Mahasiswa Rantau: Pesan Kebangkitan dari Jerman

Mahasiswa Rantau: Pesan Kebangkitan dari Jerman

11
BAGIKAN
Elissenbrunnen, Aachen. Bersama Ricky Elson dalam Tour de Aachen

Aachen, kota kecil di ujung barat Jerman ini mulai dikenal setelah film Habibie Ainun rilis di tahun 2012 lalu. Film ini berhasil membuka mata masyarakat Indonesia tentang sosok Bapak B.J Habibie, seolah ikut merasakan perjuangan beliau ketika pertama kali datang ke Jerman hingga prahara sidang istimewa di tahun 1998 itu. Satu sentilan kecil dari film itu, terlambat untuk membela apalagi mendukung. Peristiwa yang telah terjadi 14 tahun lalu itu cukup menjadi catatan sejarah bangsa Indonesia yang patut diceritakan kepada anak cucu di masa mendatang. Toh catatan itu kini berupa film.

“Jerman dapat ilmunya, Indonesia dapat antrian panjang nonton filmnya“, begitu kata Abdur, komika StandUp Comedy Indonesia.

Hari ini (25/03), Aachen mendapat kunjungan singkat dari seorang teknorat pengangguran “asal“ Jepang. Mudah sekali menemukan informasi tentang dirinya. Pun, media-media masih gencar menuliskan namanya di headline berita. Maka tulisan ini tidak akan bercerita tentang kisah sedihnya bersama Selo, Gendhis, dan Tucuxi. Terlalu mainstream.

Aachen sedang cerah hari ini, membagikan hangatnya ke seluruh penjuru kota. Awan putih pun berarak, beriring dengan hembusan angin di awal musim semi. Putra Petir itu pasti sedang ber-mood baik hari ini, setelah beberapa hari kemarin ia melihat awan kelabu di langit Belanda.

Ricky Elson meluangkan waktunya dari mengurusi baling-baling kayu di Ciheras demi memenuhi undangan mahasiswa dari Jerman dan Belanda. Seminggu lebih, beliau mengitari dua negara ini dengan penampilan seadanya, bahkan lebih sederhana daripada mahasiswa-mahasiswa yang setia membuntutinya di setiap kota.

Acara Ngobrol Aachen yang didukung oleh PPI Aachen itu dibuka secara khidmat dengan menyanyikan lagu Indonesia Raya, dengan maksud untuk meluruskan kembali niat yang mungkin sempat berbelok karena terbuai oleh indahnya hari berlangitkan Eropa. Ruang kecil di lantai bawah Humboldt Haus bergemuruh, semangat nasionalisme sedang membara di sana, dari nafas-nafas mahasiswa berbagai bidang akademik yang mungkin sedang lupa kapan terakhir kali menyanyikan lagu kebangsaan.

“Niat kita telah menyatu, demi Indonesia“, kata MC di akhir nada lagu.

 Acara berikutnya adalah berkenalan lebih dekat dengan Ricky Elson. Beliau sendiri yang menyampaikan profile singkatnya di hadapan puluhan mahasiswa di dalam ruangan itu. Ia pernah mengenyam pendidikan di Universitas Andalas selama setahun. Memilih tak menyelesaikan pendidikannya di kampus Limau Manis itu, ia merantau ke Jepang. Di sanalah ia menyelesaikan studi S1 dan S2, lalu bekerja di sebuah perusahaan di negeri sakura itu.

Meskipun 14 tahun hidup di Jepang, Ricky Elson juga bercerita bahwa ia pernah mengeliling Indonesia dari Sabang sampai Merauke hanya untuk memuaskan hatinya yang terobsesi dengan energi alam. Dari perjalanan itu, ia bertemu dengan banyak orang yang memiliki obsesi yang sama dengan dirinya. Salah satunya adalah Shana Fatina, seorang gadis muda yang berhasil mengalirkan air bersih dengan teknologi Reverse Osmosis untuk masyarakat di Pulau Komodo.

Buah manis dari perjalanan panjang Ricky Elson mengeliling Indonesia itu adalah berdirinya puluhan unit kincir angin di Pulau Sumba. Walaupun tak semolek milik Eropa, sang Penari Langit yang lahir dari tangan anak bangsa ini mampu menerangi rumah-rumah masyarakat Sumba tanpa membayar mahal tagihan tiap bulan.

Maka diketahuilah bahwa Ricky Elson adalah seorang traveller yang visioner. Ia berjalan dengan membawa misi, mencari potensi alam Indonesia untuk dikembangkan menjadi energi terbarukan. Dari misi inilah, ia akhirnya berkontribusi menjaga keseimbangan alam semesta untuk membangun Indonesia.

Cerita ini menampar telak wajah narsis pemuda-pemudi yang mengaku traveler sejati. Mengunjungi berbagai tempat di Indonesia; mendaki gunung tertinggi, menyelami lautan luas, berkemah di pulau terpencil hanya untuk ‘menjual’ keindahan alam Indonesia di social media. Lalu kembali ke rumah masing-masing dan membuat itinerary penjelajahan selanjutnya, meninggalkan masyarakat lokalnya di tempat terpencil yang tak tersentuh jari pembangunan.

 Semakin tak terjamah, semakin menantang, semakin panjang pula prosa pujian tentang alam, tapi lupa pada seorang bocah yang jarang mandi karena desanya kekurangan air.

