Puasa Itu Menahan Lapar dan Haus Sembari Membawa Gong

Puasa Itu Menahan Lapar dan Haus Sembari Membawa Gong

0
BAGIKAN

Pemimpin Upacara
Pemimpin Upacara

Meski di pagi hari H nya saya ngantuk berat karena kurang tidur dan baru habis sahur, saya berusaha menghilangkan kantuk dengan lari-lari kecil dalam ruangan. Setelah berganti pakaian, saya dan teman-teman bergegas menuju ke kuil dan mulai berfoto dengan orang-orang Jepang yang juga telah berganti kostum. Kapan lagi bisa berfoto dalam balutan kostum uni seperti ini. Ternyata berfoto terbukti mampu menghilangkan ngantuk…. Dasar narsis akut yah. Para pria mengenakan kostum biru dan sarung abu-abu lengkap dengan ikat kepala putih. Alat yang harus dibawa oleh para pria adalah gong dengan berat sekitar 4 kilogram lengkap dengan pemukul kayunya. Anak laki-laki mengenakan pakaian yang sama, namun mereka tidak membawa gong melainkan gendang yang diikatkan ke perut mereka masing-masing. Sedangkan peserta wanita mengenakan pakaian hijau (dewasa) dan kuning (anak-anak) dan celemek hitam. Mereka membawa semacam tongkat yang berbunyi saat digerakkan.

Matsuri ini mulai dibuka dengan ritual tarian oleh pembina upacara, errrr maksudnya oleh pemimpin kelompok ini. Pakaiannya beda sendiri, beliau mengenakan pakaian biru bergaris putih dengan hiasan tanduk berbentuk bulan sabit dan bergambar naga. Kami, para bule bule, belum diijinkan ambil bagian di ritual awal ini. Kami diminta untuk menonton saja di pinggir arena saat pembukaan, mungkin karena bagian ritual ini sakral bagi penduduk lokal. Setelah ritual awal ini, kami (para bule-bule) mulai diijinkan untuk bergabung sambil membawa gong kami masing masing yang beratnya 4 kilo itu. Rombongan kami juga membawa bedug besar yang didorong menggunakan gerobak.

Hit the Gong Till You Drop
Hit the Gong Till You Drop

Perlahan-lahan kami mulai meninggalkan pelataran kuil dan mulai berkonvoi mengelilingi kota. Ini pengalaman pertama saya ikut festival keagamaan. Sebelum-sebelumnya festival keagamaan yang saya ikuti paling maulid nabi di kampung, itupun saya ikutan pas bagian “rebutan telur”-nya. Dengan enteng saya membawa gong dan memukul gong tersebut mengikuti irama. Ternyata konvoi kami sudah banyak ditunggu oleh warga setempat. Kami kerap harus masuk ke rumah-rumah dan membunyikan gong sambil mengitari rumah yang kami masuki. Saya jadi ada kesempatan melihat banyak interior rumah Jepang di Saga. Nampaknya warga disini percaya bahwa rombongan kami bisa menolak bala untuk rumah mereka jika kami masuk dan membunyikan gong di seputar rumah mereka. Sebagai tanda terima kasih, kami disuguhi kue dan berbagai macam permen dan cokelat oleh empunya rumah. Saya yang puasa tentunya tak mau rugi, makanan-makanan itu saya masukkan dalam kantong untuk persiapan berbuka puasa. Saya jadi mikir, ini kok kayak trick or treat Halloween yah, hehehe. Tahu gini, seharusnya tadi saya bawa kresekan besar buat menampung coklat, kue dan permen sebagai persediaan buka puasa.

1
2
3
BAGIKAN
Berita sebelumyaKeunikan Ramadhan di Negeri Ibnu Khaldun, Tunisia
Berita berikutnyaRamadhan di Kota Semarang
Bercita-cita ingin ke negara-negara eksotis seperti Bhutan, Tibet dan Nepal, ke negara-negara Latin menyusuri Meksiko di utara hingga Brazil di Selatan, dan ke negara-negara Pasifik seperti Fiji, Tuvalu, New Caledonia, Palau, Vanuatu, Samoa dan Kiribati, dan mengikuti sejarah syiar Islam di Afrika Utara (Mesir, Libya dan Maroko)

TIDAK ADA KOMENTAR

Tinggalkan Pesan Balasan