Pasompe’ (Bagian 2): Berani Kotor Itu Baik? Ah, Di Pesantren Tidak Berlaku!

Pasompe’ (Bagian 2): Berani Kotor Itu Baik? Ah, Di Pesantren Tidak Berlaku!

0
BAGIKAN
Sabiq dan Imigran Pesantren

Jombang, tahun 2004 di bulan Juni. Akhirnya setelah 3 hari tes penerimaan santri baru, saya dipastikan lolos dan menjadi seorang santri yang sakinah, mawaddah wa rahman. Tak ada yang lebih membanggakan sekaligus menyedihkan dari sebuah kata temu dan pisah.

Kenyataan pahit justru datang dari situasi dan kondisi Pesantren. Hati saya hancur !. Pesantren saya ini ternyata khusus untuk laki-laki. Tanpa ada campur tangan santri perempuan di dalamnya. Kalaupun ada perempuan, barangkali hanya seorang mbah-mbah tukang masak santri -yang kalau masak, ubannya jatuh ke dalam panci. Pahit. Sungguh.

***

Ibu dan tante saya mengantarkan  ke gerbang pintu Pondok Pesantren. Sesaat sebelum benar-benar membiarkan saya hidup mandiri sebagai seorang santri. Nampak wajah Ibu saya memerah karena ada tangis yang ditahan. Sedang tante saya hanya tersenyum dan menasehati. Saya hanya bisa diam tanpa merasa sedih apa-apa. Bapak saya memang saat itu tak bisa datang, bukan karena sibuk, melainkan tak ingin air matanya terlihat runtuh di depan anaknya. Bapak memang orang yang paling gengsi melepas tangis.

Setelah kepergian  Ibu  kembali ke rumah di Watampone, saya mulai menjalani hidup sebagai seorang santri. Saya ingat hari pertama di Pesantren hanya ada bahagia. Betul-betul bahagia. Jauh dari orang tua, tak ada ancaman tidur siang dan tentu punya banyak uang jajan,  Bahagia yang nyata. Sungguh !.

Saat itu saya belum punya seorang teman. Hanya ada seorang senior yang sabar membimbing saya. Uang jajan saya selama sebulan pun dipegangnya. Karena rasa ketidaknyaman dan demi kebebasan untuk hidup mandiri, uang jajan saya pegang sendiri. Alhasil, uang jajan sebulan  habis dalam seminggu. Tidak ada jalan  lain untuk menyambung hidup selain minta lagi.

***

Saya adalah orang yang paling takut minta uang sama bapak. Karena yang terbesit dalam bayangan saya hanya amarah. Memang bukan salah Bapak marah-marah, tapi saya yang terlalu boros. Uang bulanan sebesar 300 ribu saya habiskan hanya untuk jajan dan hura-hura di luar lingkungan Pesantren. Main PS, warnet-an, dan   makan lalapan, es dawet, cilok, cireng, ciamis, cikampek serta segala yang berawalan ci ci ci lainnya, saya lahap !. Saya sediri bingung, kenapa bisa serakus itu ?. Ah, mungkin itu karena efek baru pegang uang banyak dan tentu saja saya yang tidak bisa hidup hemat. Kata sekamar saya ‘Hemat itu beda tipis sama pelit,  Hemat berarti pelit sama diri sendiri’. Bodohnya, selama beberapa tahun; saya sepakat.

Sosok Ibu memang tempat mengadu terbaik selain kepada Tuhan. Biasanya ketika minta uang jajan, saya akan loby Ibu untuk minta uang kepada Bapak. Nah, susahnya ketika saya lagi marahan sama Ibu, mau  tidak mau saya harus minta kepada Bapak untuk lobby Ibu supaya minta uang sama Bapak. Haha, lupakan !

Saya rasa uang adalah masalah terbesar seorang perantau. Apalagi yang  hidup sendiri. Hal itulah yang memotivasi saya untuk mencari sahabat yang lebih dari sekedar teman. Ya, sahabat !. Harus orang Jawa, lebih untung lagi kalau orang Jombang. Supaya lebih mudah bertamu  kerumahnya. Syukur-syukur diadopsi, tentunya uang jajan saya terjaga.

