Menghidupi Hidup

Menghidupi Hidup

0
BAGIKAN
Birmingham, United Kingdom

Kemarin saya dikejutkan dengan berita rekan pelajar Indonesia di Jerman yang mengakhiri hidupnya justru di awal tahun. Pilu rasanya meski kami tak saling kenal. Jika ditanya sebab pastinya apa, mungkin hanya dia yang tahu. Namun dari kasus serupa, kita mungkin setuju bahwa tekanan bathin dan kesendirian adalah pemicu utama. Fenomena kelu ini mengingatkan kita para pejuang di negeri orang sekaligus teman-teman di Indonesia.

Kami yang sedang berjuang sama-sama sudah merasakan bagaimana tekanan menjelang ujian dan disertasi. Momen kami begadang di perpus, mie instan yang dimakan pagi-siang-malam, hingga tangis saat nilai keluar, memang tak pernah kami unggah. Orang hanya melihat foto-foto keren lalu menimpali dengan komentar ‘Enak ya jalan-jalan terus, belajarnya kapan?’. Sindiran halus yang berubah jadi nyinyir dan kini menjadi stigma. Padahal tak semua orang tahu sistem perkuliahan padat dan libur transisi musim. Jalan-jalan mungkin satu opsi untuk menyegarkan kembali otak kami. Tenang, kami tidak sengaja bolos kelas, amit-amitnya remedial, atau sampai makan nasi aking hanya demi jalan-jalan. Jadi, bagi kalian yang di Indonesia, dibanding suudzon lebih baik menyemangati.

“Perkataan yang menyenangkan adalah seperti sarang madu, manis bagi hati dan obat bagi tulang-tulang.”

Untuk kita yang sedang berjuang, aku hanya ingin bilang: HEY, KAMU TIDAK SENDIRI! Pertama, berhenti membandingkan banyaknya tugasmu dengan temanmu yang lain, lalu merasa kamu yang paling susah. Tiap kita sudah punya jatah tekanan studi masing-masing, tak perlu iri. Kedua, saat kamu stres, lakukan hal kecil yang membuatmu bahagia. Misalkan aku, sesimpel aku ke kafe kopi sambil baca buku atau nulis blog. Atau berkunjung ke rumah temanku yang kelima penghuninya kocak. Main Jenga sambil nyanyi dengan nada fals lalu terbahak. Kamu juga bisa buang stres kamu dengan memasak sama teman serumah, nonton film, Skype sama orang terdekat, atau sesederhana buka 9gag!

Ketiga, jangan terlalu terbeban dengan nilai. Tujuan utama kita di sini memang kuliah, usahakanlah yang terbaik. Namun, saat hasilnya di bawah ekspektasimu, jangan pernah labeli dirimu dengan kata ‘gagal’. Kalau kamu hanya ingin ilmu, kamu tinggal baca buku. Kalau kamu hanya ingin gelar, kuliah saja di Indonesia. Ribuan mil kamu sebrangi untuk mencari lebih dari itu: pengalaman hidup dan pola pikir yang lebih luas. Keempat, yang bagiku paling penting. Jika kamu sudah berada di titik nadir dan merasa sendiri, yakinlah masih ada kekuatan di luar dirimu. Kamu mungkin enggan bercerita masalahmu yang terdalam dengan teman baru, maka curhatlah sama Tuhan. Jika sesak, menangislah hingga puas. Lalu tenangkan dirimu dengan berdoa.

“Janganlah kamu kuatir akan hari besok, karena hari besok mempunyai kesusahannya sendiri. Kesusahan sehari cukuplah untuk sehari.”

Tepuk Semangat,
-MRRS-

TIDAK ADA KOMENTAR

Tinggalkan Pesan Balasan