Menjadi Perantau di Negeri Formosa

Menjadi Perantau di Negeri Formosa

1
BAGIKAN

Saya anak rantau dari pulau yang berbentuk huruf K di peta Indonesia, tepatnya dari kota Makassar, Sulawesi Selatan. Saat ini saya sedang melanjutkan pendidikan di negeri serial Meteor Garden yang terkenal sekitar tahun 2002. Yup, Taiwan.

Saya tidak pernah menyangka langkah saya bisa sejauh ini, meninggalkan zona ternyaman saya, tinggal sangat jauh dari orang tua. Inilah mimpi kecil yang menjadi takdir Allah untuk lanjut sekolah lagi tetapi harus di luar Sulawesi yang membawa saya sampai di titik ini.

Awal perantauan saya bermula ketika saya mengikuti seleksi Beasiswa Calon Dikti Vokasi tahun 2013. Ketika itu, akhir tahun 2013 saya menerima kabar bahagia bahwa saya lolos dan maju ke tahap pelatihan bahasa di Bandung. Disinilah awal kehidupan rantau seorang anak perempuan yang sebelumnya tidak pernah keluar ‘kandang’.

Salah satu hal terberat saya ketika merantau adalah beradaptasi dengan lingkungan baru. Maklum saja, saya orang yang pemalu dan minim pengalaman terhadap dunia luar alias anak rumahan. Dan hal yang paling saya takutkan dari merantau adalah saya akan mati gaya kalau bertemu dengan orang yang bebeda suku dan budaya. Untungnya, selama 6 bulan pelatihan, saat itu saya bertemu dengan teman-teman yang sangat ramah dan koplak yang akhirnya menjadi saudara baru, tepatnya saudara seperjuangan dikala itu. Inilah keluarga baru saya.

Setelah melalui proses yang sangat panjang dan dilengkapi dengan drama birokrasi khas pemerintah Indonesia, sampailah saya di tahap wawancara dan dinyatakan lulus. Alhamdulillah, 2 September 2014 untuk pertama kalinya saya menginjakkan kaki di negeri Formosa ini.

Menjadi mahasiswa rantau di negeri ini tidaklah mudah. Problematika pertama bagi kebanyakan anak rantau adalah makanan. Bagi Muslim seperti saya, sangat sulit menemukan makanan halal yang pada akhirnya menuntut saya untuk memasak setiap hari, atau pilihan lain adalah menjadi vegetarian dengan menu khas Taiwan; didominasi oleh aroma jahe, yang saya tidak begitu suka.

Kedua, saya dan kelima teman saya adalah mahasiswa Muslim pertama di daerah Huwei ini, sebuah kota di bagian selatan negara Taiwan. Tak perlu dipertanyakan lagi, masjid tidak akan pernah kami temukan kecuali menyempatkan diri main ke ibukota, di Taipei, dengan waktu tempuh 3,5 jam menaiki U Bus dari Huwei, kota tempat tinggalku.

Menjadi muslim dan memakai jilbab adalah hal yang sangat langkah di daerah ini. Setiap kali kami mengunjungi pusat keramaian, kami selalu menjadi pusat perhatian. Lucunya, pernah suatu hari kami berjalan-jalan ke pasar, pemilik toko meminta foto kepada kami, mungkin mereka menganggap kami artis, entahlah. Saya menjadi kikuk diajak berfoto.

Ketiga, kendala bahasa yang membuat saya sering kali misunderstanding. Mungkin ini adalah salah saya yang sebelumnya tidak pernah membayangkan negara ini sebagai negara tujuan saya kuliah, karena itu skill bahasa mandarin saya 0%. Bahasa Inggris pun disini tidak berbunyi, saya kebanyakan menggunakan bahasa yang paling universal yaitu bahasa tubuh. Sampai saat ini skill bahasa saya hanya sebatas membeli dan menawar sesuatu di pasar. Karena menurut saya, mempelajari bahasa mandarin itu sangat susah, hurufnya keriting-keriting, pelafalannya susah karena memiliki empat nada yang jika salah nada bisa membawa ke makna yang berbeda.

Enam bulan telah berlalu sejak pertama kali saya mendarat di negeri asing ini, saya nyatanya bisa survive juga karena orang-orang Huwei terkenal dengan keramahannya dan membuat saya betah. Inilah pesan dan kesan saya sebagai anak rantau yang baru satu semester ini.

Salam hangat dari negeri Formosa,
Nursyamsi Amin

BAGIKAN
Berita sebelumyaMenikmati Keindahan Jerman bersama WandernRuhr
Berita berikutnyaMy Golden Ticket to A New Life
Mahasiswa rantau berdarah bugis Sinjai. Saat ini, melanjutkan program Master di tanah Formosa (Taiwan). “Jika kamu belum pernah membuat mimpi setinggi-tingginya, maka lakukan lah. Tidak ada kata terlambat toh mimpi tidak mengenal usia, dan rasakan nikmatnya ketika mimpi itu terwujud dengan jalan yang tidak pernah teduga yang sesungguhnya telah diatur olehNya”.

1 KOMENTAR

Tinggalkan Pesan Balasan