Mimpi Gisela

Mimpi Gisela

0
BAGIKAN
Football Dream
Football Dream

“Aaaahh!!” teriakan tersebut memaksa wasit untuk menghentikan pertandingan. Suasana mendadak sunyi akibat tekel yang dilakukan oleh pemain nomor 13 terhadap penyerang andalan di fakultas kami, Marcel. Aku tidak pernah melihat ekspresi wajahnya yang terlihat menahan sakit yang amat luar biasa, ataupun mendengar teriakan sekencang itu keluar dari mulutnya. Wasit pun tanpa basa basi mengeluarkan kartu merah untuk pemain nomor 13 atas tekel horornya terhadap Marcel. Marcel segera ditandu oleh fisioterapis tim, dan pertandingan segera dilanjutkan memasuki extra time. Aku tidak menonton pertandingan tersebut sampai habis, melainkan bergegas menuju ke ruang perawatan dan menunggu hasil pemeriksaan dokter terkait kaki Marcel.

“Kamu beruntung. Tempurung lutut kamu bisa hancur jika tekel lawan lebih keras,” ujar Dokter sambil menunjukan hasil rontgen tempurung lutut Marcel. “Proses pemulihan membutuhkan waktu paling sedikit 8 bulan, setelahnya kamu saya pastikan bisa berjalan seperti sedia kala. Namun..,” Dokter terdiam. “Ada apa dok?” tanya Marcel penasaran. “Marcel, saya sarankan kamu untuk tidak bermain sepak bola lagi. Ada kemungkinan jika kamu bermain lagi, maka tempurung lututmu tidak bisa menahan kerasnya pertandingan sepak bola,” jelas Dokter dengan wajah yang agak lesu. Aku menatap Marcel dengan penuh penyesalan. Sepak bola adalah hal yang Marcel amat gemari. Aku tidak bisa membayangkan perasaannya ketika sesuatu yang amat dia gemari, tiba-tiba direngut secara paksa. Tetapi ada yang aneh. Marcel tetap tersenyum. Padahal, Dokter sudah meminta Marcel untuk tidak melanjutkan kariernya di bidang sepak bola.

Wasit meniupkan peluit tanda permainan telah berakhir. Akhirnya setelah berjuang selama 90 menit di lapangan, Fakultas Manajemen Olahraga berhasil memenangkan kejuaraan antar kampus untuk yang ketiga kalinya dalam lima tahun terakhir. Marcel terlihat sangat senang dengan pencapaian ini. Aku pun segera menghampirinya untuk sekedar mengucapkan selamat. “Selamat ya! Fakultas lu juara lagi tahun ini!” ucapku dengan nada riang. “Hehe iya terima kasih ya. Tapi fakultas lu kalah lagi di final. Nggak apa-apa tuh?” tanya Marcel sambil terkekeh. Aku memang kecewa melihat fakta fakultasku dikalahkan oleh fakultas Marcel untuk kedua kalinya di final. Namun tidak apa-apa, mereka bermain lebih baik kok ketimbang fakultasku. “Gua mau ngerayain kemenangan fakultas nih, lu ikut nggak? Tanya Marcel. Aku menggeleng dengan cepat. “Bisa-bisa dimusuhin gua sama satu fakultas,” ujarku memberi alasan. Marcel tertawa mendengar alasanku. “Ya sudah. Besok gua traktir makan deh. Gimana?” “Boleh! Sushi ya!” jawabku dengan cepat. “Boleh. Gua pergi dulu ya! Paling nanti pulang tengah malam.” “Iya. Hati-hati ya.”

“Telepon mama nggak ya?” gumamku sesaat setelah sampai di kontrakan. Aku berinisiatif menelepon mama untuk mengabari kalau fakultas Marcel menang turnamen tahun ini. “Halo? Kenapa Gisel?” tanya mama di seberang sana. “Halo ma. Fakultas kak Marcel juara lagi tahun ini,” ujarku dengan nada kecewa. “Lho kamu nggak senang fakultas abangmu juara? Bangga dong harusnya kamu punya abang yang bisa membuat sebuah fakultas yang nggak pernah menang turnamen…” “Iya ma bercanda kok Gisel bercanda,”dengan segera aku memotong omelan mamaku sebelum menjadi-jadi. “Aku cuma kesal aja kenapa kalau fakultasku selalu kalah di final akhir-akhir ini,” ujarku memberi alasan. Terdengar suara cekikikan dari mama. “Kenapa ma?” tanyaku penasaran. “Fakultas kamu kayaknya sial banget ya abis abangmu pindah fakultas hahahaha,” kata mama dilanjutkan dengan tertawa lepas. Mendengar tertawa itu sesaat aku menyesal telah mengabari mama. “Yasudah ma Gisel cuma mau mengabari itu aja. Kalau mau menelepon kak Marcel besok saja. Dia lagi makan-makan sama tim-nya,” ujarku. “Ya sudah kalau begitu. Kamu jaga diri baik-baik ya. Mama besok telepon kak Marcel kok. Daahh,” lalu mama menutup teleponnya.

