Keunikan Ramadhan di Negeri Ibnu Khaldun, Tunisia

Keunikan Ramadhan di Negeri Ibnu Khaldun, Tunisia

0
BAGIKAN

Irhamni dan Mahasiswa Indonesia di Tunisia
Irhamni dan Mahasiswa Indonesia di Tunisia

Shalat Tarawih Berakhir Pada Malam 27 atau 28

Keunikan lainnya adalah shalat tarawih hanya sampai pada malam ke-27 atau 28, setelah malam itu sampai malam Ied jarang sekali kita temukan masjid yang mengadakan shalat tarawih berjamaah kembali, alasannya karena sebagian dari masyarakat Tunis beranggapan bahwa malam tersebut adalah malam lailatul qadr, malam diturunkannya Al-Qur’an dan malam dari seribu bulan, maka dianjurkan untuk menghidupkan malam tersebut dengan beritikaf di masjid, membaca Al-Qur’an, hingga melaksanakan qiyamullail atau shalat malam.

Zakat Fitrah Lebih Murah dari Harga Beras

Menurut para ulama 4 madzhab, membayar zakat fithrah dengan makanan pokok (beras, gandum, dll.) itu sah.

Sedangkan membayar zakat fitrah dengan uang, hanya ulama hanafiyah yang membolehkan.

Di kampung halamanku, Ujungharapan, Bekasi masih menjaga dan melestarikan pendapat jumhur ulama madzhab membayar zakat fitrah dengan makanan pokok (beras), bahkan yang menunaikan zakat tersebut beruntung karena para amil atau pengurus mushala yang mendatangi ke rumah penduduk, syukurnya ketika diumumkan di masjid Attaqwa (KH. Noer Alie, Bekasi) sebelum shalat Ied dimulai, jumlah beras yang terkumpul itu hampir kurang lebih 10 ribu liter. Angka yang fantastis, bukan? Tentu pembagian ke mustahiq (penerima zakat) diserahkan lewat panitia. Amanah insya Allah. Jadi ditenangkan saja. Dibagikan ke siapa? Wallahu a’lam.

Meskipun zakat fitrah sudah ditunaikan oleh keluarga di Attaqwa, saya tertarik dengan pengumuman mufti Tunisia, Syekh Hamdah Said beliau mengatakan bahwa nilai nominal zakat fitrah tahun ini sebesar 1.450 milim atau sekitar 9.844 rupiah.

Unik memang, padahal masyarakat Tunisia mayoritas bermadzhab Maliki, bukan Hanafi. Kali ini pendapat ulama kontemporer lebih berpengaruh.

Lebih unik lagi sebenarnya besaran nominalnya itu, padahal harga beras di Tunisia per 1 kg sekitar 1.680/1.800 milim atau bila dikonversikan ke rupiah sekitar 12.200 rupiah.

Kenapa bisa begitu? Saya pun belum tahu pasti, tidak ada keterangan dari pengumuman Mufti Tunisia terkait nominal tersebut, apakah diqiyaskan dengan harga beras atau gandum, atau mungkin ada penjelasan lain.

Yang pasti, kalau melihat angka nilai zakat fitrah yang berlaku di Tunisia tersebut, rasanya hampir semua lapisan masyarakat mampu untuk menunaikan zakat fitrah yang hukumnya wajib pada bulan Ramadhan.

Apakah keputusan ini bermaksud meringankan semua orang khususnya kaum fakir miskin untuk menjadi muzakki (pemberi zakat) ? Yang secara tidak langsung sebenarnya mengajarkan mereka untuk naik pangkat agar tidak selamanya menjadi mustahiq. Wallahu a’lam

TIDAK ADA KOMENTAR

Tinggalkan Pesan Balasan