Diplomat Cilik Di Negeri Kanguru

Diplomat Cilik Di Negeri Kanguru

0
BAGIKAN
Diplomat Cilik di Negeri Kanguru

Jika harus menjabarkan pengalaman saya selama 4.5 tahun di Australia, sepertinya akan menghabiskan banyak halaman di laptop saya, namun ada beberapa hal yang sangat membekas di ingatan saya ketika sekolah di Australia, mulai dari yang enak, tidak enak, hingga 1 pengalaman yang menjadi titik balik hidup saya!

Saya rasa semua orang di Sekolah tahu siapa saya, bukan nama saya, tapi mereka tahu saya adalah orang Indonesia dan beragama Islam, penampakannya sih gitu karena saya memakai kerudung. Banyak yang menanyakan mengapa saya memakai kerudung, banyak yang menanyakan mengapa saya membawa nasi setiap hari (well, setelah sekian lama di Australia, akhirnya saya semakin sering membawa roti daripada nasi, bukan apa-apa, umi saya mengatakan lebih gampang menyiapkan roti daripada nasi), menanyakan soal Indonesia. Saat awal di Aussie banyak yang menanyakan hal tersebut, saya hanya dapat mengatakan “Because my parents told me to/ because my parents gave me this/ It is a country above Australia”.

Pelatihan seperti apa yang dapat menjadikan anak berumur 8 tahun bisa menjadi “diplomat kecil” atas semua identitas yang ia bawa? Setelah beberapa kali dihujani pertanyaan yang memiliki jawaban yang sama, saya akhirnya merasa tidak dapat memberikan jawaban yang memuaskan sehingga saya mulai belajar sendiri jawaban apa yang harus saya berikan untuk memuaskan rasa ingin tahu teman – teman saya.

Festival Negara yang diadakan tiap tahun di Townsville. Sebuah ajang bagi komunitas untuk unjuk Budaya
Festival Negara yang diadakan tiap tahun di Townsville. Sebuah ajang bagi komunitas untuk unjuk Budaya

Saat Cultural Show, saya dengan lancar dapat memberikan beberapa penjelasan mengenai Indonesia dan membawa makanan Indonesia, saya juga pernah membawa Al-Quran dan membacanya di depan kelas dan setelah saya selesai semua orang bertepuk tangan, padahal suara saya jauh dari merdu dan banyak tajwid (tanda baca) yang salah. Saya rasa, ketika masa itu, saya sangat suka menjadi “diplomat cilik”.

Ketika sebuah kelompok minoritas berada di kelompok yang berbeda, pasti timbul stereotip, di Sekolah saya pun tidak berbeda. Mulai dari stereotip positif hingga negatif. Di SD saya ada satu anggapan bahwa anak Asia akan sangat pintar (saya rasa stereotip ini ada di banyak negara non-Asia) dan Alhamdulillah stereotip tersebut juga terbukti benar, tidak hanya untuk saya sendiri tetapi untuk beberapa teman saya yang juga berasal dari Indonesia. Di SD, saat upacara pagi, tiap Senin pertama dari tiap Bulan ada sebuah penghargaan dari tiap Kelas yaitu “Aussie of the Month”, seorang siswa yang selama sebulan tersebut sangat “bersinar”. Mungkin penghargaan ini hampir mirip dengan “Employee of the Month” tetapi diperuntukkan untuk siswa SD. Semua anak Indonesia pernah mendapatkan ini, tidak hanya sekali atau 2 kali tetapi sampai 3 kali. Sebuah penghargaan berupa kupon makan di McDonalds. Karena saya tidak boleh makan di McDonalds oleh orang tua (well, saat itu kehalalannya diragukan kata mereka), saya hanya menaruh di portofolio saya.

Saya sempat menjadi salah satu kandidat School Captian (semacam Ketua OSIS) dan meskipun saya memang tidak terpilih, itu merupakan pengalaman pertama saya berbicara di depan ratusan orang (di depan semua guru dan siswa di Cranbrook State School). Saya yang membuat sendiri pidatonya dan ketika harus maju untuk berbicara, saya sangat gugup, saya belum pernah segugup itu sebelumnya dalam hidup saya, bahkan ketika hari pertama perkenalan diri di kelas. Tetapi ketika saya melihat wajah teman-teman saya, ketika melihat beberapa dari mereka mengangguk dan setuju dengan isi pidato yang saya tulis, saya rasa itu menjadi candu bagi saya agar tidak merasa gugup lagi. Saat mengingat masa itu saat ini, saya rasa semua orang pada dasarnya sama. Semua orang tidak akan memiliki prasangka buruk kecuali memang diberi prasangka buruk dari pihak eksternal.

