Ramadhan: Ketika Hati Harus Belajar Bersabar

Ramadhan: Ketika Hati Harus Belajar Bersabar

1
BAGIKAN
Pulau Kerasian, Kalimantan Selatan

Mudik adalah kata yang paling ditunggu – tunggu oleh anak rantau. Kata ini seolah menjadi “obat” rindu yang selama ini dirasakan di perantauan. Mudik sangat identik dengan bulan Ramadhan dan perayaan hari raya Idul Fitri bagi umat islam. Berbicara mengenai bulan Ramadhan tentulah akan sangat indah apabila dijalani bersama keluarga tercinta. Bagi anak rantau, siapa sih yang rela menjalani bulan suci ramadhan tanpa kehadiran orang tua? Tentu tidak ada kan?. Begitupun halnya dengan saya. Setiap hari saat bulan ramadhan menjelang, saya sangat mengharapkan untuk nantinya bisa mudik ke kampung halaman.

Tapi, sepertinya harapan itu terhapuskan oleh kata – kata manis yang suatu hari terdengar disebuah handphone android milik saya. Ya, ada seseorang yang memberikan saya pengertian bahwa tahun ini harus siap melewati ramadhan dan merayakan Idul Fitri di tanah rantau. Hati saya pun menangis dan tak bisa diekspresikan oleh kedua mata yang saya miliki. Karena menjaga perasaan seseorang yang telah member saya pengertian akan kondisi keuangan keluarga saat ini. Ada perasaan marah dalam hati saya, namun setelah saya merenung dan berpikir, saya mulai memahami, bahwa tak selamanya keinginan harus jadi kenyataan. Mulai hari itu saya selalu mempersiapkan hati agar tak lemah menghadapi kenyataan yang datang ini.

Puncak kisah saya ini dimulai saat sehari sebelum perayaan Idul Fitri tiba, hari – hari sebelumnya saya selalu berusaha tabah dan menahan air mata untuk tidak menetes. Karena dalam hati, saya masih menyimpan harapan untuk bisa pulang dan merayakan Idul Fitri bersama keluarga di Kerasian. Hari itu tepat sehari sebelum Idul Fitri, entah kenapa air mata saya menetes dengan sendirinya. Tak sanggup rasanya saya menahan, sebuah kenyataan harus saya hadapi dengan kesanggupan yang harus lebih kuat lagi dari sebelumnya. Kenyataan yang memutuskan bahwa lebaran tahun ini saya benar – benar harus di tanah Jogja.

Sebuah kondisi yang harus bisa saya terima, namun pastinya akan sulit untuk saya jalani. Alasan utama yang membuat saya harus tetap di Kota ini adalah dikarenakan tempat saya berasal jaraknya sangat jauh dari Jogja. Yah, butuh biaya dan tenaga yang cukup besar untuk sampai di kampung halaman saya, sebuah pulau terpencil di Provinsi Kalimantan Selatan. Memang, dari Jogja ke Banjarmasin dapat ditempuh dengan naik pesawat, namun setelah tiba di bandara Banjarmasin, perjalanan yang harus saya tempuh masih panjang. Masih harus naik mobil 8 jam lamanya menuju Batulicin, dan kemudian melintasi lautan dengan naik kapal Fery menyeberang menuju Tanjung Serdang. Dari Tanjung Serdang masih harus naik mobil ke Tanjung Lalak dengan jarak tempuh selama 4 jam lamanya, itupun kalau hari itu tak turun hujan, dan bisa saja bermalam ditengah hutan mana kala musim hujan. Dan dari Tanjung Lalak ke Kerasian meakan waktu selama 30 menit perjalanan dengan menggunakan kapal kecil. Ya, alasan dari tante yang sejak kemarin member saya pengertian untuk tidak pulang. Karena perjalanan yang cukup panjang dan biaya yang cukup mahal untuk kondisi keluarga saya saat ini. Apalagi hari libur kali ini harus saya isi dengan kegiatan PKL selama 2 minggu lamanya.

1 KOMENTAR

  1. Terharu membacanya kanda,, seperti yang saya alami tahun ini, dan yang terpenting dapat pembelajaran dari tulisan kanda

Tinggalkan Pesan Balasan