Aku masih ingat betul ucapan Marcel setelah Dokter meminta untuk tidak bermain sepak bola lagi. “Tidak apa-apa dok. Kalau ingin berkarier di sepak bola kan tidak harus sebagai pemain bola,” ujarnya. Semula aku bingung apa yang dimaksud olehnya. Namun akhirnya aku mengerti setelah dia memutuskan untuk pindah dari Fakultas Ilmu Olahraga, menuju Fakultas Manajemen Olahraga.

“Lu mau pindah fakultas cel? Kenapa?!” Tanyaku penuh dengan keheranan. Marcel tersenyum mendengar pertanyaanku. “Dengan kondisi lutut kayak begini, olahraga macam apapun bakal susah,” ujarnya. “Kalau nggak salah gua udah bilang kayaknya. Kalau mau berkarir di sepak bola ya nggak harus jadi pemain bola,” tambahnya sambil tersenyum. “Terus mau jadi apa dong?” tanyaku yang masih bingung dengan alasannya pindah fakultas. “Hehe. Mau jadi Pak Sudjarwo!” jawabnya dengan nada jenaka. “Pak Sudjarwo? Apa hubungannya pemain bola dengan…” aku terdiam sebentar, lalu sadar bahwa aku selama ini hanya berpikir di dalam kotak kecilku ini. “Gimana? Sudah paham kan?”tanya Marcel dengan senyum khasnya. “Jadi… Pelatih?” tanyaku. Marcel mengangguk dengan yakin. “Tahu nggak sih, banyak kok pelatih dunia yang nggak mempunyai karir yang bagus selama menjadi pemain sepak bola, tapi ketika menjadi pelatih, mereka justru malah ‘bersinar’,” jelasnya. “Mulai dari Nil Maizar, Rahmad Darmawan, Beny Dolo dari dalam negeri, sampai pelatih internasional seperti Jose Mourinho, Pep Guardiola, dan juga Juergen Klopp,” tambahnya. “Pepatah ‘banyak jalan menuju Roma’ dan ‘kalo ada kemauan, pasti ada jalan’ itu benar adanya kok. Lu tahu kalau gua cinta sama sepak bola. Kalau memang gua nggak bisa jadi pemain sepak bola, jadi pelatih juga nggak apa-apa. Kalau memang jalan yang akan gua lewati bakal membawa gua sampai dengan tujuan, kenapa nggak gunain jalan tersebut?”

Kalimat terakhir itu ku katakan berulang-ulang. “Kalau memang jalan yang akan gua lewati bakal membawa gua sampai tujuan, kenapa gua nggak lewati jalan tersebut? Gumamku. Perlahan, senyum ini mengembang dengan sendirinya. Kasus cedera tempurung lutut bisa saja menghancurkan mentalnya. Namun, entah mengapa hal ini membuat dia semakin kuat dan semakin semangat mengejar mimpinya. Di dalam hatiku yang mungil ini, aku merasa lega dan bangga mempunyai abang seperti dia. Lega, karena dialah yang membuka jalan pikiranku yang sempit ini, dan juga bangga, karena tidak banyak orang di dunia ini yang mempunyai seseorang yang bermental baja dan mampu mengarungi berbagai tantangan yang dia hadapi.

Jalan yang dia tempuh memang cukup terjal. Dia sempat tidak diizinkan pindah oleh Dekan Fakultas Ilmu Olahaga, karena menurut beliau Marcel adalah aset berharga untuk Fakultas ini. Namun, dengan penjelasan yang jelas serta masuk akal, Dekan mempersilahkan Marcel pindah fakultas dan malah mendukung dia supaya dia bisa mencapai cita-cita yang diinginkan. Tidak hanya sampai di situ, dia tidak langsung diterima oleh mahasiswa Fakultas Manajemen Olahraga. Berkat pengetahuannya soal sepak bola, serta kepribadiannya yang cair, dia berhasil membaur dengan mahasiswa Fakultas Manejemen Olahraga. Dan hanya dalam kurun waktu ½ tahun, dia dipilih sebagai pelatih Fakultas Manajemen Olahraga, menggantikan pelatih sebelumnya dengan alasan pelatih sebelumnya pindah pekerjaan ke kota lain. Pemilihan Marcel menjadi pelatih memang tepat. Di tahun pertama saja dia sudah berhasil membawa Fakultas Manajemen Olahraga ke final, meskipun pada akhirnya mereka kalah melawan Fakultas Teknik Mesin. Barulah di tahun kedua, dia berhasil memenangkan kompetisi antar fakultas melawan fakultas yang sama di tahun pertamanya.

Suatu saat nanti, aku ingin menjadi seperti dia. Aku ingin menjadi orang yang bisa mengalahkan semua tantangan yang ada di depanku. Aku ingin menjadi orang yang berpemikiran luas, disaat situasi memaksaku untuk berpikir di dalam kotak ini. Aku ingin mendapat prestasi yang tidak kalah mentereng dibanding prestasinya. Dan aku ingin melampauinya. Aku yakin, bahwa aku pasti bisa melakukannya.

VIAMohammad Adrianto Sukarso
BAGIKAN
Berita sebelumyaPilihan
Berita berikutnyaBola Dunia
MahasiswaRantau.com adalah sebuah website yang menjadi media bagi Mahasiswa Indonesia yang sedang menempuh pendidikan di luar kota atau luar negeri.

TIDAK ADA KOMENTAR

Tinggalkan Pesan Balasan