Puasa Itu Menahan Lapar dan Haus Sembari Membawa Gong

Puasa Itu Menahan Lapar dan Haus Sembari Membawa Gong

0
BAGIKAN

Kampanye Dua Anak Cukup, Salam Keluarga Berencana Dengan Menunjukkan Dua Jari Konon Berasal Dari Sini
Kampanye Dua Anak Cukup, Salam Keluarga Berencana Dengan Menunjukkan Dua Jari Konon Berasal Dari Sini

Menjelang sore, saya mulai kecapekan. Gong yang tadinya enteng ternyata mulai terasa berat, dan saya mulai kehausan karena memang saya sedang puasa. Saya mulai kurang bisa mengikuti ritme dan akhirnya sudah mulai jalan terseret bahkan sudah hampir ngesot saking haus dan capeknya. Rute kami masih beberapa blok dan saya sudah mulai kehabisan tenaga. Untungnya, beberapa teman mengerti, saya diminta meletakkan gong di gerobak bedug dan cukup berjalan mengikuti rombongan. Saya memilih mendorong bedug saja biar lebih enteng.

Siap - Siap Menjarah Coklat, Kue dan Permen
Siap – Siap Menjarah Coklat, Kue dan Permen

Jam 5 lewat seperempat, kami tiba kembali ke kuil dengan wajah bahagia karena misi telah ditunaikan. Matahari pun sudah terbenam menandakan waktu Maghrib telah tiba untuk kota Saga dan sekitarnya. Saatnya berbuka puasa, Saya ifthar dengan pembagian jatah makan siang yang saya simpan, serta kue, coklat dan permen yang saya kumpulkan. Hari itu, menu buka puasa saya memang aneh, namun nikmatnya benar-benar terasa mungkin karena saya lapar, haus, capek dan beban hari pertama puasa. Membawa gong 4 kilo seharian sambil puasa itu bukan pekerjaan mudah, apalagi dengan godaan permen warna warni, coklat beraneka macam dan pilihan kue yang banyak. Malam itu, saya pulang ke asrama dengan tubuh sangat letih. Saya tertidur cepat malam itu dan terbangun jam 6 pagi hari berikutnya. Yah, saya lupa sahur….. Nasiib.

An Excuse For Not Carrying the Gong
An Excuse For Not Carrying the Gong

Sumber: Cipuism

1
2
3
BAGIKAN
Berita sebelumyaKeunikan Ramadhan di Negeri Ibnu Khaldun, Tunisia
Berita berikutnyaRamadhan di Kota Semarang
Bercita-cita ingin ke negara-negara eksotis seperti Bhutan, Tibet dan Nepal, ke negara-negara Latin menyusuri Meksiko di utara hingga Brazil di Selatan, dan ke negara-negara Pasifik seperti Fiji, Tuvalu, New Caledonia, Palau, Vanuatu, Samoa dan Kiribati, dan mengikuti sejarah syiar Islam di Afrika Utara (Mesir, Libya dan Maroko)

TIDAK ADA KOMENTAR

Tinggalkan Pesan Balasan