Hari Pertama Sebagai Alien Kecil

Hari Pertama Sebagai Alien Kecil

1
BAGIKAN
Sydney. Liburan Sekolah, Salah satu momen perantauan paling asyik karena bisa berkelana ke berbagai penjuru negara bagian lainnya bersama keluarga.

Hi, namaku Rizka Khairani, bisa dipanggil Rizka, Riris atau Rwiwris. Kenapa? Bukan karena banyak temenku yang cadel atau sok ke-Inggris-an, tapi memang karena banyak temen-temen semasa SD dulu susah banget manggil Riris karena lidahnya udah terlanjur susah make “RRRR” kalo ngomong (padahal kalau bisa ngomong RRR dengan baik dan benar dianggap seksi banget dulu di SD dan SMP tempatku sekolah).

Tanya Kenapa? Dulu semasa kecil, saya sempat SD di bagian North Queensland tepatnya di Townsville, Australia. Iya iya, sama kayak kotanya Powerpuff Girls (saya sudah tahu apa yg di pikiran kalian kok :P). Mengikuti ayah yang mengambil S3 di Australia di bidang Geophysics, akhirnya berangkatlah kami bertiga (Umi, saya, dan adik saya Afif) pada tahun 1999. Saat itu saya baru masuk kelas 2. Sebagai anak kecil, kepindahan ini masih belum “masuk” ke alam sadar saya, bahwa ini akan sangat mengubah hidup saya dan bagaimana saya harus mulai berdaptasi. Yah memang saya sejak kelas 1 SD, saya sudah diharuskan ikut “les” bahasa Inggris, tapi anak kelas 1 SD mau ngapain lagi selain main-main? Alhasil saat SD Kelas 1, setelah berbulan-bulan les saya hanya tahu angka, warna, dan beberapa benda. Yah saya memang belum memahami bahwa di luar sana ada anak-anak seusia saya yang menggunakan bahasa selain Bahasa Indonesia.

Ketika tiba di Cairns (Kota terdekat dengan Townsville yang ada bandaranya), rasanya capeeeeeek sekali. Saya dulu belum memahami arti jetlag, tetapi setelah flight yang saya tahu hanyalah rasa capeeeek. Meski hanya berbeda 4 jam, saya tertidur hampir seharian kata umi dan ayah . (Yah tidak berbeda dengan sekarang sih, salah satu hobi saya memang tidur haha). Saat itu kami menyewa 1 rumah kecil, hanya ada 2 kamar, satu untuk orang tua dan satu kamar untuk saya dan Afif. Saya lupa-lupa ingat tentang hari pertama di Townsville (well, itu hampir 18 tahun yang lalu) tapi yang saya ingat adalah ketika mulut saya ternganga melihat truk pengangkut sampah yang sangat “megah” di pagi hari (saat itu belum ada perbandingan dengan fasilitas lainnya di Australia karena masih hari pertama). Di Indonesia, petugas kebersihan hanya dikerjakan oleh bapak-bapak yang keliing mendorong gerobak sampah di pagi buta menggunakan seragam Kuning, sementara saat itu saya menyaksikan sampah yang bertumpuk diangkut dan dikumpulkan dari rumah ke rumah menggunakan salah satu truk tercanggih dan termegah yang saya lihat. Pikiran saya yang masih berumur 8 tahun saat itu masih belum dapat memahami negara seperti apa yang akan saya tinggali selama 4.5 tahun ke depan.

1 KOMENTAR

  1. Yg paling keren adalah ini ” yah mungkin saya tidak mengerti apa yang mereka katakan saat itu tapi bahasa universal yang dapat dipahami oleh semua orang adalah senyuman bukan? “. Wkwkwk

    Arek suroboyo ta mbak?. Salam

Tinggalkan Pesan Balasan