Doa & Usaha: Jangan Berhenti Dengan Dua Hal Itu

Doa & Usaha: Jangan Berhenti Dengan Dua Hal Itu

0
BAGIKAN
Nur Fadilah

Everything comes for a reason which means nothing happen without something behind it. I believe that there is always invisible hand that takes care of what happened in people’s life. It is then our responsibility to find it. Once we did, eventually we will be amazed when we realize how beautiful it is.


Namanya mimpi. Mudah dipikirkan, mudah dikhayalkan, mudah ditiru, dan mudah diucapkan. Mungkin semua orang setuju akan hal tersebut. Begitupula bila sebaliknya saya mengatakan mimpi mudah hilang, dan mimpi mudah menjadi harapan belaka. Yah, benar sekali. Mimpi itu ibarat suatu kesempatan emas, di kala kita membiarkannya lewat begitu saja, tanpa menjaganya sebaik mungkin bisa saja hilang ditelan oleh asa. Kemudian pertanyaan selanjutnya yaitu bagaimana menjaga mimpi-mimpi ini agar senantiasa berkembang ibaratnya sebuah tanaman yang dapat tumbuh dengan sempurna bak sebuah bunga bermekaran yang indah.

Beberapa bulan yang lalu, saya sempat bertemu seroang mahasiswa yang juga merupakan merupakan junior saya sewaktu di bangku kuliah dulu. Ia bertanya bagaimana caranya agar perjalanan hidup kita bisa lancar terus-menerus? Saat itu saya diam beberapa saat, sebelum kemudian saya menjawab, “Sepertinya tidak ada orang yang hidupnya lancar terus-menerus”. Kemudian ia pun dengan bersemangatnya berkata, “Ada. Ia adalah orang yang berada dihadapan saya saat ini”.

Saya tersenyum dan mencoba menjelaskan padanya bahwa hidup saya tidak seperti yang ia pikirkan. Sebenarnya ada dua kemungkinan alasan baginya dalam mengambil kesimpuan seperti itu. Pertama ia mungkin tidak pernah tahu perjuangan yang telah atau bahkan sedang saya lakukan. Atau ia tidak mengetahui kegagalan apa yang telah saya alami.

Seorang manusia biasa pasti pernah mengalami kegagalan. Karena terkadang dari kegagalan itu pula sehingga kita tahu cara mencapai kesuksesan, kesuksesan dalam meraih apapun yang kita inginkan. Saya ingat saya harus memasukkan beberapa aplikasi sebelum terpilih untuk mengikuti program Training of Trainer di Ghana di tahun 2011 silam. Saya dan juga beberapa teman di UKM Seni Tari Unhas juga harus membatalkan keberangkatan kami dalam beberapa kompetisi tari internasional, sebelum akhirnya kami berangkat dan menang dalam Folkdance Competition di Turkey di tahun 2011. Begitupulah dengan usaha saya dalam pengajuan aplikasi beasiswa S2 pada beberapa program dan kontak email dengan beberapa calon supervisor yang beberapa kali mengalami kegagalan sebelum akhirnya mendapatkan beasiswa Australia Awards Scholarship di awal tahun 2015.

Saya teringat di tahun 2007 sepulangnya saya dari USA mengikuti exchange student program AFS-YES selama setahun, saya iseng menuliskan mimpi saya di sebuah kertas yang saya simpan di dompet. Too bad, kertas ini ditemukan oleh teman-teman saya di kelas, dan sontak mendapatkan tawa dari mereka. Beberapa mimpi yang saya tuliskan memang cukup sulit untuk diraih bahkan terkesan silly dan saat itu saya merasa sangat malu. Apa jadinya bila mimpi-mimpi itu tidak bisa dicapai? Apa kata merkea nantinya? Sehingga saat itu kuputuskan untuk merobek dan membuang jauh kertas tersebut.

Di tahun 2014, saya mulai menyadari mimpi yang saya tuliskan saat itu, satu persatu sudah mulai terjawab. Yah, meski kertas mimpi tersebut sudah hilang, tapi otak kita akan tetap mengingatnya dan alam bawah sadar kita akan menuntun kita mewujudkan mimpi-mimpi tersebut. Terima kasih untuk teman-teman yang saat itu menertawakan hal tersebut karena sesungguhnya kalianlah yang membantu mewujudkan mimpi-mimpi tersebut. Dulu saya berharap menjadi perwakilan daerah dalam sebuah kompetisi, dan pada akhirnya saya terpilih menjadi Runner-Up Duta Pajak di kabupaten saya berasal. Inilah kekuatan mimpi tersebut. Akan selalu ada jalan dalam menggapai mimpi-mimpi tersebut selama ada doa dan usaha. Jangan berhenti dengan dua hal ini.

Mimpi selanjutnya yaitu, mewujudkan mimpi berkunjung ke benua kelima di usia 25 tahun. Segala mimpi saya bisa terbilang cukup mustahil mengingat saya sejak usia 9 tahun sudah menjadi anak yatim. Tapi tidak kawan, ada yang akan membantu kita memeluk mimpi-mimpi tersebut. Di usia 25 ini, akhirnya perjalanan saya ke benua selanjutnya tercapai, yakni benua Australia. Semuanya berkat doa, usaha, dan doa Mama dan suami beserta keluarga besar. Sehingga saya bisa berkata, ini bukanlah pencapaian saya pribadi, tapi pencapaian keluarga besar saya dan teman-teman yang senantiasa berada disamping saya.

SO, GET READY, GO PACK YOUR BAG, AND TRAVEL

#5BenuaUsia25

PS: Did I mention about my husband? Yes, saya mendapatkan beasiswa beberapa bulan setelah saya menikah. Tunggu kisah suka dukanya yah di tulisan selanjutnya.

TIDAK ADA KOMENTAR

Tinggalkan Pesan Balasan