Pasompe’

Pasompe’

0
BAGIKAN
Pasompe

Di perantauan ini, saya bukan siapa-siapa.
Tapi di kepala, saya ingin jadi apa-apa.
Apapun!

——

Saya lahir di Kota Watampone, Kabupaten Bone, Sulawesi Selatan. Saya suku Bugis. Lahir dari sepasang orang tua yang Islami dan baik-baik. Tidak pernah korup apalagi suap. Mungkin hanya ibu saya yang (kadang) menggelapkan uang belanja keluarga ke saku pribadinya. Ini bukan aib, toh uang saku pribadi Ibu juga sering saya nikmati. Tentu ketika beliau tidak di rumah.

Saya memiliki seorang adik kandung, satu-satunya. Dia teman bermain saya sedari kecil. Kami bertemu sejak masih berupa sperma. Hanya saja saya menang taruhan homppimmppa, akibatnya harus jadi janin setahun sebelum dia.

Mari kita lewati masa kecil saya. Karena masa kecil saya, sama seperti kebanyakan anak kecil lainnya, yang suka tulis-tulis nama pakai t*t*t ketika kencing. Entah apa yang kami fikirkan saat itu. Tapi semoga tulisan kami bagus dan bisa terbaca. – Oh, maaf terlanjur curhat. Kita lanjut ya.

Sekolah Dasar (SD) saya habiskan penuh di Kota Watampone. Tidak ada yang spesial untuk mengisi cerita tentang perantauan. Hanya beberapa moment bepergian yang terkenang. Seperti rumah-rumah yang dibangun di atas lumpur di Kuala Enok, Riau. Bubur panas yang menjadi dingin dalam hitungan menit di Kota Bandung dan ibukota, Jakarta, yang sesaknya menembus pori-pori.

Tahun 2004 selepas SD, saya menyusun rencana melanjutkan pendidikan ke Sekolah Menengah Pertama (SMP). Angan saya pada SMP ini lebih liar; uang jajan sekolah bakal naik, siswi-siswi cantik dan lebih fresh dari anak ingusan SD dan tentunya saya akan punya sepeda pancal sendiri untuk berangkat sekolah. Tanpa bimbingan orang tua. Yeah! Kebebasan masa remaja akhirnya datang.

Awal tahun 2004, kabar berhembus tentang ide memasukkan saya ke Pondok Pesantren (PP). Perlahan angan saya akan SMP mulai musnah dengan kekecewaan. Tapi saya tidak putus asa! Saya susun kembali angan-angan saya bersekolah di SMP. Dalam hati saya meneguhkan diri, “Saya harus teguh dan kuat! Karena saya adalah… fans Ade Rai!”. FYI: Pengetahuan tentang Ade Rai pada masa itu cukup dianggap hipster di kalangan siswa-siswa lulusan SD macam saya. Hm!

Bulan Juli 2004, akhirnya saya resmi dimasukkan ke pesantren. Hal yang membuat saya terkejut, bukan karena saya harus tinggal di asrama pesantren dalam kurun waktu yang panjang. Bukan itu. Tapi lokasi pesantren ini. Lokasinya diluar perkiraan saya; Kota Jombang di Pulau Jawa! Jawa! Jaa..wa!

Pertama kali mendengar nama Kota Jombang, di otak saya bermuntahan pelajaran-pelajaran sejarah tentang keterasingan Ir. Soekarno di pulau-pulau terpencil Indonesia. Satu-satu ketakutan saya muncul. Akankah saya bernasib sama dengan Soekarno? Apakah Ibu Bapak saya setega itu? Atau jangan-jangan…. saya anak siapaaa, Tuhaaan? Ah, pikiran saya kalut saat itu.

Pada akhirnya, seminggu sebelum keberangkatan ke Pulau Jawa, saya hanya bisa pasrah dan tabah. Toh, saya hanyalah anak kecil lulusan SD yang bau kencur dan ketek.

Keberangkatan saya ke Pulau Jawa ini ternyata sampai ke telinga kakek saya yang berada di kampung halaman Bapak, Kota Palopo, Sulawesi Selatan. Sebagai orang Bugis yang sangat menyelami prinsip-prinsip hidup manusia Bugis. Kakek saya senantiasa berpesan dan berpetuah akan kerasnya hidup sebagai pasompe’ (perantau). Kalimat yang tidak akan pernah saya lupa, ketika beliau berkata:

Narekko lao ki ri kampponna tau’e,
Ketika kamu pergi ke kampung orang,
Aja lalo muoto tenga’ esso meni.
Jangan sekali-kali bangun kalau sudah siang.
Otto maele ki, pakkasiri yaro manu’e.
Bangun pagilah, permalukan itu Ayam.
Insyaallah, maddeppe barakka’na puang’E.
Insyaallah, berkah Tuhan senantiasa mendekati.

Pesan ini betul-betul menggetarkan gendang telinga saya hingga otak saya merespon untuk senantiasa mengingatnya di tanah rantau. Sayangnya, saya adalah anak kecil yang nakal. Jangankan dewasa, sunnat saja belum.

Seminggu. Waktu yang cukup untuk bermain sembari mengucapkan selamat tinggal kepada tetangga, kawan bermain, dan gebetan-gebetan masa kecil saya. “Hei, gebetan! Camkan! I love you! Always in my mind. F*ck you.

—-

Bagian 1 selesai.

BAGIKAN
Berita sebelumyaNegara Ini Lahir dari Mahasiswa Rantau
Berita berikutnyaDorm Mate/House Mate for a Lazy Student Like Me
Muhammad Sabiq (lahir di Watampone, Sulawesi Selatan, Indonesia, 27 Juni 1992) adalah seorang Stand up comedian atau disebut juga pelawak tunggal (komika). Pria asli berdarah Bugis ini sejak tahun 2004 menghabiskan banyak waktunya di perantauan sejak SMP di salah satu Pesantren di Jawa TImur. Sabeq saat ini tercatat sebagai mahasiswa Pascasarjana S2 Universitas Islam Negeri Maulana Malik Ibrahim Malang (UIN Malang). Saat ini aktif sebagai Komika SUCI 6 Kompas TV, Stand Up Comedy Malang, Penyair Malam Puisi Malang dan Anggota Encompass Indonesia (Pendidikan Multikultural).

TIDAK ADA KOMENTAR

Tinggalkan Pesan Balasan