Ramadhan di Kota Semarang

Ramadhan di Kota Semarang

0
BAGIKAN
Kota Semarang

Gemuruh suara tilawatil Qur’an seusai tarawih tak ku dengar lagi di kota Atlas. Aneka ribut-ribut cara membangunkan sahur pun tak ku jumpai di kota ini. Bangun ya bangun sendiri, tanpa ada suara ramai nan gaduh di musholla atau masjid yang lazim disebut tarhim.

Kota Semarang ini memiliki perpaduan khas religi yang unik, bahkan gereja bisa dengan mudah dijumpai dimana-mana. Awalnya ngerasa jet-lag disini perihal budaya yang sangat berbeda. Tapi berhubung sudah tiga tahun di sini, jadinya sudah terbiasa. Kalau di Kudus, sehabis tarawih ada tadarus Al-Qur’an yang dilakukan oleh bapak-bapak dan mengudara. Sedangkan di Semarang, tadarus Al-Qur’an dilakukan oleh ibu-ibu dan tidak melalui pengeras suara. Di Kudus juga, terdapat kumpulan pemudi-pemudi yang sering melakukan tadarus Al-Qur’an keliling ke rumah masing-masing anggota. Di Semarang, susah ditemui hal semacam ini. Berbagai macam aliran Islam terdapat di Semarang.

Kudus-Semarang berjarak hanya sekitar 70 km, namun perbedaan budaya sangatlah terasa. Ibaratnya semarang memiliki beberapa lingkup bagian yang hampir sama dengan Kudus. Ada lingkup yang tarawihnya 23 rakaat dengan witir, namun banyak juga yang 11 rakaat dengan sholat witir. Sedangkan di Kudus kebanyakan adalah 23 rekaat. Untuk yang 11 rekaat biasanya diselingin dengan kultum sebelum witir. Sedangkan yang 23 rekaat tidak ada kultum. Selama tiga tahun di Semarang, pengalaman ramadhan yang tak terlupakan adalah ketika saya melaksanakan sholat tarawih di Masjid Agung Jawa Tengah. Masya Allah, bacaannya benar-benar 1 juz Al-Qur’an. Kala itu sang imam sedang membaca juz 12. Meskipun lama tapi tak membuat saya merasakan kebosanan. Sholat tarawih di Masjid Agung ini baru benar-benar selesai pukul 21.00 wib. Berbeda dengan di Semarang, entah yang 11 rakaat ataupun 23 rakaat maksimal pukul 20.30 wib sudah selesai. Terkadang saya mengikuti tarawih yang 11 rakaat, kadang juga 23 rakaat. Bagi saya tak masalah, yang penting adalah niatnya untuk beribadah kepada Allah SWT. Kalau di Kudus, sudah pasti 23 rakaat.

Berikut adalah gambar yang saya ambil tatkala waktu jeda sholat tarawih. Jama’ah ibu-ibu memang banyak, tetapi shofnya tidak rapat. Namun, saya salut kepada ibu-ibu yang masih tetap bertahan hingga sholat witir. Karena, ada juga ibu-ibu yang sudah meninggalkan masjid tatkala tarawih masih dijalankan.

Tarawih di Semarang
Tarawih di Semarang

TIDAK ADA KOMENTAR

Tinggalkan Pesan Balasan