Ramadhan dan Idul Fitri Pertama di Amerika Serikat

Ramadhan dan Idul Fitri Pertama di Amerika Serikat

0
BAGIKAN
Idul Fitri Di Amerika

“Dimanapun kita berada, selama Allah bersama kita, dan kita berjalan di jalan Allah, pasti akan ada selalu jalan untuk terus dalam kebaikan.” Itulah yang terpatri dalam benakku, saat pertama kali memperoleh Letter of Acceptance dari Saint Louis University. Perlu diketahui, SLU adalah kampus katolik kedua terbesar di Amerika Serikat setelah Cornell University (Jesuit University). Namun ternyata, siapa sangka, di dalam kampus berdiri Islamic Center (3843 West Pine Boulevard) termasuk di dalamnya terdapat masjid Bilal, APPNA Clinic for health care, dan sekolah islam (sebelum dipindahkan ke masjid Darussalam, West County).

Idul Adha Pertama merupakan momen pertama dimana saya menginjakkan kaki di Islamic Center. Saat itu, saya belum merasakan apa-apa selain perasaan yang sama ketika saya berada di Masjid Nabawi pada masa dimana saya menjalani salah satu rangkaian ibadah haji dan umroh 2011 silam. Wangi parfum dan corak karpetnya yang senada dengan Masjid Nabawi di kota Madinah, Arab Saudi.

Masjid Bilal (Islamic Center)
Masjid Bilal (Islamic Center)

Tahun ini merupakan Ramadhan perdana saya di Amerika Serikat, tempat yang bagi sebagian warga di sini masih memiliki stereotip terhadap agama islam. Namun, setelah 11 bulan tinggal disini, yang kurasakan justru sebaliknya. Saya sama sekali tidak mendapatkan perlakuan negatif sebagai seorang muslim baik kegiatan perkuliahan maupun keagamaan. Justru disinilah saya merasakan keindahan islam yang sebenarnya. Perasaan yang belum pernah saya rasakan ketika di Indonesia.

Kegiatan ibadah selama bulan suci Ramadhan disini sangatlah terfokus. Meski banyak antrian tugas karena sedang menjalani 2 kelas yang wajib ditempuh summer ini. Alhamdulillah Ramadhan ini tetap bisa tercapai target-target yang telah ditetapkan. Meski jam tidur harus terbalik, karena sholat tarawih di sini dimulai pukul 10.15 dan selesai 12.15. Dalam 8 rakaat sholat tarawih membutuhkan waktu 2 jam dengan menyelesaikan 1 Juz Al Qur’an setiap malamnya. Memasuki 10 hari terakhir bahkan ditambah dengan adanya sholat tahajud yang dimulai pukull 2.15 pagi dan hanya berjarak 2 jam setelah sholat tarawih selesai. Sholat Witir dilaksanakan 2x sehingga jamaah dapat memilih apakah ingin melaksanakannya saat setelah sholat tarawih atau Sholat Tahajud. Saat rakaat terakhir saat bangkit dari rukuk (I’tidal) di Sholat Witir, biasanya imam memimpin doa qunud dan doa-doa panjang lainnya. Ketika 10 hari terakhir, imam menambah doa, karena 1/3 malam terakhir merupakan waktu yang sangat mustajab dalam berdoa. Hampir tidak ada jama’ah yang tidak meneteskan air mata.

Faktor lain yang membuat kita fokus beribadah adalah persediaan makanan. Selama sebulan saya tidak perlu memikirkan untuk belanja, memasak, dan mempersiapkan makanan. Hanya hari-hari awal saja harus mempersiapkan sahur. Selebihnya, sahur dan buka puasa disiapkan oleh panitia Ramadhan. Buka puasa biasanya diawali dengan kurma, air putih, samosa (kue gorengan khas Pakistan), buah-buahan (paling sering semangka karena lagi musim, hehe), dan aneka jus (jus apel, jus jeruk, jus mangga, dll). Kemudian sholat maghrib dan dilanjutkan dengan makan besar. Setiap hari kami menikmati menu makan ala Pakistan. Alhamdulillah . . .

1
2
BAGIKAN
Berita sebelumyaRamadhan: Ketika Hati Harus Belajar Bersabar
Berita berikutnyaBerkah Ramadhan di Tanah Utsmani, Turki
Alumni Fakultas Kedokteran Universitas Brawijaya 2010 dan menjadi staf pengajar di Jurusan Gizi FK UB. Saat ini sedang menempuh program Master of Science in Nutrition and Dietetics di Saint Louis University, Missouri, United States. Selain menjadi mahasiswa, Ummu mengisi waktu luangnya dengan menjadi penyiar di www.radioppidunia.org (online radio) dan www.foodoutreach.org (sebuah LSM yang bergerak untuk membantu penyandang HIV/AIDS dan cancer).

TIDAK ADA KOMENTAR

Tinggalkan Pesan Balasan