Dorm Mate/House Mate for a Lazy Student Like Me

Dorm Mate/House Mate for a Lazy Student Like Me

0
BAGIKAN
Boys cook boys eat, Rombongan chef & kitchen hand nya (saya). Ki-ka: Phin, Alfa, Me, Thapa, Bandara & Kang

Masa-masa mahasiswa memang menyimpan sejuta cerita, apalagi yang judulnya mahasiswa rantau yang harus ngekos karena jauh dari orang tua atau memilih untuk tidak menumpang di rumah saudara kerabat. Satu hal yang mungkin menjadi tantangan tersendiri bagi mereka yang ngekos adalah urusan perut. Mungkin urusan mencari makan tidak terlalu menjadi masalah bagi mahasiswa Indonesia yang ngekos mengingat banyaknya pilihan makanan di sekitar kawasan kos-kosan atau pondokan dengan beragam range harga, mulai dari yang porsi kuli harga proletar hingga porsi diet harga borjuis. Jadi, makanan tinggal menyesuaikan dengan kocek. Tanggal baru mungkin bisa nongkrong di Pizza Hut, tanggal tua bisa ngutang di warung ibu kos, hehehe.

Pengalaman ngekos di atas tentu bukan pengalaman saya saja. Nah, bagaimana ceritanya jika ngekos nya di negeri orang? Ceritanya menjadi sedikit berbeda. Adalah saya yang tidak punya pengalaman memasak tapi doyan makan. Adalah saya yang terdampar di Jepang dengan beasiswa pas-pasan. Meski terdengar keren bisa ikut program pertukaran ke Jepang, saya mengalami sejumlah kendala disana. Kendala utama adalah saya sangat cocok dengan makanan disana, namun kocek saya yang kurang cocok dengan harga makanannya, hahaha. Walhasil, awal-awal tinggal disana, saya kerap menikmati menu buatan sendiri yakni: nasi + miso shiru instan + abon bawa dari Indonesia + telur mata sapi…. Lumayan bikin eneg.

Asrama saya adalah asrama pria untuk mahasiswa asing yang isinya mahasiswa-mahasiswa rantau dari beberapa negara. Asrama kami dilengkapi dapur bersama dan meja makan besar. Suatu hari saya sedang makan siang di asrama dengan menu “as usual” saya. Saat mulai menikmati makanan, seorang teman asrama, mahasiswa PhD dari Nepal menghampiri.

“Hey, I observe you always have the same menu every day”. [Hai saya liat kamu menunya sama tiap hari]

“I can’t cook,” [saya ga bisa masak], jawab saya sambil memandangi menu teman Nepal ini. Gila, menunya kari ayam buatan sendiri. Bikinnya cepat lagi. Terus terang saya ngiler. Kari ayam di piringnya dia itu sungguh menggoda iman.

“I am Thap, by the way. You are Cipu right? Alfa’s friend”, [Nama saya Thapa, kamu Cipu kan? Temennya Alfa].

Saya mengangguk.

“Help me finish my curry, it’s too much for me!” [Tolong bantu saya habiskan kari ini, porsinya banyak banget]. Dia menyodorkan piringnya yang saya sambut dengan gaya tame tame dove – jinak jinak merpati

Karena merasa si Thapa ini sudah baik mau menawarkan makanannya, saya yang ngerasa ga enak pun menyodorkan piring saya. “Help me finish my egg, I had too much”, [Bantu saya habiskan telur saya, saya sudah makan kebanyakan telur]. Si Thapa kontan tergelak. Tapi dia tidak kunjung menyentuh piring yang saya sodorkan. Saya yakin dia tak tega menyakiti perutnya dengan mencicipi makanan ala kadarnya versi masterchef gagal dari Indonesia.

Hening sejenak.

“Cipu, tonight you cook the rice and I’ll come home to cook the rest”, [Cipu ntar malam kamu masak nasi yah, saya akan pulang (dari lab) untuk masak lauknya]. Thapa menawarkan bantuan. Saya langsung sumringah dan gak berani nolak. Ini adalah pintu menuju kebebasan menu standar. Ini mungkin ekspresi iba Thapa akan menu makanan saya yang sangat melarat itu. Hari itu sebuah “A Gentlemen Agreement” terlontar sebagai bentuk “South South Cooperation” antara Indonesia dan Nepal. Meski Nepal itu negaranya lebih miskin dari Indonesia tapi dalam konteks kerjasama ini, saya sebagai orang Indonesia adalah sang penerima manfaat, bukan sang pemberi manfaat. Jadi salah kalau dibilang ini bentuk simbiosis mutualisme. Menurut saya ini adalah simbiosis parasitisme, dimana saya adalah sang parasit, hehehehe.

Sejak saat itu, urusan makan saya makin teratur. Thapa yang anak S3 dan sibuk di lab tahu betul bagaimana menciptakan masakan yang enak dengan bahan alakadarnya dan dalam tempo yang sesingkat-singkatnya. Sedangkan saya, sang asisten chef, tentu turut andil di dapur. Pekerjaan saya tak lain dan tak bukan adalah memasak nasi dan mencuci piring.

Bagi teman-teman yang ga bakat masak dan terlalu malas untuk belajar memasak, bisa mulai hunting temen-temen dorm atau housemateyang bisa masak. Belajarlah untuk buat deal yang intinya “Lu Masak, Gue Cuci Piring”. Such deal is worth trying, it may work lho…

Sumber: Cipukun

BAGIKAN
Berita sebelumyaPasompe'
Berita berikutnyaLiving Passionately
Bercita-cita ingin ke negara-negara eksotis seperti Bhutan, Tibet dan Nepal, ke negara-negara Latin menyusuri Meksiko di utara hingga Brazil di Selatan, dan ke negara-negara Pasifik seperti Fiji, Tuvalu, New Caledonia, Palau, Vanuatu, Samoa dan Kiribati, dan mengikuti sejarah syiar Islam di Afrika Utara (Mesir, Libya dan Maroko)

TIDAK ADA KOMENTAR

Tinggalkan Pesan Balasan