Keunikan Ramadhan di Negeri Ibnu Khaldun, Tunisia

Keunikan Ramadhan di Negeri Ibnu Khaldun, Tunisia

0
BAGIKAN
Masjid Zaituna

Ramadhan di Tunis memang unik, bukan karena estimasi waktu puasanya 16 jam setengah lebih, adzan Shubuh jam 3:07 CET. (Waktu Eropa Tengah) dan Maghrib jam 19:44 CET. Rasanya kalau setiap waktu dimanfaatkan untuk ibadah meskipun musim panas maka tidak berpengaruh bagi yang ingin kualitas Ramadhannya meningkat, asal jangan kebanyakan tidur saja.

Bagi yang sudah terbiasa Ramadhan di Mesir maka dengan mudah akan menemukan satu perbedaan yang mencolok dengan Ramadhan di Tunis, apa itu? Maidaturrahman, sebuah tradisi menghidangkan menu buka puasa gratis -dengan lauk yang mengenyangkan- di setiap masjid atau tenda-tenda pinggir jalan yang sengaja disediakan oleh muhsinin, para dermawan, bagi siapa saja yang ingin bergabung untuk buka bersama selama Ramadhan.

Ya, kebiasaan baik itu belum kutemukan di Tunis, maka jadwal piket masak untuk berbuka dan sahur pun harus dibuat. Jangan khawatir, biar bagaimana pun rezeki itu tidak akan kabur, apalagi bagi yang meyakini bahwa bulan Ramadhan itu memiliki banyak keberkahan, insya Allah rezeki itu tidak akan tertukar.

Tanpa Pengeras Suara

Yang menarik sebenarnya ketika shalat Tarawih di Masjid ez Zaitouna, tidak ada “polusi udara” -istilah yang dipakai Pak Jusuf Kalla karena kesal dengan speaker masjid yang digunakan tanpa aturan-, karena di masjid ez Zaitouna sendiri setiap tiba waktu adzan shalat lima waktu para petugasnya langsung naik ke menara mengumandangkan adzan tanpa pengeras suara atau toa, bahkan ketika shalat hanya menggunakan pengeras suara ke dalam saja tidak sampai satu kampung terdengar, bagaimana dengan nasib jamaah shalat yang ada di pelataran yang tidak kebagian shaf di dalam? Di sini bilalnya banyak bukan hanya berada di belakang imam saja, melainkan ada beberapa bilal yang berdiri di pintu masuk masjid.

Lebih unik lagi sebenarnya bacaan Al-Qur’an sang Imam ketika tarawih, bukan langgam yang saya maksud melainkan jumlah lembarannya setiap malam menghabiskan 12 lembar, jika dihitung maka 30 juz akan habis pada malam ke 25.

Bacaan tartil sang Imam membuat banyak jamaah atau makmum yang tersihir, karena tak terasa baru selesai sampai jam 23:15 CET., itupun tanpa zikir jamaah, doa dan ceramah agama. Warga di Tunis kebanyakan bermadzhab Maliki, maka tidak aneh bila niat puasa diucapkan sekali untuk sebulan tidak setiap malam.

Apapun itu saya sangat menikmatinya, hitung-hitung “deres” (mengingat kembali hafalan Al-Qur’an) pula di belakang Imam dengan qiroat Warsy bukan Hafsh.

TIDAK ADA KOMENTAR

Tinggalkan Pesan Balasan