Negara Ini Lahir dari Mahasiswa Rantau

Negara Ini Lahir dari Mahasiswa Rantau

0
BAGIKAN

Tan Malaka
Tan Malaka

Tujuan pendidikan itu untuk mempertajam kecerdasan, memperkukuh kemauan serta memperhalus perasaan

TAN MALAKA

Gagasan mengenai Indonesia yang terakhir malah muncul oleh Presiden pertama Indonesia yakni Ir. Soekarno, lima tahun setelah Tan Malaka dan dua tahun setelah Hatta, dalam “Indonesia Menggugat (1930)”. Indonesia Menggugat merupakan pidato pembelaan yang dibacakan oleh Soekarno pada persidangan di Landraad, Bandung. Soekarno sendiri adalah seorang pemuda yang lahir di Surabaya pada 6 Juni 1901. Soekarno kecil justru tak tinggal bersama orang tuanya di Blitar. Ia malah indekos di rumah milik H.O.S. Tjokroaminoto di Surabaya. Di rumah beliau inilah Soekarno muda bertemu tokoh–tokoh pergerakan seperti Semaoen (tokoh komunis Indonesia) dan Kartosoewirjo (tokoh Negara Islam Indonesia). Selepas dari rumah HOS Tjokroaminoto, ia merantau untuk melanjutkan studi di Technische Hoogeschool (THS) yang kini dikenal dengan Institut Teknologi Bandung. Dan tamat dengan gelar Insinyur.

Dari ketiga tokoh di atas, ada sebuah benang merah yang menarik untuk dicermati selain ideologi mereka bersama yang anti penjajahan. Ketiganya adalah seorang mahasiswa rantau. Mereka berani untuk keluar dari kenyamanan hidup bersama orang tua dan memilih menjemput mimpi–mimpinya di perantauan sebagai seorang terpelajar intelektual. Meski tabu dalam sejarah, mungkin bisa dibayangkan bagaimana seandainya jika Tan Malaka memilih hidup di Suliki saja. Hatta menghabiskan hidupnya sebagai pedagang di Bukit Tinggi dan Soekarno lebih menikmati hidup di Blitar bersama orang tua. Tidak! Mereka memilih merantau.

Maka tidak heran jika berani dikatakan bahwa negara ini lahir dari mahasiswa–mahasiswa rantau. Ketiga tokoh di atas telah menjadi bukti nyata bahwa merantau adalah salah satu cara untuk mendapatkan hidup yang lebih bermakna. Sebab sejatinya merantau merupakan universitas kehidupan yang mampu membentuk jiwa dan raga keluar dari kenormalan. Sehingga menjadi pribadi–pribadi yang tangguh, taktis, strategis dan kokoh dihantam ombak kehidupan. Tetapi dengan satu syarat pula tentunya. Merantau pun harus diiringi dengan tanggung jawab. Bukan sebagai ajang untuk kabur dari kerangkeng peraturan orang tua. Maka dari itu, kuduslah mereka–mereka, anak–anak muda yang berani merantau. Menuntut ilmu di luar dari zona nyaman. Mereka yang mau membentuk jiwa dan raganya menjadi sesuatu yang lebih baik, dinamis dan tidak statis, bebas tetapi bertanggung jawab.

HIDUP MAHASISWA RANTAU!!

1
2
BAGIKAN
Berita sebelumyaWuppietrees Family
Berita berikutnyaPasompe'
Afif Alhariri Pratama, biasa dipanggil Ucok, lahir di Wamena Papua pada tanggal 23 Juni 1987. Anak pertama dari lima bersaudara yang banyak menghabiskan masa kecil di Medan, jauh dari orang tua yang dulu berdomisili di Papua. Merantau ke Makassar untuk menuntut ilmu di Teknik Pertambangan Universitas Hasanuddin. Memiliki hobi jalan – jalan, menulis dan fotografi. Ketika kuliah diberi kepercayaan sebagai ketua Persatuan Mahasiswa Tambang Universitas Hasanuddin.

TIDAK ADA KOMENTAR

Tinggalkan Pesan Balasan