Refleksi Akhir Malam Ramadhan

Refleksi Akhir Malam Ramadhan

0
BAGIKAN
Milkyway dari atap kontrakan di Malang

Kembali lagi disini, setelah dua tahun masa kuliah selesai, di Asrama Hasanuddin, Malang. Asrama mahasiswa asal Sulawesi Selatan yang mungkin bernasib seperti nama kota tempat ia berada. Sudahlah, saya tidak suka mengumbar lebar keburukan. Intinya Ramadhan suci kali ini kujalani disini.

Tak terasa takbir telah menggema menyapa telinga. Terdengar dari pengeras suara masjid,  Allaahu akbar .. Allaahu akbar .. Allaahu akbar .. Laa ilaaha illallaahu wallaahu akbar.. Allaahu akbar walillaahil  hamd .. Takbir itu beradu, kemudian kalah dengan suara suara mercon yang entah atas dasar apa ia turut menggema. Kalau untuk menyambut hari kemenangan, bukankah lebih asik dengan ikut melantunkan takbir? Atau mungkin ini hanya ego saya saja, sudah sepantasnya orang-orang bebas membentuk selebrasi terhadap apapun, termasuk malam takbir, malam kemenangan.

Awal Ramadhan disini cukup ramai, ada sekitar sepuluh teman sekampung serantauan yang juga seatap menyambut Ramadhan. Seiring sahur dan buka puasa bersama, hari demi hari berlalu. Dengan itu pula, satu persatu dari kami mewujudkan kata impian, “Mudik”.

Tibalah di H-7, tersisa kami bertiga yang memutuskan untuk tidak mewujudkan kata impian itu. Oh iya, saya hampir lupa, ada satu lagi yang menemani kami disini. Upil namanya, seekor kucing yang seringkali merasa terpaksa makan tahu atau tempe goreng sisa kami. Lebih tepatnya memberi sedikit bagian kami, sebab bisa dipastikan tak ada yang tersisa hehe. Ia kucing yang manja, tak jarang saat kami makan lesehan dengan duduk bersila, ia meletakkan dua kakinya di pahaku atau paha yang lain. Ia memandangi piring yang kami pegang lalu bersuara “meong”, mungkin ia sedang memohon, entahlah. Yang pasti ia butuh makan. Ini bulan suci, bulan berbagi kasih, jelaslah kami akan berbagi.

Namanya Upil!
Namanya Upil!

Bertiga pun tak jadi masalah, pikirku ini bukan persoalan kuantiti, ini adalah persoalan kebersamaan. Walau tak jarang masing-masing asik dengan rutinitas pribadi, latihan gitar dengan nada yang tak masuk akal (read: amazing!), baca buku, nonton film, baring berangan, menolak matahari (semoga terhitung ibadah, aamiin) dan lain sebagainya. Disini kebersamaan terlihat jelas saat menjelang sahur atau buka puasa, ada yang masak nasi, potong sayur, potong bawang, potong tempe/tahu, buat sambal, masak sayur, goreng tempe/tahu, ngocok telur, dan mencuci piring kotor. Sepertinya harus dikerjakan oleh beberapa orang, tapi kami hanya bertiga, merangkaplah jadinya kami ini.

1
2
BAGIKAN
Berita sebelumyaRantau Ramadhan: Ekspedisi ke Sulawesi
Berita berikutnyaBahagianya Berbagi Di Bulan Ramadhan
Percaya saja bukan siapa-siapa. Toilet selalu menjadi tempat yang asik dengan buku sambil menjalankan proses menuju lapar. Mungkin dibenci oleh abjad delapan belas (jangan menghitung pakai jari). Saya juga punya satu rahasia besar, yaitu tidak pernah mengungkap rahasia. Ingatkan saya senyum jika bertemu di jalan atau di kolom komentar.

TIDAK ADA KOMENTAR

Tinggalkan Pesan Balasan