Daylight Saving Time (DST)

Daylight Saving Time (DST)

0
BAGIKAN
Maret 29, 2015 Pukul 01.00. Perbedaan waktu Eropa dan Jakarta menjadi 5 jam, sebelumnya adalah 6 jam. Kenapa? Daylight Saving Time #DST

Halo kawan Rantau!

Selamat pagi dari daratan Eropa yang hari ini masih mendung! Eh, pagi ini terbangun berasa ada yg aneh, coba tebak? Yup, jam di dinding ternyata telat satu jam dibanding dengan jam di hape/laptop! Tanya kenapa? Karena hari ini adalah Daylight Saving Time untuk wilayah Eropa dan sekitar.

Apa itu Daylight Saving Time (DST)? Yuk, ikuti ulasannya dari Admin yang sekarang ini berada di Jerman ^_^

Daylight Saving Time adalah percepatan waktu selama satu jam sebagai tanda masuknya waktu musim panas, atau dikenal juga dengan Summer Time. Kebalikannya, saat Daylight Saving Time ini dinonaktifkan, berarti waktu melambat selama satu jam atau balik lagi ke waktu sebelumnya, menjadi pertanda juga musim dingin semakin mendekat, dikenal dengan Fall/Autumn Time.

Jadi, perbedaan waktu antara Jerman dan Indonesia sekarang ini, di bulan Maret 2015, adalah 5 jam. Sebelumnya perbedaannya adalah 6 jam. Buat kawan Rantau yang berada di wilayah DST, kalo mau nelpon ke Indonesia ingat-ingat waktu yaa.. biar nelponnya ga pas tengah malam :)))

Kenapa ada Daylight Saving Time? Biar ngerti, kita bahas dulu mengapa pergantian musim ini bisa terjadi! Penyebab utamanya adalah adanya gerak revolusi bumi terhadap matahari. Hayoo, masih ingat pelajaran IPA waktu SD ga? Hehehe! Karena adanya pergerakan bumi mengelilingi matahari ini, menyebabkan terjadinya pergantian musim untuk wilayah bumi bagian utara dan selatan. Sumbu rotasi bumi miring sebesar 23,5 derajat saat mengelilingi matahari, akibatnya sisi-sisi bumi mendapat pancara matahari tidak sama banyak. Karena itu terjadilah siang dan malam, dan juga pergantian musim untuk wilayah bumi bagian utara dan selatan. Kita bahas satu-satu lebih detail yaa.. Yuk, lanjuuttt!

Pergantian Musim

Pada bulan Maret seperti ini, saat sinar matahari berbentuk sudut 90 derajat di wilayah khatulistiwa, wilayah bumi bagian utara akan memasuki musim semi (Spring Equinox) dan bagian selatan memasuki musim dingin. Ini terjadi karena bumi bagian utara perlahan akan condong menghadap matahari. Siang pun berangsur-angsur menjadi lebih lama dan puncaknya nanti terjadi di bulan Juni (Summer Solstice), saat inilah wilayah bumi bagian utara memasuki musim panas. Peristiwa sebaliknya terjadi di wilayah bumi bagian selatan yang secara perlahan bergerak menjauhi matahari. Saat itulah, di bagian selatan perlahan memasuki musim gugur (Autumn Equinox) , karena berkurangnya pancaran sinar matahari. Dan berada di puncak dingin berada di bulan Juni (Winter Solstice).

Mudahnya, mari membayangkan dua benua ini, Eropa dan Australia. Bulan Maret seperti ini, di Jerman sedang memasuki musim semi. Sebentar lagi tulip-tulip di Belanda akan bermekaran. Dan, musim panas di Australia akan berakhir, berganti dengan musim gugur. Kawan Rantau yang berada di Australia dan sekitarnya, ayoo, keluarin jaket tebalnya hehehehe.

Pergantian Siang dan Malam

Saat musim dingin, malam akan lebih lama daripada siang. Biasanya, matahari akan terbit pukul 08.00 dan tenggelam pukul 17.00. Pas nih untuk bulan Ramadhan yang biasanya dimulai di bulan Juni-Juli, puasanya jadi lebih pendek hehehe. Wilayah yang beruntung saat bulan Ramadhan itu adalah wilayah bumi bagian selatan seperti Australia, New Zealand, Amerika Selatan, dan Afrika Selatan. Saat musim panas, malam akan lebih pendek daripada siang. Kebalikannya. Pukul 05.00 matahari udah terbit dan mulai gelap lagi pukul 20.00. Karena itulah kawan Rantau yang berada di sekitar Eropa harus lebih pandai lagi mengatur waktu saat bulan Ramadhan, mereka harus puasa hingga 18 jam lho! Tp klo ga sanggup, ntar puasa Qodho‘ aja di bulan September – Desember :))

Trus kapan Daylight Saving Time ini terjadi? Lanjuuuuttt..

Daylight Saving Time (DST) ini terjadi di hari memasuki pergantian musim. Misalnya, musim dingin di Jerman saat ini sudah hampir berakhir. Sejak beberapa minggu lalu, suhu udah mulai menghangat walaupun masih sering hujan. Tetapi ga sedingin di bulan Desember-Januari lalu. Matahari pun makin lama, makin cepet terbit.

