Hari Pertama Sebagai Alien Kecil

Hari Pertama Sebagai Alien Kecil

1
BAGIKAN

Sydney. Liburan Sekolah, Salah satu momen perantauan paling asyik karena bisa berkelana ke berbagai penjuru negara bagian lainnya bersama keluarga.
Sydney. Liburan Sekolah, Salah satu momen perantauan paling asyik karena bisa berkelana ke berbagai penjuru negara bagian lainnya bersama keluarga.

SCHOOL DAY I

Hari pertama sekolah, saya sangat takut, nervous dan rasanya ingin muntah. Bayangkan saja, saya jarang sekali bertemu dengan “bule”, kalaupun bertemu dengan “bule” paling hanya teman ayah saya dan mereka hanya menanyakan “What is your name”? Namun yang saya hadapi pada hari itu adalah sekumpulan wajah asing, ada yang sangat putih dan beberapa berkulit hitam (Aborigines) dan semuanya melihat saya seolah saya adalah makhluk alien, sayapun melihat mereka demikian, seolah mereka adalah alien dan saya harus menghindari mereka. Hari pertama semakin susah bagi saya karena saya adalah satu-satunya orang di Sekolah tersebut yang memakai kerudung (btw, saya sudah dibiasakan memakai kerudung sejak TK). Ketika teman-teman lainnya mulai menanyakan soal kerudung saya (asumsi saya sih demikian karena mereka menggenggam kerudung saya dan melihat saya seolah saya harus memberikan sebuah penjelasan), saya hanya terdiam dan ingin menangis. Dari mata saya, yang saya lihat adalah orang-orang asing yang tidak dapat saya pahami sedikitpun, Bahasa Inggris mereka sangat amat cepat dan ditambah dengan aksen yang tidak biasa saya dengar (yah, Aksen Australia memang tidak seberapa familiar dengan yang kita dengarkan di film dan TV Serial bukan? Lebih banyak dari Hollywood di US).

Saat itu saya langsung dimasukkan ke Kelas 3 di Cranbrook State School (Tahun Akademik di Australia adalah Januari-Desember, berbeda dengan Indonesia dari Juli-Juni). Untungnya ada satu pelajaran yang saya kuasai: Matematika! Ironis memang, dulu di Indonesia, Matematika adalah salah satu pelajaran yang membuat saya pusing dan mendapatkan nilai jelek, namun karena angka adalah simbol yang sama di manapun, saya tidak mendapatkan kesulitan apapun ketika mengerjakanannya. Ketika tiba waktu makan siang saya ingat betul betapa bingungnya saya harus berbuat apa. Di Sekolah saya, ada sebuah sistem yang mengharuskan anak-anak SD duduk dan makan sebelum diperbolehkan bermain (selama 15 menit), dan itupun sebelum bermain, siswanya harus minta izin ke guru dan mendapat persetujuan mereka, mungkin agar semua anak memakan bekal dan tidak langsung bermain. Saat itu saya ditemani oleh beberapa siswa dan ikut duduk dengan mereka. Saya membawa bekal 1 botol besar air mineral dan 1 kotak makan berisi nasi goreng. Ketika botol air mineral jatuh dan tumpah ke mana-mana saya langsung ingin menangis, bukan karena air yang tumpah tetapi, ketika itu perasaan saya sangat camput aduk; bingung dengan teman-teman yang saya tidak pahami sama sekali apa yang mereka bicarakan, bingung dengan kelas dan mekanisme pembelajaran yang tidak saya pahami dan bingung dengan apa yang mereka ekspektasikan terhadap apa yang akan saya lakukan. Tetapi saya tidak sempat menangis karena saat itu ada salah satu teman yang memegang tangan saya dan tersenyum, yah mungkin saya tidak mengerti apa yang mereka katakan saat itu tapi bahasa universal yang dapat dipahami oleh semua orang adalah senyuman bukan? 😀

Hari-hari setelah itu bertambah baik, saya mulai berani menanyakan teman-teman tentang apa yang saya tidak ketahui dengan menggunakan bahasa tubuh dan mulai menangkap bahasa Inggris, hingga pada suatu hari sekitar 6 bulan setelah saya masuk ke Sekolah, guruku harus menukar posisi tempat duduk saya di Kelas, karena saya terlalu banyak mengobrol dan menggossip dengan teman saya haha.

Saya pernah membaca sebuah penelitian yang mengatakan bahwa anak yang masih berumur 8 tahun memiliki pola pikir seperti spons, dan itulah yang saya rasakan. Alhamdulillah dalam masa 6 bulan setelah saya tiba, saya sudah dapat memahami situasi dan kondisi saya yang baru. Welcome to Australia Alien Kecil!

1 KOMENTAR

  1. Yg paling keren adalah ini ” yah mungkin saya tidak mengerti apa yang mereka katakan saat itu tapi bahasa universal yang dapat dipahami oleh semua orang adalah senyuman bukan? “. Wkwkwk

    Arek suroboyo ta mbak?. Salam

Tinggalkan Pesan Balasan