Puasa Pertama di Negeri Jerman

Puasa Pertama di Negeri Jerman

1
BAGIKAN
Berpuasa di Negeri Jerman

Pertama kali saya menginjakkan kaki di negara Jerman, saya sudah mengetahui bahwa saya akan singgah di negara yang sangat berbeda dengan negara asal saya dilahirkan. Perbedaan kultur dan cuaca menurut saya sesuatu yang menantang, dimana dulu saya selalu merasakan limpahan sinar matahari setiap hari, sedangkan disini matahari muncul sempurna itu hanya pada musim panas. Kadang – kadang disertai angin dingin yang berhembus.

Pada musim gugur dan musim dingin matahari tidak lama menampakan dirinya, pukul 4 sore matahari sudah terbenam, langit mendung pun sudah menjadi kawan di musim itu. Sebaliknya pada musim panas matahari banyak menampakan dirinya. Matahari muncul sekitar pukul 05.30 pagi dan akan terbenam pukul 10.00 malam. Di negara ini, penduduk yang beragama Islam pun menjadi minoritas.

Saya ingin berbagi cerita tentang ibadah puasa pertama kali di negara Jerman. Kebetulan pas banget Bulan Ramadhan kali ini bertepatan di musim panas. Dimana lamanya berpuasa sekitar 18-19 Jam. Pada saat sahur pertama, saya pikir harus banyak makan dan minum karena akan melalui waktu berpuasa yang lama.

Ternyata setelah dijalanin ibadah puasanya biasa aja, tidak ada kekhawatiran akan lapar yang berlebihan atau haus yang berlebihan. Memang benar, yang menguatkan itu sebenernya bukan makanan dan minumannya tetapi niat puasa kita.

Pada saat itu saya sedang menjalani sekolah bahasa, mungkin di dalam kelas saya yang berpuasa pada saat itu hanya 2 diantara 25 orang. Mereka malah khawatir akan puasa saya. Kekhawatiran mereka terlihat dari cara mereka bertanya, “Kamu beneran kuat kan menahan lapar? Memangnya kamu tidak haus? Tubuh itu memerlukan banyak air, gimana caranya kalau kamu tidak minum?”.

Lontaran pertanyaan pun seakan tiada henti hadir, tapi saya yakin itu bentuk kepedulian mereka terhadap saya. Banyak sekali hal-hal berbeda yang saya rasakan selama menjalankan ibadah Puasa di negeri ini. Selain lama waktu berpuasanya, juga suasananya. Tidak terdengar pula suara adzan dari masjid – masjid yang menandakan waktu berbuka, tidak ada tukang takjil di pinggiran jalan yang hanya muncul pada saat bulan puasa, tidak ada iringan sekelompok pemuda yang membantu membangunkan warga dengan konvoi meneriakan “Sahur.. sahur”. Saya merindukan itu.

Hanya dengan bantuan Hp , saya biasa mendengarkan kumandang adzan yang menandakan waktu berbuka dan bunyi alarm yang saya pasang sendiri untuk menandakan saatnya sahur, imsak dan waktu sholat. Lucunya, jika sudah mau mendekati waktu berbuka, saya dan suami sudah duduk rapi di depan meja makan sambil menatapi perubahan menit dari Hp kami masing-masing.

Sewaktu tinggal di Indonesia, semua orang tertuju pada satu stasiun televise milik negara, yaitu TVRI yang popular ditonton dan dinanti pada saat berbuka puasa karena stasiun televisi itu menayangkan kumandang Adzan sesuai dengan daerah masing-masing. Selain itu juga kumandang Adzan dari masjid-masjid sekitar pun menyerukan suara yang indah.

Ketika Adzan berkumandang dari hp saya disini, saya pun menyaksikan satu demi satu lampu rumah tetangga kami  dimatikan. Seakan juga menyapa kami “Selamat malam, waktunya tidur, waktu sudah menunjukan pukul 10 malam”. Tersisa hanya lampu rumah kami yang masih tetap menyala.

Disiplin waktu pada saat puasa di musim panas ini sangat dibutuhkan. Dimulai dari mengatur waktu tidur dan pola makanan. Jika pengaturan waktu dan pola makanannya tepat, Insya Allah puasanya pun akan terasa ringan, tidak beda jauh dengan berpuasa di Indonesia meskipun rutinitas tetap berjalan normal.

Tips dari saya sih untuk yang berpuasa selama 19 jam adalah mengurangi asupan makanan yang mengandung banyak minyak, perbanyak makan sayur dan buah, juga menjaga kualitas waktu tidur, bukan kuantitasnya.

Tapi balik lagi ke niat berpuasa itu, Insya Allah sangat membantu kita. Intinya puasa di Jerman dan di musim panas di Jerman, tidak seberat yang saya pikirkan pertama kali. Hanya saja suasana hati yang belum ada obatnya, berkumpul dengan keluarga pada saat berbuka dan sahur, serta suara Adzan yang terdengar dimana-mana.

1 KOMENTAR

  1. Bagus Shan,tulisannya,lebih bagus pakai foto2 sesuai tema tulisannya, terus asah menulis sampai menjadi buku,semangat!

Tinggalkan Pesan Balasan