Ramadhan Perdana di Tanah Rantau Kampus Tercinta

Ramadhan Perdana di Tanah Rantau Kampus Tercinta

0
BAGIKAN
Matahari Terbit dari Gunung Semeru. Photo by @Travenesia

Bulan Ramadhan adalah bulan yang dinantikan oleh semua umat Muslim di seluruh dunia. Tak terkecuali saya sendiri. Di bulan yang penuh berkah ini, pintu-pintu surga akan dibuka sedangkan pintu-pintu neraka akan ditutup serta setan akan dibelenggu. Banyak sekali pahala yang Allah SWT janjikan bagi umatNya yang saleh di bulan Ramadhan.

Ramadhan tahun ini merupakan Ramadhan pertama saya sebagai seorang mahasiswa. Mahasiswa? Ya, sebuah status yang baru satu tahun ini saya sandang. Saya diterima di salah satu perguruan tinggi negeri di kota Solo. Menjadi seorang mahasiswa bukanlah perkara yang mudah. Letak kampus yang jauh dari rumah mengharuskan saya menjadi “anak kos“ yang tinggal jauh dari keluarga.

Permasalahan klise yang dialami mahasiswa perantauan yakni homesick. Awal perkuliahan memang sangat terasa sekali, namun seiring berjalannya waktu dan banyaknya kesibukan menjalani kuliah membuat saya mulai terbiasa jauh dari keluarga.

Hingga saat tibalah bulan suci yang penuh berkah yakni bulan Ramadhan. Ramadhan tahun ini sangat berbeda dengan tahun-tahun sebelumnya. Betapa tidak, yang biasanya sahur, berbuka puasa, tarawih, dan tadarus bersama keluarga, kini harus saya lakukan sendirian atau bersama teman. Tapi tak apa, demi menimba ilmu di tanah rantau saya rela menjalani Ramadhan tahun ini sendirian. Toh, nanti pada akhir Ramadhan menjelang Lebaran saya pulang kampung.

Sebenarnya pertengahan Ramadhan ini perkuliahan sudah selesai. Namun kehidupan sebagai civitas akademika kampus menjadi sangat beragam. Tak hanya ingin menjadi mahsiswa yang mengejar kemampuan hard skill di bidang akademik, tetapi saya juga ingin melatih kemampuan soft skill di berbagai organisasi kemahasiswaan. Banyak kegiatan di luar perkuliahan yang saya ikuti. Misalnya Koperasi Mahasiswa, lembaga kepenulisan fakultas, kepanitiaan festival, dan panitia penyambutan mahasiswa baru sekaligus ospek. Rutinitas tersebut mengharuskan saya untuk tetap tinggal di kota Solo.

Dari awal Ramadhan banyak sekali kegiatan kampus yang bernuansa Islami. Salah satu muara kegiatan Islami kampus adalah Masjid Nurul Huda Universitas Sebelas Maret. Di sana, banyak kegiatan Islami yang baru saya temui di masa kuliah, bukan di rumah seperti Ramadhan tahun sebelumnya.

Memang sempat terbersit rasa iri dan rasa penyesalan ketika mengetahui teman-teman sudah menikmati kebersamaan bulan Ramadhan dengan keluarga yang mereka pamerkan melalui media sosial. “Huh, tetap sabar Ningsih, tetap istiqomah. In syaa Allah berkah. Mungkin tidak di waktu dekat ini, tetapi saat beberapa tahun kemudian bahkan saat kelak di akhirat akan dihitung sebagai amal kebaikan. Wallahualam”, begitu caraku menguatkan diri.

Kegiatan Islami kampus diantaranya adalah Kajian Jelang Berbuka atau sering disebut KaJeBe eNHa. Setelah mendengarkan kajian, kita bisa menikmati sajian berbuka seperti ta’jil, buah-buahan, kurma, aneka minuman, dan makan berat untuk berbuka puasa. Setelah berbuka, dilanjutkan dengan shalat Magrib berjamaah lalu kemudian tadarus bersama.

Memasuki waktu Isya, kita lanjutkan dengan shalat Isya, tarawih, dan witir berjamaah. Yang membuat tarawih di masjid kampus UNS berbeda dengan tarawih di masjid lain adalah shalat jamaah akan diimami oleh seorang hafidz Qur’an dimana mulai hari pertama tarawih bacaan shalatnya dimulai dari juz 1 Al-Qur’an. Begitu seterusnya, sampai juz ke-30 di hari terakhir ramadhan.

Subhanallah, bisa dibayangkan betapa khusyunya imam dalam melantunkan ayat-ayat suci Al-Qur’an dalam shalat. Antara shalat Isya dengan tarawih diisi dengan kultum dari petinggi-petinggi kampus tercinta. Mereka adalah jajaran-jajaran pejabat tinggi di tataran rektor dan dekan Universitas Sebelas Maret Surakarta. Para tokoh terkemuka kampus dengan segudang ilmu yang dimiliki dan latar belakang akademik yang tinggi. Beberapa teman kos dan kakak tingkat juga sering mengajak untuk tarawih keliling di sekitar kampus. Bahkan hingga ke pusat kota Solo. Acara masak bersama dan sahur bersama juga membuat Ramadhan tahun ini kian berwarna. Lebih indah dari tahun-tahun sebelumnya, lebih banyak pengalaman, lebih banyak teman, dan lebih mendekatkan diri pada Allah SWT tentunya.

Agaknya memang cukup lengang suasana kampus di kala Ramadhan datang dan bersamaan pula dengan masa liburan. Kini hanya beberapa mahasiswa yang masih aktif di organisasi dan mahasiswa baru angkatan 2015 yang baru saja diterima untuk melengkapi berkas-berkas.

Demikian cerita Ramadhan saya tahun ini. Intinya di manapun, kapanpun, dan dengan siapapun kita menjalankan ibadah di bulan yang penuh berkah ini, kita harus tetap menjalankan dengan penuh kesungguhan niat karena Allah SWT.

BAGIKAN
Berita sebelumyaBahagianya Berbagi Di Bulan Ramadhan
Berita berikutnyaDari 7 Benua Untuk 70 Tahun Indonesia
Dipanggil Ningsih. Lahir di Klaten, 12 Desember 1995. Saat ini sedang menempuh pendidikan S1 di Universitas Sebelas Maret Surakarta dengan program studi Pendidikan Akuntansi. Dua kali pindah kosan karena banjir. Anak ketiga dari seorang ayah yang berprofesi sebagai pedagang kambing dan ibu yang bekerja sebagai ibu rumah tangga ini memiliki motivasi besar untuk kuliah demi meningkatkan taraf hidup keluarga dan berbakti kepada orang tua.

TIDAK ADA KOMENTAR

Tinggalkan Pesan Balasan