Pilihan

Pilihan

1
BAGIKAN
Source http://awesomeaj.com/
Crossroad in lavender meadow and with tree alone

Erwin berdiri tegap di pinggir lantai paling atas salah satu gedung tinggi di kota. Mata dia menatap tajam pemandangan metropolis dan modern kota tersebut. Matahari perlahanlahan mulai terbenam, perpaduan antara cahaya matahari dan kegelapan malam memberikan pemandangan dua elemen yang saling bertolak belakang menjadi indah dengan keseimbangan yang sempurna. Sama seperti dalam kehidupan, semuanya harus ada tandingannya, cahaya dan kegelapan, kebahagian dan kesedihan, karena adanya keseimbangan hidup bisa menjadi terasa indah. Namun bagaimana jika itu semua tidak seimbang? Apakah  kehidupan akan masih terasa indah? Setidaknya itulah yang Erwin rasakan. Dan inilah yang menjadi alasan mengapa Erwin berada disini.

Lantai tempat Erwin berada sebenarnya adalah atap gedung yang bisa diakses oleh siapa saja, karena di sini biasanya orang-orang yang bekerja di gedung tersebut beristirahat mencari udara segar. Tapi tidak ada orang lain di sana, bukan hanya karena jam kerja sudah lewat, namun juga karena satu-satunya pintu menuju lantai tersebut sudah diblokir dengan tongkat besi. Tidak ada yang bisa masuk ke lantai paling atas, selain orang yang sejak awal sudah berada di sana.

Di pinggir lantai terdapat pengaman semen yang tidak begitu tinggi, hanya sebagai tanda kalau berdiri di pinggir situ bisa berbahaya karena terkadang angin bisa bertiup cukup kencang di atas sana, dan Erwin berdiri tepat di atas pengaman tersebut. Kehilangan keseimbangan sedikit saja maka Erwin pasti akan terjatuh dari atas gedung berlantai 7. Mungkin saja itu adalah apa yang dia inginkan.

‘‘Hai Erwin, apa kabar?‘‘

Seseorang memanggil namanya. Erwin mengenal suara itu, namun dia tidak menoleh ataupun menjawab. Itu adalah Alan, orang yang Erwin kenal sangat baik. Alan duduk di kursi di dekat Erwin, hanya duduk saja memperhatikan Erwin yang kapan saja bisa melompat ke bawah.

‘‘Pemandangan yang indah bukan dari atas sini? Melihat bangunan-bangunan metropolis disiram langit senja. Tapi bukankah kau berdiri terlalu di pinggir, Erwin? Kemarilah, duduk di sampingku dan mari kita nikmati langit senja bersama dari sini.‘‘ Alan menepuk kursi kosong disebelahnya, namun Erwin tetap tidak menghiraukan ajakan Alan. Dia masih berdiri di sana.

‘‘Hei Erwin, aku tau kau sedang mengalami hari yang buruk, tapi apakah kau yakin ini
keputusan yang tepat? Kemarila……‘‘

‘‘Kau tidak tau apa-apa Alan!!‘‘ Erwin memotong ucapan Alan dengan nada tinggi.

‘‘Oooh percaya aku tau semuanya Erwin. Dan kau tau kalau aku juga tau, jangan kau
menyangkal itu‘‘ Alan menjawab juga dengan nada tinggi tidak kalah dengan Erwin.

‘‘Hari-hari aku tidaklah buruk, tapi kehidupanku…‘‘ Erwin mulai meneteskan air mata.

‘‘Kenapa ini semua harus terjadi? Yang lain selalu beruntung, tapi kenapa harus aku yang kena sial?‘‘ Erwin sekarang menutupi mukanya yang penuh air mata dengan kedua tangannya.

‘‘Oh kenapa harus terjadi? Aku juga ingin tau mengapa‘‘ Alan berbicara sarkasme.

‘‘Kau memiliki tiga kesempatan untuk lulus ujian. Tiga! Kalau tidak kau akan di-DO. Dan apa yang kau lakukan? Ingatkah??‘‘ bentak Alan.

‘‘Kau meremehkannya, menganggap semuanya pasti bisa berjalan lancar. Kapan terakhir kali kau memperjuangkan masa depanmu hah??‘‘ lanjut Alan.

‘‘Seharusnya tidak sesulit itu. Aku yakin. Seandainya saja….’’

‘’Berhenti mencari alasan Erwin!!’‘ Alan kembali membentak Erwin.

