BAGIKAN
Suasana Dalam Mini Bus

NIKMAT DUNIA

Perlahan bus mulai memasuki wilayah perkotaan, akhirnya. Pikir saya akan menaikkan/menurunkan penumpang. Semoga saja penderitaan ini cepat berakhir walaupun ini hanya harapan semu. Bus ini selalunya berhenti di halte bukan di terminal.

Kami lalu tiba di parkiran dekat halaman sebuah restoran. Lelaki tadi meminta saya turun.

“Aseos.. rapid.. rapid!”

Saya paham Aseos, itu bahasa spanyol untuk toilet. Rapid? Hmm.. Apa rapid? Rapid Mass Transport? Saya masih bengong mencerna.

“Rapid.. Rapid!”, ulangnya lagi sembari memberi kode agar berlari dan menunjuk ke arah restoran.

“Ohh.. do you mean that restaurant has toilet and do you want me to make it fast?”, katanya saya memahami.

“Si… si.. un minuto!”, ia mengusir saya turun.

Pintu bus terbuka, saya meloncat dan berlari ke restoran. Restoran sedang ramai, ada pertunjukan bola, Villarreal melawan Barcelona. Skor 1-0 sekarang.

Saya pun buru-buru menyelesaikan urusan penting ini. Hajat yang terpenuhi, salah satu kenikmatan dunia yang tak ingin saya ganti dengan apa pun.

“Segala puji bagi Allah yang menjadikanku dapat merasakan kenikmatan buang air, memberiku kekuatan untuk buang air, dan menghilangkan penyakit dari diriku.” (HR. Ibnu As Sunni)

Namun ketika kembali memasuki bus, ada perasaan aneh yang meliputi. Jumlah penumpang tak berubah, setiap orang juga masih duduk di tempat yang sama. Saya lalu menyadari, bus ini tidak berhenti di terminal atau pun halte. Duh!

Saya kembali duduk di kursi saya tanpa perasaan bersalah. Dan bus pun perlahan melanjutkan perjalanan.

“Muslime?”, tanya lelaki tadi.
“Yeah, Alhamdulillah!”
“Me.. muslime!”, lanjutnya lagi. English yang seadanya.
“MasyaAllah! Assalamualaikum..!”, saya ingin ramah, ia yang membantu saya sedari tadi.
“Waalaikumsalam… ehm.. ehm…!”, balasnya. Sepertinya ia ingin berkata sesuatu tapi sulit.

Saya tersenyum dengan maksud, “Take your time. I can wait!”

“Arabic?”, tanyanya tiba-tiba.
“No, sorry!”, balas saya dengan perasaan malu. Muslim tapi tak belajar bahasa Arab.
“French?”, tanyanya lagi.
“Also No, but I know some Deutsch!”, kata saya mengakui.

Walaupun terdengar ingin basa-basi, saya membantunya merangkai kata. Sedikit banyak, ia baru saja membantu saya menyelesaikan suatu kepentingan.

Perlahan, saya menangkap maksudnya.

Rupanya ia yang meminta bus ini mencari toilet, memaksanya mampir di kota terdekat walaupun tak ada di daftar pemberhentian. Ia juga yang ikut meminta maaf kepada penumpang lain, waktu ketibaan di kota berikutnya sedikit terhambat. Begitu yang dikatakan supir lewat speaker tadi.

Saya buru-buru berterima kasih kepadanya, kepada supir, kepada ibu di samping saya, dan kepada penumpang lain.

“I feel bad, but thank you very much. Andalusians people are very kind and super outrageous. The most peaceful country that I ever visited!”, kata saya mengatupkan kedua tangan.

“Vielen vielen dank! Gracias muchus!”

Saya tak tahu apakah mereka mengerti perkataan saya, tapi saya salut dengan kesungguhan orang-orang Andalusia menjaga kota-kota ini. Mereka selalu berupaya meninggalkan kesan terbaik bagi setiap pengunjung. Terbukti dari setiap kota yang saya datangi sebelumnya, senyum ramah orang-orang di jalan selalu mengikuti. Bahkan ketika saya tersesat, mereka tak segan mengantari walaupun sempat berpikir mereka akan meminta bayaran; membuat saya merasa aman berkeliling kemana saja.

“Nurdin Hammad Besayev”, katanya menyebutkan nama setelah kami tiba di Granada.
“Its a good name!”, kata saya tersentak. Itu nama Bapak saya.
“Yeah, from Granada, Papa Morocco, Mama Bulgaria!”, lanjutnya lagi memperkenalkan diri.
“I see!”, lanjut saya sembari berjalan menuju halte, menunggu bus SN1 arah Los Pinillos.

“And your name?”, tanyanya.
“Alena Macca!”, jawab saya seadanya, hampir bersamaan dengan kedatangan bus.

Save by the bell! Saya menaiki bus, mengucapkan terima kasih sekali lagi dan melambai padanya.

“Nice to meet you!”
“Ma’assalamah!”, balasnya. Ia menunggu bus yang lain.

Dalam hati, saya tersenyum. Saya tak menyebut nama sebenar karena tak ingin ia dan penumpang-penumpang tadi mengingat saya sebagai mahasiswa Indonesia sedang kuliah di Jerman tak lulus-lulus, jalan-jalan sendiri di Andalusia dan kebelet pipis di bus lokal. Kalau pun besok-besok bertemu dan masih ingat, itu lain lagi ceritanya.

Bus pun melaju membelah kota, saya tahu akan ada banyak kejutan di Granada.


Alena Macca: kata yang tetiba terlintas, dalam bahasa bugis artinya dia (diri sendiri) yang lihai.

1
2
BAGIKAN
Berita sebelumyaAkhir Petualangan Di Kampus
Berita berikutnyaTidak tersesat di Kampus Jepang dengan Leading Program
Menyelesaikan pendidikan di salah satu universitas swasta di Malaysia di bidang Mechanical Engineering. Akhir musim dingin tahun 2012, ia melangkahkan kaki lebih jauh menuju Benua Eropa. Di sebuah universitas di wilayah North Rhein Westphalia, Jerman, ia melanjutkan studinya di jurusan Metallurgy and Metal Forming.   Pecinta pantai dan penikmat senja ini juga suka travelling. Ia menuliskan kisahnya mengunjungi berbagai negara di Eropa dan Afrika dalam sebuah blog.   "Tulis semua mimpi yang kau mau! Biar Tuhan yang menghapus, yang tidak baik untukmu"

TIDAK ADA KOMENTAR

Tinggalkan Pesan Balasan