Pasar Sentral: Senandung Rindu dari Kota Mülheim

Pasar Sentral: Senandung Rindu dari Kota Mülheim

0
BAGIKAN
Salah satu sudut kota Mülheim

Hari ke 29 Ramadhan 1436H, suhu di Mülheim mencapai 25 derajat celcius. Tepat di pukul 2 siang, saya menelpon Mama. Di sana pukul 8 malam lepas waktu Isya. Sedari pagi saya sudah membeli pulsa international, ingin mengobrol tanpa gangguan sinyal internet yang terkadang tak stabil di sana. Hari ini hari yang special, pulsa €10 itu siap dihabiskan demi momen ini. Pada dering ke tiga, telepon saya terjawab,

“Assalamualaikum, Mama!”, sapa saya pelan, terdengar suara riuh dari seberang sana.
“Waalaikumsalam, kau kah itu, Nak?”, balas Mama yang rupanya belum yakin dengan suaraku.
“Iye’, Ma..  Mama dimana?”, tanyaku.
“Masih di toko, belum pulang ini. Masih ramai!“, samar terdengar percakapan jual beli di sekitarnya
Jam 8 malam masih di Pasar aja. Di sana lebaran kapan?“, tanyaku lagi.
“Besok.. Kita juga mau pulang kampung. Mau jenguk Kakekmu sekalian ziarah kubur“, jawab Mama di tengah kesibukannya melayani pembeli.
“Pasar masih ramai?“, saya mulai terganggu dengan kebisingan klakson dan deru mesin mobil yang tak jauh darinya.
“Masih nih.. Kamu lebaran kapan?“, tanyanya lagi. Biasanya jika sibuk seperti ini, Mama akan mematikan telepon dan memintaku menelpon sebentar lagi. Tapi kali ini tidak, saya masih mendengar desah napasnya di ujung sana.
“Besok juga.. Ke kampung kapan?“, saya pun mempertahankan obrolan.
“Malam ini, tunggu toko tutup dulu!“, jawabnya lagi, masih dengan kesibukan jual beli.
“Kalo berangkat malam ini, yaa buruan lah tutup toko.. mau sampe kampung jam berapa, Ma?“, saya mulai khawatir dan sedikit kesal.

Jarak Makassar ke Kabupaten Sidrap kira-kira 5 jam perjalanan darat. Lepas isya pun pasar masih ramai saja. Tetapi ada rasa syukur yang tak bisa saya sembunyikan. Pasar ramai bertanda pemasukan kami pun jelas berbeda dengan biasanya. Saya pun teringat dengan suka duka keluarga kami di hari-hari menjelang Lebaran.

1
2
3
BAGIKAN
Berita sebelumyaRamadhan Ceria di Kota Daeng (Makassar)
Berita berikutnyaRangkaian Kisah Ramadhan di UNDIP Semarang
Menyelesaikan pendidikan di salah satu universitas swasta di Malaysia di bidang Mechanical Engineering. Akhir musim dingin tahun 2012, ia melangkahkan kaki lebih jauh menuju Benua Eropa. Di sebuah universitas di wilayah North Rhein Westphalia, Jerman, ia melanjutkan studinya di jurusan Metallurgy and Metal Forming.   Pecinta pantai dan penikmat senja ini juga suka travelling. Ia menuliskan kisahnya mengunjungi berbagai negara di Eropa dan Afrika dalam sebuah blog.   "Tulis semua mimpi yang kau mau! Biar Tuhan yang menghapus, yang tidak baik untukmu"

TIDAK ADA KOMENTAR

Tinggalkan Pesan Balasan