Ramadhan di Melbourne: Tak Terasa Hausnya

Ramadhan di Melbourne: Tak Terasa Hausnya

0
BAGIKAN
Melbourne view from Eureka Skydeck

Banyak yang bertanya-tanya gimana rasanya berpuasa di luar negeri? Saya pernah merasakan indahnya berlebaran di Jepang dan saat ini kembali diberi kesempatan merasakan nuansa Ramadhan di Melbourne. Kenapa saya mengatakan indah? Ada banyak alasan. Salah satu alasannya adalah karena di dua tempat ini saya melaksanakan puasa pada musim dingin (winter) yang berarti siangnya lebih pendek dan malam nya lebih panjang (dikit sih…..), ditambah lagi winter membuat badan kita jarang keringetan makanya jarang mandi hahahahahha, eh salah maksudnya jadi gak terasa haus haus banget.

Alasan utamanya adalah saya bisa merasakan bagaimana Ramadhan di tempat yang penduduk muslim nya minoritas. Mungkin dibanding di Jepang kemarin, Melbourne jauh lebih mendingan karena penduduk muslim nya lumayan banyak apalagi saya tinggal di kampungnya orang orang Arab yang namanya Brunswick. Di sini jarak rumah saya ke mesjid hanya sekitar 200 meter, jadi cukup ngesot udah bisa sampe. Selain itu, di sekitar rumah banyak toko toko daging halal, jadi gak kelimpungan cari daging kalau mau masak. Meskipun demikian, nuansa Ramadhan tidak begitu kental di Melbourne. Jangan harap akan banyak pedagang cendol, es buah, kolak di pinggir-pinggir jalan bak Jakarta, hehehehehe. Untuk sementara, berbuka dengan kolak atau es buah saya jadikan imajinasi saja, toh berbuka dengan yang manis tidak selamanya harus dengan kolak atau es buah kan?

Suasana buka makanan beralaskan plastik
Suasana buka makanan beralaskan plastik

Satu trik yang saya lakukan kalau lagi malas masak, saya berbuka di mesjid dekat rumah. Teman-teman menyebutnya Mesjid Turki karena banyak orang Turki yang sholat disini plus khatib jumatnya juga kadang bawain khutbah nya pake bahasa Turki, yang membuat saya cuman bisa ngangguk ngangguk karena ngantuk gak ngerti apa apa. Buka puasanya unik, kami duduk berhadap-hadapan dan di depan kami dihamparkan plastik panjang yang berfungsi sebagai piring besar. Di atas plastik, disebarkan sejumlah makanan seperti gorengan, kue-kue, chips dan minum nya pake jus berbagai rasa, tinggal pilih. Kalau beruntung, pas abis buka dan sholat Maghrib, para jemaah disuguhi dengan makanan besar berupa nasi briyani dengan daging atau ayam yang dimasak khas Timur Tengah. Meski gak doyan-doyan amat tapi saya kadang habis satu piring lho (Gak doyan aja segitu, gimana kalo doyan yah). Saya jadi belajar, rezeki orang berpuasa memang selalu ada yah. Alhamdulillah.

Lain lagi dengan pengalaman saya di kelas, teman-teman yang tahu saya puasa biasanya memandang dengan wajah prihatin sambil bertanya apakah saya baik-baik saja, takut kalau saya pingsan di kelas kali. Saya sih dengan enteng saja jawab, “lu kalau mau balapan lari ama gua sekarang, ayo…. gua jabanin”, wakakakakakak (tentunya dalang Bahasa Cinta Laura dong…. Inggrais…). Mereka lebih takjub lagi begitu tahu bahwa saya dan rekan-rekan muslim sudah mulai puasa penuh sejak umur 7 tahun, hahahahaha. Lucu saja melihat mereka melongo dan terheran-heran mendengar pengalaman puasa saya.

Salah satu sudut kampus dipersembahkan untuk mereka yang suka warna kuning......
Salah satu sudut kampus dipersembahkan untuk mereka yang suka warna kuning……

Terkadang waktu buka puasa bertepatan dengan kelas. Untungnya disini, dosen-dosennya santai, jadi saya kadang nyuap roti dikit-dikit pas buka puasa di kelas. (Kan gak lucu kalau saya bawa piring gede dan ngunyah dalam kelas, hehehehe). Makan besarnya malah pas abis kelas, biasanya sih menyelamatkan perut di resto atau warung Indonesia yang terdekat. (Di dekat kampus ada garasi cafe dengan ayam penyet sebagai menu andalannya, dan ada pula warung Noorsiah yang punya menu ikan asin, yummyyy sllrrrpp)

Nah, begitulah sekelumit cerita saya tentang Ramadhan disini. Terus terang, saya kangen dengan suasana Ramadhan di Indonesia, tapi rasa itu terkalahkan dengan keinginan saya untuk mencicipi manisnya Ramadhan di negeri orang lain. Saya yakin indahnya Ramadhan bukan hanya di Indonesia tapi di manapun kita berada. Kalau ada yang tanya: Cipu pulang lebaran nggak? Mmmm sepertinya NGGAK, Jadi gak lebaran sama keluarga dong? Iyah, kali ini saya tidak berlebaran bersama Mama dan saudara, tapi saya berlebaran bersama keluarga saya di Melbourne (teman dan handai taulan) —> cieeeehh pake handai taulan wakakakakak.

Selamat berpuasa semuanya. Mohon maaf kalau Cipu ada salah yah…….

Sumber: Cipuism
BAGIKAN
Berita sebelumyaDari 7 Benua Untuk 70 Tahun Indonesia
Berita berikutnyaSang Perantau
Bercita-cita ingin ke negara-negara eksotis seperti Bhutan, Tibet dan Nepal, ke negara-negara Latin menyusuri Meksiko di utara hingga Brazil di Selatan, dan ke negara-negara Pasifik seperti Fiji, Tuvalu, New Caledonia, Palau, Vanuatu, Samoa dan Kiribati, dan mengikuti sejarah syiar Islam di Afrika Utara (Mesir, Libya dan Maroko)

TIDAK ADA KOMENTAR

Tinggalkan Pesan Balasan