Cinta Lama Bersemi Kembali

Cinta Lama Bersemi Kembali

0
BAGIKAN
Juniatin Bersama Pemain Gamelan di Jerman

Entah kenapa hanya itu yang terlintas di benakku ketika aku bercengkrama kembali dengan Gamelan di Jerman. Alat musik khas Jawa tersebut sangat akrab di hati ini karena mengingatkanku akan masa kecil dan desa asalku, Kebasen di Kabupaten Banyumas, Jawa Tengah. Riwayat almarhum Mbah Kakung sebagai dalang membuatku ingin sekali belajar Gamelan sejak saat kecil, almarhum Pakdhe juga mengikuti jejak Mbah Kakung yang mencintai dunia wayang. Bapak Ibu pun selalu mengajakku nonton wayang saat sedang ada pertunjukan, baik langsung maupun di TV atau radio. Almarhumah Mbah Putri juga mantan Pesinden yang selalu menyanyikan lagu Jawa dan Macapat saat mau tidur ketika aku kanak-kanak.

Jadilah aku menyukai gamelan sejak kecil, walaupun hanya sekedar bermain saja. Lalu saat SMA di Purwokerto aku terlibat di grup Karawitan sekolah dan mulai pentas di beberapa kesempatan bersama teman-teman yang lain. Bahkan sempat kami memadukan musik Gamelan, Band modern, perkusi, teater, dance tradisional juga modern dalam satu pertunjukan.

Januari 2012, setelah lulus SMA, aku melanjutkan kuliah ke Jerman. Sampai akhirnya aku kuliah Teknik Mesin di Bonn Rhein Sieg University. Aku berharap ada kesempatan lagi bermain gamelan karena gamelan milik Almarhum Pakdhe sudah dijual. Katanya, kalau lihat Gamelan, Budhe jadi ingat Pakdhe terus. Saat libur lebaran 2014, selama sebulan di Indonesia pun ada perasaan kosong di hati melihat ruangan Gamelan yang kosong. Sejak saat itu dalam pikiranku, bermain Gamelan kembali adalah sebuah kegiatan langka karena aku tak tahu di mana lagi aku bisa menemukan Gamelan. Ilmuku tentang Gamelan pun masih sedikit, masih seputar Lancaran. Aku belum belajar jenis lagu Ketawang dan Ladrang.

September 2014 tak sengaja aku melihat foto Pak Sukri, salah satu teman di Bonn yang sedang berpose bersama Gamelan dengan teman Jermannya. Beliau adalah dosen Ilmu Politik Universitas Hassanudin Makassar yang sedang studi doktor di Uni Bonn. Aku langsung semangat tanya Pak Sukri, siapa yang punya Gamelan. Dapatlah aku satu nama, Ibu Tieneke Parartini. Beliaulah pemimpin dari Siegener Gamelan Orchester alias Gamelan Orkestra dari kota Siegen. Aku langsung melamar menjadi pemain gamelan dan Alhamdulillah menjadi pemain Saron, bahkan langsung diajak ikut konser di Celle, kota kecil dekat Hanover, Niedersachsen tanggal 14 Maret 2015. Tanpa pikir panjang aku setuju dan mulai ikut latihan rutin sejak tanggal 14 November 2014 di Siegen.

Ibu Tieneke berasal dari kota Solo dan yang membuat aku speechless dan sangat terharu adalah instrumen Gamelan miliknya lengkap, mulai dari Gong yang segede-gedenya, Bonang, Saron, Kenong, Gender, Slenthem dan masih banyak yang lain. Koleksi lagu gendhing Jawa juga banyak sekali. Pokoknya nggak kebayang deh ngangkut itu Gamelan dari Indonesia ke Jerman, Masya Allah. Pemain Gamelan-nya pun orang Jerman. Ada yang masih 16 tahun sampe kakek-kakek. Cuma Ibu Tieneke dan aku yang asli Indonesia. Mereka bermain gamelan sangat bagus, aku kalah bagus pokoknya. Malu rasanya mereka pada pinter main gamelan, akunya masih begini. Kegiatan grup Gamelan ini juga pernah dimuat di surat kabar setempat dan sering diundang untuk tampil di acara-acara tertentu baik di dalam maupun luar kota.

Musik als Brückenschlag zu den verschiedensten Menschen
Musik als Brückenschlag zu den verschiedensten Menschen

Waktu Ibu Tieneke aku ceritakan tentang Almarhum Mbah Kakung dan Almarhum Pakdhe, beliau berkata, “Ya sekarang belajar Gamelan nya sama Ibu aja yaa!”, Huaaaaaaaa, aku rasanya pengin nangis haru waktu itu. Aku nggak nyangka kembali bersama Gamelan di tempat yang tak terduga. Itu membuat aku makin bersyukur, Allah mempertemukan aku dengan orang-orang yang mengobati rasa rinduku pada Indonesia dan menambah rasa cintaku pada Indonesia karena dengan pengalaman Ibu Tieneke yang memboyong Gamelan dari Indonesia ke Jerman membuatku yakin dan percaya bahwa budaya Indonesia tak akan pernah mati dan akan selalu “dipuja-puja bangsa”. Aamin.

Ayo, sebagai generasi muda, cintai budaya daerahmu. Kalau bukan kita, siapa lagi yang akan melestarikan budaya. Budaya merupakan identitas bangsa. Mari berjuang, berkaryalah demi Indonesia yang lebih baik. 🙂

“Musik als Brückenschlag zu den verschiedensten Menschen : In Siegen ist hierfür das Gamelanorchester als ein Beispiel“. Begitu kutipan dari majalah yang memuat kegiatan grup Gamelan Siegen, yang berarti “Musik sebagai penghubung antar manusia dengan latar belakang yang berbeda-beda, salah satu contohnya adalah grup Gamelan di Siegen“.

BAGIKAN
Berita berikutnyaDoa & Usaha: Jangan Berhenti Dengan Dua Hal Itu
Mahasiswi Bachelor jurusan Teknik Mesin di Bonn-Rhein-Sieg University of Applied Sciences berasal dari Banyumas-Purwokerto, Jawa Tengah. Gadis kelahiran 19 Juni 1993 ini memiliki hobby jalan-jalan murah meriah, membaca dan tertarik pada gamelan Jawa. Baru saja kembali dari Jerman.

TIDAK ADA KOMENTAR

Tinggalkan Pesan Balasan