Saya pun berkenalan dengan Izul, orang Jombang yang rumahnya dekat sekali. Tinggal lompat pagar Pesantren, jalan kaki 50 meter, jeng jeng.. kita sudah bisa menikmati rumahnya. Izul walaupun kakak kelas saya, tapi pengetahuannya setingkat dengan saya. Seperti Nobita dalam  film Mahabarata. Kebetulan lagi orang tua Izul adalah seorang pegiat warung  kopi langganan sejuta santri di Jombang. Ini merupakan peluang yang baik untuk dianggap anak kandung oleh orang tua Izul. Akan saya singkir kan Izul !.

Tahun 2005 hubungan saya dan Izul hancur. Ternyata dia tumbuh sebagai seorang santri hedon. Tidak lagi nongkrong di warung kopi, apalagi berteman dengan orang macam saya. Izul sekarang berubah jadi santri hipster, tiap hari selalu kabur dari kegiatan belajar Pesantren. Kerjanya hanya menonton bioskop di super swalayan terkenal Jombang bersama santri hipster lainnya. Sebenarnya saya juga ingin jadi santri hipster yang independent, tapi apa daya, langganan majalah Hai dan koran Soccer saja iuaran dengan teman-teman sekamar. Sulit!.

***

Memasuki tahun 2005, saya berada di kelas 2 MTs (setara SMP). Menurut saya tahun itu adalah puncak kerinduan akan kampung halaman. Rindu pelukan Ibu, ocehan dan bentakan Bapak, pertengkaran dengan adik, dan bersepeda sore bersama teman sebaya. Tiap malam saya menyempatkan diri untuk menangis dalam gelapnya malam dan kamar asrama. Saat semua orang terlelap dalam lelahnya hidup masing-masing.

Tak ada yang tahu kebiasaan saya selama hampir setahun. Hingga suatu hari, saat saya sedang asyik menikmati sendu-sendu tangis kerinduan, teman kamar saya terbangun dengan tiba-tiba. Dalam gelap gulita, dia berkata ‘Siapa? Heh.. siapa itu?’, dengan suara penuh getar menahan malu dan tangis, saya teriak ‘Ibuuuu..uu.. kembalikan sayaaaaa! Huah huah ah ah ah Ibuuuuuu.. Huaah’. Tak disangka, teriakan tangis itu menggema di seluruh ruang kamar yang gelap gulita dan cukup memberi efek seram. Dikiranya setan, teman saya akhirnya lari menerobos gelapnya kamar dan menabrak meja, kursi, ranjang, menginjak leher santri lainnya dan segala macam benda pusaka yang berserakan dalam kamar. Saya hanya  diam-diam kembali ke dalam selimut tanpa rasa bersalah dan mulai tertidur.

Kejadian itu ternyata menjadi trending topic di kalangan santri, bahkan para ustadz dan kyai sempat membicarakannya dalam beberapa pidato kepesantrenan (baca; kepresidenan). Kejadian ini pun diceritakan turun temurun tanpa pernah tahu  saya pelakunya. Sejak itulah saya berlatih menahan rindu akan kampung halaman.

Bagian 2 selesai.

BAGIKAN
Berita sebelumyaSehat Jiwa dan Raga di Negeri Pejalan Kaki
Berita berikutnyaHari Pertama Sebagai Alien Kecil
Muhammad Sabiq (lahir di Watampone, Sulawesi Selatan, Indonesia, 27 Juni 1992) adalah seorang Stand up comedian atau disebut juga pelawak tunggal (komika). Pria asli berdarah Bugis ini sejak tahun 2004 menghabiskan banyak waktunya di perantauan sejak SMP di salah satu Pesantren di Jawa TImur. Sabeq saat ini tercatat sebagai mahasiswa Pascasarjana S2 Universitas Islam Negeri Maulana Malik Ibrahim Malang (UIN Malang). Saat ini aktif sebagai Komika SUCI 6 Kompas TV, Stand Up Comedy Malang, Penyair Malam Puisi Malang dan Anggota Encompass Indonesia (Pendidikan Multikultural).

TIDAK ADA KOMENTAR

Tinggalkan Pesan Balasan