Menikmati Keindahan Jerman bersama WandernRuhr

Menikmati Keindahan Jerman bersama WandernRuhr

Catatan Ramadhan 1435 H - 25 Ramadhan

1
BAGIKAN
Musim Semi di Jerman

Di akhir musim panas tahun lalu, aku dipertemukan dengan sekelompok anak muda yang mempunyai kegemaran yang sama denganku, bertualang menikmati alam. Kata orang, persahabatan itu bukan lantaran lamanya saling mengenal, tapi kecenderungan jiwa, itu saja. Aku menemukan mimpi-mimpiku bersama sahabat-sahabatku ini, menjelajahi pelosok hutan, menikmati harum rerumputan dan desir angin belaian alam. Pada sehelai pagi nan sejuk di awal September tahun lalu, sebuah perjalanan panjang pun dimulai. Perjalanan tentang persahabatan dan butir-butir rindu yang kami kumpulkan untuk tanah kelahiran.

Nederland
Nederland

Aku percaya, setiap pertemuan di dunia ini terjadi bukan karena kebetulan. Seorang guruku pernah bercerita, bahwa segala fenomena acak di alam ini disebut acak karena manusia saja yang belum menemukan polanya. Sesungguhnya memang ada formula-formula yang telah tersusun dengan sempurna di balik segala peristiwa. Begitu pula dengan pertemuanku dengan sahabat-sahabatku ini, seperti tanpa sengaja dan tanpa rencana. Pagi itu, embun masih tersisa pada helai-helai daun dan rerumputan. Hari-hari di awal September adalah masa-masa pergantian musim, ketika musim panas belum sepenuhnya beranjak, tetapi musim gugur pun belum sepenuhnya tiba. Petualangan pertama kami dimulai pada pagi yang masih sepi, ketika gerbong-gerbong kereta regional menuju Heimbach mengantarkan kami ke Taman Nasional Eifel, sebuah taman nasional yang terletak di sebelah tenggara kota Aachen.

Hari itu sekaligus menjadi pengalaman pertama bagiku menjelajahi taman nasional di Jerman. Aku kagum pada sistem yang diatur oleh pemerintah Jerman untuk melestarikan alam tanpa mengesampingkan potensi lokal yang sudah lama terbangun di sekitar taman nasional. Di sepanjang wilayah perbatasan hutan dan pemukiman, para penduduk tetap bisa mengusahakan ladang dan tanah pertanian. Sistem yang terintegrasi ini kemudian dibangun untuk dijadikan sumber perekonomian yang lain, pariwisata. Area taman nasional sekaligus juga menjadi guru, layar terkembang dari sang alam. Salah satu kearifan alam yang kukagumi dari orang Jerman adalah bagaimana mereka menjaga sumber-sumber air. Sungai terpencil di tengah hutan akan sama jernihnya dengan danau-danau di pinggiran kota atau aliran selokan di sepanjang jalan pedesaan.

1
2
3
4
BAGIKAN
Berita sebelumyaAku, Kakiku, Belajar dan Mengenal Hal Baru
Berita berikutnyaMenjadi Perantau di Negeri Formosa
Mahasiswa Doktoran Ruhr Universität Bochum Jerman. Lahir di Tanjungpandan, Belitong pada suatu dini hari di bulan September. Anak bungsu dari dua bersaudara ini sejak kecil memiliki minat lebih terhadap dunia seni, namun jalan hidup telah membawa dirinya "bermain-main" dengan dunia teknik hingga saat ini. Masa kecil yang dihabiskannya di Pulau Belitong menginspirasi sebagian besar tulisan-tulisannya. Di sela-sela kesehariannya berakrab-akrab dengan medizintechnik, dia mengisi waktu luangnya dengan bepergian, hiking, membaca, menulis, dan memotret.

1 KOMENTAR

Tinggalkan Pesan Balasan