BAGIKAN

Dalam perjalanan dari Cordoba menuju Granada. Saya sepertinya salah membeli tiket bus. Harusnya tiket direkt, malah yang terbeli adalah tiket untuk bus transportasi lokal. Pantas murah! Akibatnya, perjalanan yang harusnya cuma 2 jam, menjadi 4 jam karena bus ini akan berhenti di setiap kota kecil yang dilewati. Beda dengan bus ALSA kemaren; dari Malaga ke Cordoba.

Baru saja satu jam perjalanan, saya kebelet buang air. Duh! Bagaimana cara menanyakan apakah bus ini ada toilet atau tidak? Duh, lagi! Saya takut juga mengganggu supir bus yang sedang serius menyetir.

Di samping saya, duduk seorang ibu yang tak dapat saya taksir umurnya. Saya memberanikan diri menyapa. Sang ibu membalas sapaan saya dengan bahasa Spanyol tentu saja.

Sayang, saya tak paham maksud sang ibu.

Tetiba saja seorang lelaki yang duduk di kursi seberang ikut menimpali setelah ia bertanya kepada supir.

“No.. no.. toilet!”, katanya sambil menggerak-gerakkan jari telunjuknya. Rupanya ia mencuri dengar pertanyaan saya dengan sang ibu. Ia mengerti sedikit English.

Saya menarik napas panjang. Tak ada toilet di bus ini, tapi ada wifi. Tapi saya sedang tidak butuh itu. Secanggih apa pun teknologi, tak kan bisa mengganti fungsi manusiawi.

Saya mencoba pasrah. Tapi kantung kemih tak paham artinya, 10 menit berikutnya saya bertanya kepada lelaki tadi.

“Will the bus stop in rest area?”

Dibalasnya singkat, “Momento!”, ia bertanya kepada supir bus.

Entah apa yang diucapkannya, yang saya pahami dari bahasa tubuh supir bahwa ia akan segera mencarikan solusi.

Saya men-sugesti diri untuk bersabar. Semoga saya tak harus merepoti penumpang lain.

“Un minuto!”, kata bapak supir sembari melirik kepada saya yang duduk di kursi paling depan sebelah kanannya.

Satu menit? Duh, definisi interval waktu saya sedang tidak karuan. Enam puluh detik bisa berarti enam puluh jam.

Tuhan, saya butuh keajaiban. Buatlah bensin bus ini habis, supaya bapak bus bisa berhenti di pom bensin. Tapi di tengah gunung begini?

Kemungkinan terburuk yang bisa terjadi adalah saya membajak bus ini dan memberhentikan paksa di tengah-tengah perkebunan zaitun. Biar lain ceritanya.

Badan saya mulai menggigil. Sang ibu menyadari kegelisahan saya, ia pindah ke kursi belakang; memberikan saya sedikit ruang.

Tetiba saja bapak supir berbicara di speaker bus. Saya tak tahu artinya tetapi sebagian penumpang jadi riuh. Lelaki tadi juga ikut berbicara.

1
2
BAGIKAN
Berita sebelumyaAkhir Petualangan Di Kampus
Berita berikutnyaTidak tersesat di Kampus Jepang dengan Leading Program
Menyelesaikan pendidikan di salah satu universitas swasta di Malaysia di bidang Mechanical Engineering. Akhir musim dingin tahun 2012, ia melangkahkan kaki lebih jauh menuju Benua Eropa. Di sebuah universitas di wilayah North Rhein Westphalia, Jerman, ia melanjutkan studinya di jurusan Metallurgy and Metal Forming.   Pecinta pantai dan penikmat senja ini juga suka travelling. Ia menuliskan kisahnya mengunjungi berbagai negara di Eropa dan Afrika dalam sebuah blog.   "Tulis semua mimpi yang kau mau! Biar Tuhan yang menghapus, yang tidak baik untukmu"

TIDAK ADA KOMENTAR

Tinggalkan Pesan Balasan