‘‘Kau pintar, kau pernah mewakili negaramu di olimpiade internasional, tapi setelah itu kau sudah merasa cukup tanpa berusaha untuk berkembang lagi. Kau malas-malasan selama ini, hanya menonton dan bermain saja tanpa memikirkan kuliahmu yang kau mimpikan sejak kecil. Kau bilang ke semua orang ini terlalu mudah. Kau bilang mereka bodoh karena mereka tidak mengerti pelajaran. Kau kalah dengan orang-orang di kampus yang kau hina! Apa yang terjadi? Kau berada di sini dan mereka masih di sana belajar untuk ujian akhir. Orang pintar kalah dengan orang rajin. Itu hukum pasti.‘‘

Alan mengambil nafas panjang setelah memarahi Erwin. Mereka berdua masih terdiam sejenak.

‘‘Tapi aku yakin kau sudah sadar akan kesalahanmu Erwin. Kau disini karena kau takut, bukan?‘‘ lanjut Alan.

Erwin merenung, mengingat apa yang baru dia alami beberapa hari lalu saat dia pulang ke rumah orangtuanya setelah dia dikeluarkan dari kampus. Dia berpikir ayahnya yang sudah mengeluarkan banyak uang untuk membayar biaya masuk pasti akan marah besar. Namun tidak, bukan itu yang terjadi. Begitu membuka pintu rumah kedua orangtua Erwin langsung memeluk dia dan mengatakan mereka percaya Erwin pasti sudah berusaha keras. Erwin sedih, karena bukan itulah kenyataannya. Dia tidak berani menjelaskan. Kondisi makin buruk ketika tetangga dan keluarga besarnya mulai berbicara yang buruk tentang kegagalan Erwin. Sebenarnya Erwin tidak peduli apa yang orang lain katakan tentang dirinya, tapi kedua orangtuanya ikut terlibat dibicarakan orang lain gara-gara dia. Mereka dibilang menyedihkan karena sudah gagal mendidik anaknya. Padahal dahulu ketika Erwin berpartisipasi di olimpiade internasional, hanya pujian yang terdengar. Tapi kedua orangtua Erwin tetap tersenyum menghadapi semua ucapan-ucapan buruk. Mereka tidak pernah menyalahkan Erwin dan terus mengatakan bahwa dia adalah kebanggaan mereka. Erwin sangat sedih. Dia merasa sudah mengecewakan kedua orangtuanya. Dan apapun yang dia lakukan, dia tidak akan pernah bisa membuat mereka bangga.

‘‘Aku hanya ingin melihat mereka terus tersenyum.‘‘ ucap Erwin menahan tangis.

‘‘Dan jika kau melompat ke bawah, apakah mereka masih akan tersenyum?‘‘ ucap Alan secara halus.

‘‘Kau menempel foto kedua orangtuamu tersenyum di dompet. Kau berkata bahwa kau akan terus membuat mereka bahagia. Katakan padaku, apa yang akan terjadi dengan senyuman mereka jika sekarang kau melompat?‘‘ lanjut Alan.

Erwin terdiam. Dia memikirkan apa yang Alan baru katakan.

‘‘Kau tidak akan menghilangkan rasa sedih seperti ini. Kau hanya akan melemparkannya ke orang lain. Bukankah itu egois? Jangan kau hanya memikirkan dirimu saja. Cobalah kau dengarkan sekitarmu‘‘ ucap Alan.

Suara yang sebenarnya dari tadi sudah ada baru kali ini terdengar oleh Erwin. Orang-orang berkumpul di jalanan melihat ke atas. Di jalanan banyak mobil polisi dan ambulans parkir. Salah satu petugas polisi memegang megaphone dan berteriak ke Erwin. Terdengar juga suara pintu yang Erwin blokir sedang berusaha didobrak masuk.

‘‘Kemarilah Erwin, mari kita bicarakan baik-baik. Pasti ada jalan lain‘‘ Alan berdiri dan menjulurkan tangannya ke Erwin. Erwin masih tidak merespon ajakan Alan. Setelah beberapa saat, Erwin menoleh ke Alan.

‘‘Semua sudah telat‘‘ ucap Erwin berlinang air mata. Dan dia melompat.

Alan langsung berlari kepinggir. Dia berhasil menangkap tangan Erwin. Satu-satunya alasan Erwin tidak jatuh masih menggantung di sisi gedung karena Alan memegang tangan Erwin. Orang-orang berteriak histeris meski Erwin masih belum sepenuhnya terjatuh, dan polisi mulai berbicara ke radio menginstruksikan sesuatu.

‘‘Lepaskan Alan, ini sudah berakhir‘‘ ucap Erwin.

‘‘Jika kau ingin mengakhiri ini kenapa kau ragu? Kenapa kau masih mendengarkanku? Kenapa kau tidak langsung melompat saja?‘‘ bentak Alan.