Karena itulah, Jerman mengaktifkan sistem Daylight Saving Time untuk memanfaatkan waktu terang. Jam dipercepat selama satu jam agar jam kerja menjadi lebih efektif. Dampaknya, yang tadinya jam 05.00 masih bisa tidur nyenyak, jadi terbangun karena jam segitu matahari udah terbit. Waktu akan dikembalikan seperti semula, mundur selama satu jam, nanti di bulan Oktober 2015. Penderitaan kawan Rantau di Jerman akan dimulai nih.. mereka bisa ngerasain berangkat ke kampus jam 07.00 pagi saat masih gelapnya. Dan pulang jam 17.00, udah gelap lagi! Ga jarang kena Winter Blues juga sih, bawaannya malas, lesu, dan ngantuk mulu karena jarang kena matahari. Hehehe

Gimana sejarah Daylight Saving Time ini?

DST ini adalah ide dari seorang penemu asal Amerika, Benjamin Franklin, di abad 17 lalu. Walopun bercanda, ia berpendapat bahwa orang-orang bisa menghemat penggunaan lilin, karena waktu itu belum ada listrik, dengan cara membuat mereka keluar rumah lebih awal di pagi hari dan memanfaatkan cahaya matahari sebagai sumber penerang yang alami. Meskipun yang pertama kali mencetuskan ide itu adalah Amerika, tetapi Jerman menjadi negara pertama yang mengaplikasikan Daylight Saving Time. Jerman memanfaatkan sistem ini untuk menghemat bahan baka di sektor industri mereka saat Perang Dunia I. Kemudian diikuti oleh negara tetangga seperti Belanda, Perancis, Denmark, dll.

Sayangnya di Amerika, penggunaan Daylight Saving Time pada masa perang menjadi inkonsisten. Setiap negara bagian berhak menentukan sendiri waktu Daylight Saving Time. Dan hingga hari ini, penggunaan Daylight Saving Time ternyata masih kontroversial.

Beberapa pihak masih tidak setuju dengan system ini, alasannya pemanfaatan jumlah cahaya matahari untuk jam kerja hanya jelas terasa di wilayah yang jauh dari garis equator seperti Norwegia dan Afrika Selatan. Karena di wilayah Norwegia dan Afrika Selatan, panjang waktu malam dan siang bisa berbeda cukup lama. Bahkan di Norwegia bisa terjadi Midnight Sun, yaitu matahari masih bersinar pukul 00.00.  Karena mereka pun beranggapan Daylight Saving Time bisa memacu penyakit serangan jantung akibat pola tidur yang berubah.

Daylight Saving Time juga dianggap sebagai pemicu kejahatan karena masyarakat harus berangkat kerja saat hari masih gelap. Negara Guatemala tidak mengikuti Daylight Saving Time sejak tahun 2008 karena alasan keamanan. Salah satu pihak yang juga ikut protes dengan sistem Daylight Saving Time adalah peternak sapi lokal. Katanya mereka terpaksa harus mengumpulkan susu lebih awal, padahal sapi-sapinya belum siap untuk memproduksi susu. Hehehe lucu juga yaa maksa sapi-sapi itu untuk bangun pagi biar bisa diperah susunya :)))

Nah, gimana caranya agar bisa tetap fit dengan perubahan waktu di Daylight Saving Time? Saat Daylight Saving Time badan pastinya harus beradaptasi lagi dengan perubahan waktu, gimana agar badan bisa tetap bugar?

  1. Berjemur 15-30 menit per hari di bawah cahaya matahari. Atau minum suplemen vitamin D jika tidak ada matahari, ini biasanya saat winter.
  2. Lari sore. Selain untuk cuci mata, refresh otak dan badan, lari sore juga bisa membuat tidurmu lebih berkualitas saat malam.
  3. Kehilangan waktu tidur bisa membuat lebih cepat capek saat siang hari, sempatkan tidur siang max. 20 menit “Power Nap”
  4. Atur jadwal makan, biasanya badan jadi lebih cepat lapar saat Daylight Saving Time.
  5. Lakukan pengaturan Date & Time handphone ke moda Automatic. Jangan sampai telat kuliah karena liat jam dinding msh jam 7 pagi.

Beruntunglah kawan Rantau yang berada di Indonesia/wilayah garis khatulistiwa, siang dan malam memiliki waktu yang sama panjang. Waktu berjalan secara adil dan konsisten, siang 12 jam, malam pun 12 jam. Tapi, jangan dijadiin alasan untuk tidak merantau lebih jauh yaa.. Merantaulah ke negara-negara yang memiliki empat musim sepanjang tahun dan nikmati gimana rasanya memakai jenis pakaian berbeda setiap empat bulan 🙂

IF WE SAW THE SUN RISING ONCE IN A YEAR, THERE WOULD BE PARTY EVERYWHERE FOR IT. WE WOULD CELEBRATE IT. BUT BECAUSE IT HAPPENS EVERYDAY, WE COMPLETELY TAKING IT FOR GRANTED. BE GRATEFUL, INDONESIA!!

WWW.MAHASIWARANTAU.COM

TIDAK ADA KOMENTAR

Tinggalkan Pesan Balasan