Ricky Elson lalu bercerita tentang Ciheras, dusun terpencil di Tasikmalaya, tepat di pinggir pantai Laut Selatan. Di sana ia menghabiskan hari-harinya sejak memutuskan untuk menetap lebih lama di Indonesia. Mengurusi puluhan tiang penyangga kincir angin yang dibawahnya ia tanami kacang tanah, jahe, mengkudu, atau apa pun yang bisa dibudidayakan. Toh di negeri ini tongkat kayu dan batu jadi tanaman. Tak lupa mendatangi kolam buatan untuk memberi makan ribuan ekor lele yang menghampiri dengan sendirinya.

Maka yang terbayangkan, Ciheras adalah desa yang mandiri, memiliki sumber energinya sendiri. Kebutuhan sehari-hari terpenuhi dari hasil alam yang bisa dinikmati kapan saja, yang diberi Allah swt secara cuma-cuma tanpa harus membayar kepada siapa pun.

Padahal, area yang terpencil itu adalah site berisikan pemuda-pemudi Indonesia yang datang silih berganti. Meraka berasal dari latar belakang pendidikan yang berbeda, dari seluruh institusi di negeri ini, Bersama-sama dengan Ricky Elson mewujudkan mimpinya untuk mengatasi permasalahan energi di Indonesia. Site itu diberi nama Lentera Angin Nusantara.

Lentera Angin Nusantara, meskipun terlihat sangat sederhana dari luarnya, jauh dari kata mewah. Tapi disanalah Ricky Elson memupuk harapan pada generasi muda yang kelak akan menjadi pioneer teknologi energi terbarukan Indonesia. Melahirkan manusia-manusia mandiri yang siap menghadapi tantangan dunia di 10 – 100 tahun yang akan datang.

Hati mahasiswa mana di ruangan Humboldt Haus ini yang tidak tersentil ketika diceritakan tentang seorang anak SMK yang dididik Ricky membuat bilah kincir angin dari kayu pinus hanya dalam waktu 3-4 hari. Cerita itu memberikan pesan kepada mahasiswa Jerman yang sedang menyelesaikan penelitian, bahwa mereka harus siap dengan keadaan Indonesia yang minim alat uji nan berteknologi, keadaan yang berbeda dengan laboratorium milik kampus bergengsi di Jerman ini. Pesan mendalam, riset tak boleh terhenti hanya karena tak ada alat dan tak sanggup untuk membeli. Maka inilah tantangan sebenarnya, berinovasi menciptakan hal besar dari peralatan sederhana.

Humboldt Haus. Foto bareng Komisaris Lentera Bumi Nusantara, Bapak Hendri Djoesan dan Ibu.
Humboldt Haus. Foto bareng Rizqy Averous dan Komisaris Lentera Bumi Nusantara, Bapak Hendri Djoesan dan Ibu.

Pesan ini bersifat umum, karena mengingatkan kita bahwa karya terbaik tak harus berasal dari fasilitas modern yang harganya seringkali tak terjangkau. Sesuatu yang sederhana yang terbuat dari hal kecil namun memberi efek yang besar, tentu takkan bisa dihargai dengan nominal rupiah.

Di tengah obrolan, Ricky Elson menggambarkan Indonesia layaknya seorang Ibu Pertiwi yang berdiam diri menyembunyikan rasa sakitnya. Tak sanggup ia membagi keperihan itu kepada anak-anaknya. Maka sebagai anak bangsa yang tertakdir mengecap manisnya pendidikan di negara maju berbasis teknologi, Ricky Elson mengingatkan kita untuk menyiapkan diri mengobati penyakit yang diderita oleh Sang Ibu, meskipun ia tak pernah meminta untuk dibantu.

Konser Sastra Teknologi yang ia pentaskan di beberapa kota di Jerman dan Belanda ini membawa misi mulia. Ia ingin membagi semangat dan harapannya kepada kami, menyentuh dan menggerakkan hati-hati kami yang mungkin sempat ragu tak mendapat tempat di negeri sendiri.

Agar tak ada lagi kisah-kisah penuh kekecawaan, pun cerita saling tuduh mencari kesalahan, Ricky Elson meminta kami untuk memoles diri dengan badan yang sehat, membekali ilmu yang cukup, menabung uang yang banyak, meluaskan networking, dan melatih hati agar sekeras baja, yang siap ditempah cercaan; karena untuk mewujudkan mimpi yang besar, semangat dan niat saja tidak cukup.

Untuk teman-teman Mahasiswa Rantau di Jerman, mungkin banyak yang datang ke negera ini karena mengagumi Bapak B.J Habibie. Simpanlah kisah inspiratif itu dengan rapi. Kita tidak lagi hidup di jamannya. Biarkan Bapak B.J Habibie melewati masa tuanya dengan tenang. Tugasnya telah purna, ia sudah banyak mengorbankan waktu, pikiran, dan tenaga untuk bangsa ini.

Sekarang adalah giliran kita. Sambutlah semangat dari Ricky Elson, membersamainya membangun bangsa di zaman yang penuh tantangan ini. Datangilah Lentera Angin Nusantara di Ciheras, belajar darinya mungkin sama dengan berguru pada Bapak B.J Habibie di masa mudanya. Jangan menunggu terlalu lama karena rakyat Indonesia tak paham lagi menawar waktu. Belum tentu juga semangat dan itikad baik ini akan sama membaranya di 10 tahun yang akan datang.

“Yang terdiam dari suara. Sabar jiwaku, sabar seluruh bangsaku. Perih tangismu, perih jiwamu. Tersisihkan oleh kawanan hitam. Semua telah lelah menanti“ – Noah, Raja Negeriku

Semua telah lelah menanti, tapi kita sendirilah yang tahu kapan waktu terbaik untuk pulang.

11 KOMENTAR

Tinggalkan Pesan Balasan