran, jika jam kerja mereka sedikit tapi produktivitasnya jauh lebih tinggi jika dibandingkan dengan Indonesia. Mereka hampir tidak membuang waktu semenit pun untuk menunggu. Kasir di supermarket contohnya, mereka tidak akan tinggal diam ketika tidak ada pelanggan yang hendak membayar, mereka sibuk menata barang, mengecek persediaan, bahkan mengepel lantai supermarket.  Profesi lain pun begitu. Polisi, dokter, dosen, semua tidak mau membuang waktunya sia-sia. Yah, saya selalu kagum dengan budaya ini.

1 KOMENTAR

Tinggalkan Pesan Balasan