Kartini Muda: Dari Jambi hingga ke Groningen

Kartini Muda: Dari Jambi hingga ke Groningen

1
BAGIKAN
Kartini Muda
Kartini Muda

Hari ini adalah Hari Kartini, dimana perempuan Indonesia merayakan kemerdekaan yang dahulu diperjuangkan oleh seorang wanita priyayi. Hal ini membuat saya berkontemplasi terhadap jalan hidup dan apa-apa yang telah saya capai.

Saya teringat suatu waktu ketika saya masih anak-anak bersekolah SD kelas 2 di sebuah kabupaten di Sumatera sekitar tahun 1997, ketika nenek saya masih hidup (kelahiran 1920-an), dia pernah berpesan, “Nanti kamu kalau sudah lulus SD, langsung menikah saja (melalui perjodohan). Supaya nenek bisa merasakan punya cicit.” Waktu itu saya diam saja, walau hati menjawab tidak. Nenek saya tidak pernah bersekolah, pun tidak bisa baca tulis. Saya tidak tahu nasib akan membawa saya kemana, tetapi tidak pernah sedetik pun terbersit di pikiran saya untuk menikah di usia remaja. Yang saya tahu, saya mempunyai mimpi besar, ingin sekolah tinggi, bahkan jika mungkin ke negeri penjajah, sebuah cita-cita yang harus saya perjuangkan entah bagaimana caranya.

Itu adalah kejadian 20 tahun yang lalu. Dalam rentang waktu yang cukup panjang itu, nasib telah berkata terlalu banyak, berjalan dengan jarak yang jauh, merentang sangat luasnya. Pada akhirnya saya meneruskan pendidikan formal saya – terima kasih kepada orangtua saya yang tidak manut pada petuah nenek saya, beliau meninggal ketika saya SMP. Jika dipikir-pikir, mungkin saya tidak tumbuh menjadi wanita seperti yang diharapkan nenek saya (atau mungkin juga orangtua saya). Saya menjunjung tinggi kebebasan dalam memilih sejak saya kecil. Saya memutuskan apa-apa yang saya inginkan di hidup saya, bersekolah dimana, tinggal dimana, kerja dimana, akan menikah kapan dan dengan siapa. Terima kasih kepada orangtua saya yang tidak pernah memaksakan sesuatu dan membebaskan saya menentukan pilihan hidup saya.

Saya pun tidak lagi tinggal bersama orangtua sejak berumur 14 tahun, karena saya memilih untuk bersekolah SMA di boarding school. Sejak saat itu pun, saya tidak pernah lagi menetap bersama mereka. Berkuliah di Yogyakarta, bekerja di Jakarta, melanjutkan studi ke Belanda (ya, saya berhasil mewujudkannya!), dan kembali lagi ke Jakarta. Sudah separuh hidup saya jauh dari orangtua, rumah, kampung halaman. Ibu saya seringkali bertanya, “Nak, apa kamu tidak takut tinggal sendirian di tanah orang?” Tidak. Jawaban saya tidak pernah berubah. Rasa takut tidak pernah menghampiri saya di tanah orang. Merantau sudah menjadi pilihan saya, berteman dengan jarak, bersenda-gurau dengan rindu. Karena saya adalah perempuan pemberani. Berani bermimpi, berani berjuang mengejar cita-cita. Seperti yang Kartini impikan. Selamat Hari Kartini! Door duisternis tot licht, habis gelap terbitlah terang.

1 KOMENTAR

Tinggalkan Pesan Balasan