Kisah Ramadhan dan Anak Rantau: Hikmah Di Balik Jalan Hidup Merantau

Kisah Ramadhan dan Anak Rantau: Hikmah Di Balik Jalan Hidup Merantau

0
BAGIKAN
Iwan Mariono dan Keluarga

Ada seorang anak muda, biasanya dipanggil Mas Iuw, anak rantau dari Sulawesi. Gelar mas sendiri dia peroleh setelah menetap di Pulau Jawa selama lebih dari empat tahun. Mas Iuw sudah melewati lima kali bulan ramadhan di Jawa, dan baru sekali mudik ke Sulawesi untuk lebaran di sana. Tahun ini dia kembali berpuasa sekaligus lebaran di Jawa. Mas Iuw, lagi-lagi tidak mudik bersama keluarga besarnya.

Mari kita mengenal Mas Iuw lebih dekat. Mas Iuw lahir di Sulawesi 23 tahun yang lalu. Bapaknya asli Sulawesi. Adapun ibunya ternyata adalah keturunan Jawa. Ibu Ida, nama ibu Mas Iuw, yang mengajarkan Mas Iuw bahasa jawa sekalipun dia tumbuh dan besar di lingkungan sosial yang mayoritas Toraja. Satu hal yang paling disyukuri oleh Mas Iuw, dia bisa bahasa jawa, bahasa nenek moyangnya dari pihak ibu. Itulah mungkin yang menjadi modal besar Mas Iuw cepat beradaptasi ketika merantau di Pulau Jawa.

Karena sering berpindah tempat dari sejak kecil, Mas Iuw jadi tidak tahu kampung halaman aslinya itu dimana. Baginya dimana saja dia berada, di situlah kampung halamannya. Bahkan dia pernah berkata seperti ini: dunia ini adalah kampung perantauan, akhirat itulah kampung halaman. Mas Iuw menambahkan kalau gurunya juga pernah berpesan: dimana kau mendengarkan suara adzan, di situlah kampung halamanmu. Hmm, saya sendiri sebenarnya bingung, bagaimana bisa Mas Iuw berpikiran seperti itu. Apakah dia tidak rindu dengan ibu-bapaknya? Apakah dia tidak rindu dengan tempat dia dilahirkan?

Berdasarkan penggalian riwayat keluarga, ternyata sejak kecil Mas Iuw diasuh oleh (alm/a) Kakek dan Nenek. Bapak dan ibunya sudah bercerai sejak Mas Iuw masih bayi. Tiga tahun kemudian baru Mas Iuw hidup dengan ibunda tercinta, dan ayah barunya. Enambelas tahun Mas Iuw tinggal dan besar dengan ayah tiri. Ternyata tidak seperti di sinetron-sinetron yang banyak orang tonton selama ini, ayah Mas Iuw yang baru ini justru sangat sayang kepada Mas Iuw. Mas Iuw kecil benar-benar menjadi anak yang hidup dengan kasih sayang seorang ayah, dia sering diajak jalan-jalan, dimanja, dan dituruti keinginannya. Kalau Mas Iuw nakal, yang berani mencubit hanya ibunya, tapi ayahnya tidak pernah melakukan itu.

Sampai Mas Iuw berusia 19 tahun, ada sebuah peristiwa besar terjadi. Menjelang ramadhan 2011, Mas Iuw bertemu dengan ayah kandungnya untuk pertamakali di Jogja. Kata Mas Iuw, itulah pertemuan yang membuat jantung Mas Iuw berdebar-debar. Pertemuan yang tidak pernah bisa Mas Iuw lupakan. Saat ditanya bagaimana ekspresi ketika bertemu? Kata Mas Iuw tidak ada tangis, yang ada hanya saling pukul bahu, tertawa, dan rangkulan yang cukup lama. Saat itu ayah kandung Mas Iuw sedang aktif dinas sebagai Ketua DPRD Kabupaten Wakatobi Sulawesi Tenggara. Dia dan rombongannya mengadakan kunjungan ke Jogja.

Saat saya tanya bagaimana rasanya bertemu dengan ayah kandung setelah sekian lama tidak pernah menatap wajahnya? Mas Iuw bilang: “Ayah kandung saya dan ayah tiri saya secara fisik hampir tidak ada bedanya, badannya tinggi besar, sisirannya model ke samping, dan yang paling khas; hidung besar dengan nevus pigmentosus (tahi lalat) di salah satu lubangnya. Hampir tidak ada bedanya dengan ayah yang sudah membesarkan saya selama ini, mereka sama-sama punya tanda itu. Entahlah bagaimana ibu bisa menemukan seorang suami baru dengan replika yang hampir sama.”

Satu tahun kemudian setelah peristiwa bersejarah itu, ada kabar gembira sekaligus kabar duka. Kabar gembiranya Mas Iuw diterima kuliah kedokteran di sebuah universitas swasta di Kota Surakarta alias Solo. Kabar dukanya adalah ayah tirinya meninggal dunia. Itulah kehilangan sekaligus kesedihan mendalam pertama yang dirasakan Mas Iuw, ditinggal pergi oleh ayah yang selama ini membesarkannya, menyayanginya serta memenuhi segala kebutuhannya. Bahkan sebelum kepergiannya dia sempat berpesan kepada ibunda Mas Iuw, bunyi pesannya seperti ini: biarlah semua habis (maksudnya harta benda) asal dia bisa kuliah. Semoga dia menjadi anak yang baik, mendapatkan istri yang baik. Bagi Mas Iuw, tidak ada pesan yang membuatnya semakin terharu kecuali pesan itu. Selama ini ayah tiri Mas Iuw tidak pernah berkata apa-apa, apalagi membahas soal biaya kuliah.

Peristiwa itu terjadi beberapa minggu sebelum bulan ramadhan. Setelah itu ibunda Mas Iuw menyuruh anaknya segera balik ke Jawa, ramadhan dan idul fitri di sana. Beliau berpesan kalau Mas Iuw tidak perlu lagi memikirkan apa-apa kecuali fokus kuliah, biar ibu yang masih sanggup bekerja, juga kalau Mas Iuw rindu biar ibunda yang ke sana, tidak perlu memikirkan kampung halaman. Bahkan ibunda Mas Iuw pernah berpikiran, dia siap ikut Mas Iuw kemana pun dibawa pergi kalau Mas Iuw sudah sukses kelak.

TIDAK ADA KOMENTAR

Tinggalkan Pesan Balasan