Mungkin banyak yang menanyakan bagaiamana saya menjalani ibadah ketika di Australia. Saya biasanya sekolah mulai jam 09.00 – 15.00 sehingga mau tidak mau saya harus sholat di Sekolah ketika Dzuhur tiba. Saya tidak akan berbohong dan mengatakan bahwa saya selalu sholat duhur (biasanya lebih mending main bersama teman-teman) tapi saya rasa tidak ada kesulitan jika memang saya ingin melaksanakan sholat, meskipun wudhu juga harus mengangkat kaki ke wastafel, dan akan diliat aneh oleh orang lain dan harus memakai mukena yang akan diliat aneh pula oleh orang lain, saya rasa hal tersebut tidak menjadi halangan.

Salah satu kesulitan terbesar saat di Australia adalah ketika Bulan Ramadhan, puasa dari pagi hingga magrib dan tidak boleh mamakan makanan apapun di Sekolah. Apalagi di Sekolah ada Lomba Olahraga, Ramadhan menjadi semakin sulit. Ketika ada Lomba Cross Country, dan semua siswa di SD harus ikut serta, saya sempat diijinkan untuk tidak mengikuti lomba karena mereka tahu saya masih puasa, namun saya ngotot hingga akhirnya saya diperbolehkan untuk ikut. Hasilnya, saya pingsan dan dilarikan ke UKS (Unit Kesehatan Sekolah) di Sekolah karena terkena dehidrasi (Kekurangan Cairan Tubuh), yah memang kita harus tahu batas diri. Apalagi saat itu musim panas masih berlangsung di Australia, bahkan banyak warga Australia yang terkena heat stroke karena saking panasnya saat itu, menyentuh angka 40 derajat celsius!

Salah satu hal konyol yang sempat saya alami adalah saat barter makan siang. Seperti yang telah saya ceritakan sebelumnya, ketika jam makan siang, siswa di beri waktu 15 untuk memakan bekal yang dibawa dari rumah atau yang sudah dibeli di kantin sekolah. Sebenarnya tidak boleh membeli makanan dari kantin kecuali setelah 15 menit pertama dari jam makan siang, namun siswa SD diperbolehkan memesan makan dari kantin dengan menaruh uang di dalam lunch bag dan menuliskan nama dan jenis makanan yang akan dipesan. Makanan akan diantarkan ke kantin setelah jam pelajaran pertama usai dan akan dibawa kembali ke kelas sebelum jam makan siang ketika lunch bag sudah terisi dengan makanan dan kembalian yang ada.

Salah satu kebiasaan saya dengan teman-teman saya adalah menukar makanan ketika jam makan siang. Ada yang membawa biskuit dan ingin menukarnya dengan fruit roll up, ada yang membawa kotak jus apel dan ingin menukarnya dengan susu saja, yah you get the idea. Pada suatu hari saya membawa mie goreng plus telur, saya merasa bosan dengan mie goreng dan ketika ada salah satu teman saya menanyakan apakah dia boleh menukarnya dengan makan siangnya? Saya langsung mengiyakan! Saat itu dia membawa sandwich isi keju, lettuce dan ada 1 slice daging. Saat pertama kali menggigit sandwich tersebut, saya langsung merasakan bahwa ini adalah sandiwich terenak di dunia dan saya melahapnya dengan cepat.

Sarah, what was in the sandwich? It tasted really good. Was there some kind of special sauce? I have never had that taste before”

“Nothing special, just the usual ham sandwich that my mom makes”.

Hening….

Ham? As in ham pig meat”

“Of course, what else can there be?”.

Yah, no wonder  makanannya terasa enak, memang kadang the forbidden fruit is the sweetest bukan? Saya rasa memang bukan salah siapa-siapa hal tersebut terjadi. At least rasa penasaran saya terpenuhi (kalau tidak tahu tidak apa-apa kan haha). Saya memang belum mengatakan mengenai segala restriksi dari agama saya dan teman saya (yang masih kelas 5SD), saya pun merasakan tidak akan tahu bahwa dengan adanya perbedaan identitas tersebut mengakibatkan beberapa hal dapat/tidak dapat dilakukan. Mulai saat itu saya tidak sungkan lagi memberikan pengertian mengenai apa yang saya dapat atau tidak dapat lakukan. Menyenangkan rasanya menjadi seorang “Diplomat Kecil”.

TIDAK ADA KOMENTAR

Tinggalkan Pesan Balasan