‘‘Kau masih ingin hidup, aku tau itu.‘‘ lanjut Alan.

‘‘Tapi sudah telat‘‘

‘‘Dasar pengecut! Kau hanya ingin kabur dari masalah. Kau takut gagal lagi. Kau takut mengecewakan semua orang. Berdiri dan tantang rasa takutmu! Dan jika kau terjatuh maka tantang lagi! . Jangan sampai rasa takut itu mengalahkanmu. Apa yang ayahmu katakan?‘‘ teriak Alan.

Erwin terdiam. Dalam kondisi diantara hidup dan mati dia berusaha untuk mengingat apa yang ayahnya katakan.

‘‘……………. jangan menyerah‘‘ jawab Erwin.

‘‘Benar. Kau masih muda Erwin. Waktu masih ada di sisimu, dan kau mau membuangnya sekarang? Semua belum terlambat‘‘ Alan menjulurkan tangannya yang tidak memegang tangan Erwin.

‘‘Sekarang kau punya pilihan. Kau bisa melepaskan tanganku dan mengakhiri ini sekarang juga seperti yang kau inginkan, atau kau bisa meraih tanganku, bangkit kembali, dan terus berjuang. Demi kedua orangtuamu, demi orang-orang yang tidak ingin kau kecewakan, demi masa depan‘‘ ucap Alan.

Setelah berpikir beberapa saat apa saja yang Alan katakan, Erwin mengumpulkan tenaga dan meraih tangan Alan. Dia memegang kuat kedua tangan Alan.

‘‘Terima kasih Alan‘‘ ucap Erwin memberikan senyuman kecil di balik tangisan.

Alan membalas senyuman Erwin dan dia mengangguk.

Suara pintu yang terbuka karena didobrak terdengar sangat keras. Lima petugas pemadam kebakaran masuk ke lantai paling atas. Mereka melihat tangan Erwin sedang memegang pengaman semen, berpegangan menahan tubuhnya agar tidak jatuh. Tiga di antara mereka langsung berlari menangkap Erwin sebelum dia terjatuh. Tangan besar petugas itu menggenggam lengan Erwin dan mengambil nafas panjang lalu langsung menarik dia ke atas. Erwin sudah keluar dari situasi antara hidup dan mati. Petugas yang berbadan besar menyelimuti Erwin dengan selimut darurat. Petugas itu melihat sekeliling. Dia tidak melihat siapapun selain Erwin dan tim penyelamat.

‘‘Dengan siapa kau berbicara?‘‘ tanya petugas itu.

Erwin tidak menjawab. Petugas itu juga tidak terlalu menghiraukannya, dia berpikir Erwin masih syok. Petugas itu menggendong Erwin lalu memberikan isyarat tangan ke petugas lain.

‘‘Laporan. Erwin Alan Dickens, orang yang dilaporkan akan melompat dari gedung lantai 7 berhasil kami selamatkan. Melanjutkan membawa dia ke bawah untuk diperiksa dokter‘‘ salah satu petugas berbicara lewat radio yang dia pegang.

Erwin dibawa petugas pemadam kebakaran kelantai dasar untuk diperiksa dokter. Dia takut untuk berusaha, takut gagal lagi jika dia mencoba. Namun ia sudah berjanji kepada Alan, kepada dirinya sendiri, untuk tetap maju melangkah kedepan. Meskipun sudah terjatuh karena kesalahannya sendiri ia akan terus berjuang. Dia tidak mau mengecewakan lagi kedua orangtuanya. Seperti yang ayahnya katakan, tidak ada yang mudah dalam kehidupan.

Sebelum memasuki pintu, Erwin melihat Alan berdiri di dekat kursi tempat dia sebelumnya duduk. Alan tersenyum senang dan melambai-lambai ke Erwin. Erwin membalas melambai-lambai kecil ke Alan. Petugas yang menggendong Erwin menoleh ke belakang, ke arah Erwin melambaikan tangannya. Tidak ada siapa-siapa. Petugas itu kebingungan namun dia memutuskan untuk melupakan itu dan fokus ke tugasnya, membawa Erwin ke tempat yang lebih aman. Erwin tersenyum, dan dia bergumam kepada dirinya sendiri.

‘‘Masih terlalu cepat untuk menyerah‘‘

-END

VIAAndhika Fakhri
BAGIKAN
Berita sebelumyaKartini Muda: Dari Jambi hingga ke Groningen
Berita berikutnyaMimpi Gisela
Mahasiswa Bioteknologi di Dortmund, Jerman yang punya vision membangun masa depan dengan green technology serta hobi memasak dan memiliki mimpi untuk membuka restoran di Jerman.

1 KOMENTAR

Tinggalkan Pesan Balasan