Manusia Kampus

Manusia Kampus

0
BAGIKAN
Foto bareng teman di masjid agung JATENG

Sepi adalah suasana yang saya rasakan di bulan Suci Ramadhan tahun ini. Hari-hari sebelum bulan puasa selalu saya lalui di kampus, baik mengikuti perkuliahan, menjalankan organisasi, menghadiri seminar, berpartisipasi dalam lomba, dll. Kini telah datang bulan Suci Ramadhan, saya masih saja di kampus. Terlalu betah untuk berada di sini. Saya tinggal di lingkungan kampus, tepatnya di PESANMASA (Pesantren Mahasiswa Sultan Agung) UNISSULA. Adalah universitas yang terletak di Jln. Raya Kaligawe KM. 4 Semarang.

Manusia kampus menjadi julukan yang cocok buat saya. Setiap hari selalu saja di kampus, bulan Suci Ramadhan kali ini pun masih saja di kampus. Saya memutuskan untuk tidak pulang ke kampung halaman, ke Ambaipua Kecamatan Ranomeeto Kabupaten Konawe Selatan Provinsi Sulawesi Tenggara. Banyak hal yang harus dipertimbangkan demi meraih kesuksesan dan membanggakan keluarga. Pasti pada penasaran kenapa saya memutuskan untuk tidak pulang kampung? Yah sekedar informasi, saya sekarang memasuki semester 7 di jurusan Pendidikan Matematika.

 Perkuliahan dimulai kembali hanya satu minggu setelah lebaran karena ada pembekalan PPL (Praktik Pengalaman Lapangan). Saya memutuskan untuk tetap berada di kampus daripada pulang dengan menghabiskan uang tiket pesawat dari Semarang ke Sulawesi Tenggara yang membutuhkan banyak biaya. Mending uangnya dipakai untuk hal yang lebih bermanfaat. Selain itu saya juga sedang menyelesaikan banyak karya tulis, jadi ingin tetap fokus saja berada di Semarang. Soalnya kalau udah pulang pasti bawaanya pengen main terus ke rumah teman.

Bagi saya kerinduan adalah hal biasa. Dari masa kanak-kanak sampai dewasa ini, saya selalu dibimbing orang tua untuk selalu tegas, tegar, disiplin, dan tidak boleh cengeng. Rindu menjadi biasa saja menurut saya, selagi sedang menuntut ilmu di rantau dan masih bisa berkomunikasi kepada keluarga serta diberi kepercayaan kepada kedua orang tua.

Saya tahu apa yang dirasakan keluarga saya di kampung halaman. Mereka pengen kumpul bareng saya, tetapi saya harus tetap tegar dalam menghadapi semua ini. Di dalam benak saya, “Saya harus sukses baik dunia maupun akhirat untuk membahagiakan keluarga saya terutama kedua orang tua. Tunggulah anakmu yang sebentar lagi akan bersama keluarga di kampung halaman dengan kesuksesan yang akan kita rasakan bersama, Aminnn”. Doaku selalu menyertai mereka pula.

Rindu sering saya rasakan pada saat sahur dan buka puasa. Di rumah, saat sahur dan berbuka puasa selalu dilalui bareng keluarga. Kini harus bangun lebih awal untuk mengambil makanan yang telah disediakan oleh Masjid Abu Bakar Assegaf Unissula. Begitu pula saat berbuka puasa. Lumayan untuk menghemat pengeluaran bulanan. Shalat tarawih pun tak begitu ramai. Pernah sekali saya membolos tarawih karena diajak teman seperjuangan untuk Buka Puasa bareng. Kata anak jaman sekarang sih istilahnya BukBer.

Kini terdengarlah suara takbiran di sekeliling saya. Rindu semakin saja menyelimuti diri. Saya sangat sedih tidak bisa melaksanakan takbiran bareng keluarga. Tapi saya harus tetap tegar. Saya tidak memedulikan rasa rindu itu. Saya mengajak teman-teman yang lain untuk ikut takbiran di Simpang Lima. Rasa rindu pun tak terasa lagi. Saya tidak terlalu memikirkannya.

Esok hari tepat di tangal 17 juli 2015 bertepatan dengan Hari  Raya Idul Fitri 1436 H, saya melaksanakan shalat Eid di Masjid Agung Jawa Tengah bersama teman seperjuangan. Kami berangkat pukul 05.00 WIB, lebih cepat karena takut kehabisan tempat di bagian depan. Setiba di masjid, kami bertemu dengan teman yang tidak pulang kampung juga. Yah, saling curhat-curhatan tentang apa yang dirasakan. Tak ada bedanya dengan yang saya rasakan. Ini foto saya before and after shalat Eid di Masjid Agung Jawa Tengah.

Jangan salah nebak yaa.. saya memakai peci kuning. Laki-laki diujung kanan itu Gugun Gunawan, kuliah Teknik Sipil semester 7. Perempuan berjilbab kuning itu Hayati, jurusan Kebidanan semester akhir. Perempuan di sebelahnya itu Juli, teman Hayati di jurusan Kebidanan. Oktober nanti mereka wisuda bareng. Mari kita doakan semoga mereka lancer wisudanya.

Foto kebersamaan anak PESANMASA UNISSULA
Foto kebersamaan anak PESANMASA UNISSULA

Empat hari setelah lebaran, di pagi yang cerah, saya dikagetkan dengan sebuah surel dari PPI Perancis, Panitia Lomba OKTI 2015. Saya dinyatakan lolos, dua abstrak sekaligus dinyatakan lolos. Bersyukur banget. Ternyata ada berkahnya juga saya tidak pulang kampung lebaran ini, sehingga bisa fokus menulis Karya Ilmiah.

Akhir cerita, saya cuman mau titip pesan, jangan pernah sia-siakan waktu yang telah ada, aturlah waktu Anda sebaik mungkin. Dalam menuntut ilmu simpanlah dibenak Anda, tekad untuk membahagiakan orang tua. Karena doa kedua orang tua sangat mujarab buat kita kelak.

Oh iyah, sekalian mau mohon maaf lahir dan batin  untuk seluruh warga Indonesia. Semoga amal ibadah kita diterima Allah SWT. Semoga kita dapat berjumpa dengan bulan Suci Ramadhan tahun depan dengan limpahan keberkahan.

BAGIKAN
Berita sebelumyaSang Perantau
Berita berikutnyaZona Nyamanku Tertinggal Jauh di Belakang
Lahir 18 Mei 1994 di Kendari Sulawesi Tenggara, menempuh pendidikan di SDN 1 Ambalodangge, SMPN 2 Ranomeeto, SMA Negeri I Ranomeeto. Sekarang sedang menempuh S1 Program Studi Pendidikan Matematika di Universitas Islam Sultan Agung (UNISSULA) Semarang. Penulis yang biasa di sapa “Sul/ Jago” ini mempunyai motto semangat terus tanpa henti.

TIDAK ADA KOMENTAR

Tinggalkan Pesan Balasan