Living Passionately

Living Passionately

1
BAGIKAN

Hi everyone! Nama asli gue James Muhammad Hasan Stuart Cameron. Panjang seperti kereta, so please just call me Jem. In English it’s pronounced Gem. Banyak yang manggil gue Jim, Jimbo, or James. Kebanyakan local farmers in Indonesia call me Jin. Err . . . Gue masih manusia coy!

Anyway, gue berasal dari negara gado-gado, mixture nationalities. I am 4/8 Betawi asli, 2/8 English, 1/8 Scottish, 1/8 Assamese (negara bagian timur) India. Kota Assam terletak di bagian timur Gunung Himalaya, dikenal sebagai penghasil dan penyuplai teh untuk English Breakfast Tea, Twinings, and Lipton Black Tea.

Walaupun berdarah campur aduk gado-gado, I was born in Jakarta, Indonesia. My heart and soul is Indonesian. Dulu gue ngomong ga blepotan kaya gini! Bahasa Indonesia gue lancar, logat betawi gue juga sangat kental loh!

Setelah lulus SMA, gue merantau ke Inggris, Aussie, ama Selandia Baru selama 4 tahun. Tujuan awal gue sih berpetualang, menuntut ilmu dan membawa uang balik ke Indonesia sebanyak mungkin! (Poundsterling, Dollar). Eh, malah kehilangan bahasa sendiri karena kebanyakan ngespik bule-bule, ha ha ha.

Alhamdulilah, sampai sekarang, gue udah hampir 4 tahun di Indonesia, dan bahasa Indonesia gu mulai lancar, ga macet lagi seperti macetnya kota Jakarta 🙂 Di tempat kerja, gue sering dipangil Londo (bule, -red.). Padahal dalem hati gue mikir, “Londo mah kompeni, ogut Betawi coi!”. Di sini kadang diasingin, di sana juga diasingin, gue jadi alien aja deh merantau kemana-mana ho ho ho . . .

Anyway, petualangan gue dimulai di Australia. Saat masih berstatus Mahasiswa, gue dapat kerjaan lewat internet Visitoz dan Oyster untuk bekerja di sebuah ranch (peternakan,-red.). Sebenarnya ada banyak tawaran seperti fruit picking (memanen buah,-red.), farming (perkebunan, -red) dan lain-lain. Tapi, gue lebih memilih ranching (peternakan, -red) pada saat itu. It was my passion to work with animals. I spent 2 weeks at a training farm sebelum dipilih dan di-hire (diupah, -red.) oleh local farmers. Keterampilan gue herder (gembala, -red). Menunggangi kuda atau motorcross, menggiring sapi untuk grazing (diberi makan, -red.) dan menggiring balik ke kandang. Semuanya berada di lahan luas berhektar-hektar di bagian selatan Australia.

Farm Manager lebih sering meminta gue untuk menunggangi kuda. Di sanalah gue ketemu ´jodoh´. Pertama kali kerja, gue dan teman-teman dijodohin dengan seekor kuda. Dan yang tersisa untuk gue cuman satu, seperti yang bisa dilihat di foto ini. Kudanya udah tua, matanya cuman satu lagi. Di foto, alis gue cuman satu, gara-gara kebakar kompor waktu nyalain rokok! Kudanya gue beri nama One-Eyed Jenkins. Momen paling berkesan untuk kita berdua adalah waktu pertama kali gue menungganginya.

One-eyed Jenkins
One-eyed Jenkins

Kuda feelingnya peka banget. Ya, gue takutlah sama si Jenkins. Udah tua, matanya satu lagi. Seperti film Avatar kalo kita naik kuda, seakan nyatu dengannya. Gue ketakutan, dia ngerasa ragu. Dia lepas kendali dan lari ke arah pagar. Nabrak pagarnya dan gue pun jatuh. Gue diketawain, Farm Manager minta gue coba naik lagi. I calmed myself down, usap-usapin si Jenkins sambil gue ajakin ngobrol, “Its okay, One-Eyed, I am not scared anymore! You’re the coolest horse I’ve seen. So, c’mon lets run! Please don’t let me fall again”. I got back on the horse sambil ngobrol sama si Jenkins. Berasa mulai akrab, walaupun kepalanya sedikit miring kalo jalan. Gak papa, ini yang membuat hidup gue makin seru waktu itu.

Ternyata si Jenkins yang paling seru dibandingkan kuda lain, soalnya dia yang paling tua, gampang nurut dan larinya yang paling cepat. Matanya kena kanker, jadi harus dioperasi, I was lucky to have met him. Tahun 2011 gue diberitahu, dia sudah mati. He was the best horse I have ridden so far in my life.


Gue kerja di Ranch cuma sampai 3 bulan, soalnya ada rasa ingin explore Australia lebih jauh. Akhirnya gue naik bis ke arah Sydney, janjian sama teman-teman indo disana. Ternyata di setiap daerah yang rame dengan orang Indonesia pasti ada komunitas PPI. Kalo ga salah Perkumpulan Pelajar Indonesia. Disinilah rasa home-sickness hilang. Akhirnya bisa ngobrol dengan bahasa, bercerita tentang tanah air dan makan masakan khas kami. Gue jarang dapat hal istimewa seperti ini waktu merantau, karena itu, gue sangat sarankan untuk teman-teman yang sedang belajar di negara berbeda untuk mencari PPI terdekat.

Berada di Sydney, gue dan teman-teman melakukan road trip untuk acara festival di Bondi Beach. Melihat konser Ben Harper. Setelah itu lanjut lagi ke kota Nimbin yang ngadain Mardi Grass Festival. Di kota itu, gue betah dan mutusin untuk tinggal di situ selama sebulan, itu karena gue ketemu orang Indonesia di warung kopi, Namanya Johnny. Waktu itu gue lagi beli kopi, memakai baju Bintang, terus dia nunjuk, “Where did you get that shirt?”. Gue jawab, “I`m Indonesian!”, setelah itu kita ngobrol panjang lebar.

James With fellow friends in Aussie
James With fellow friends in Aussie

Gue kerja untuk Johnny selama sebulan, belajar dan membantu dia berkebun serta nemenin tamu di berbagai warung kopi yang ada di Nimbin. Nimbin adalah kota kecil di New South Wales, penuh dengan orang ramah. Bisa dibilang Hippies Town. Johnny adalah orang Indonesia yang sudah 10 tahun lebih tinggal di kota ini. Dia sangat terkenal di kota Nimbin, teman-teman bisa ketik ‘Johnny Nimbin’ di Youtube, nama dia pasti muncul. Sekarang si Johnny udah balik ke Bukit Tinggi, kembali ke kampung halaman sebagai orang Maninjau.


Petualangan gue berlanjut kawan-kawan! Gue keterima di salah satu universitas favorit untuk Farming and Agriculture, namanya Massey. Berada di Palmerston North, Selandia Baru. Di sana, gue kenalan dengan banyak orang Indonesia yang sekarang jadi pilot Garuda. Setelah puas dengan Australia, Selandia Baru inilah tujuan gue selanjutnya. Kalo mau tau lebih detail lagi, please read my next article :).

Thank you for reading my story in Mahasiswa Rantau

“Wherever you are, live a life following your passions! It’s your life, so enjoy!!” – Jem

1 KOMENTAR

Tinggalkan Pesan Balasan