Refleksi Akhir Malam Ramadhan

Refleksi Akhir Malam Ramadhan

0
BAGIKAN

Di Depan ASRAMA HASANUDDIN
Di Depan ASRAMA HASANUDDIN

Sekilas teringat bagaimana dengan Ibu di rumah yang harus melakukan pekerjaan itu sendiri dan juga menyiapkan porsi lebih banyak dari yang kami siapkan saat itu. Pasti membutuhkan waktu dan tenaga ekstra. Memang harus merasakan jarak jika ingin belajar sesuatu, setidaknya seperti itulah menurut saya. Maafkan kami Ibu yang kadang menggerutu sebab yang kau siapkan saat sahur atau buka puasa diluar ekspektasi kami. Juga kadang lebih asik buka puasa bersama teman-teman kami diluar dibanding denganmu di rumah, maafkan kami Ibu.

Sesekali saya mendapati nama Ibu dilayar telepon genggam saya, telepon dari Ibu di Makassar. Pertanyaan yang sama setiap Ibu menelpon, “Sudah sahur Nak?” ataukah “Sudah berbuka Nak?”, suara itu yang menjadikan rindu kian menggebu. Jawabannya juga hampir sama dariku, “Ini masih masak Bu, hehe”, sebab waktu di sana memang lebih cepat sekitar satu jam.

Tak jarang dalam percakapan itu terlontar juga satu tanya dari Ibu yang kira-kira bunyinya seperti ini, “Kamu yakin tidak mau pulang lebaran kali ini Nak?”, pertanyaan itu mengisyaratkan rindu seorang Ibu. Ahh! Rindu lagi, semakin jadilah ia menggebu. Handphone masih dalam genggaman, suara Ibu pun masih terdengar nyaman, saya sendiri bergumam dalam hati, “Maafkan anakmu ini Bu, masih ingin ia menabung rindu”.

Bulir-bulir air mata membasahi sajadah pada sujud isya terakhir ramadhan kali ini, diiringi samar suara takbir yang melantun indah dari masjid terdekat. Pasti akan ada rindu setelah ini, harapan bertemu lagi ramadhan yang akan datang. Kusisipkan harap itu dalam doa disujud terakhir, “Ya Allah Ya Tuhanku, sungguh Engkaulah Maha segala-galanya, ampuni hamba yang masih bergelimang dosa, maafkan hamba yang masih enggan mencium punggung tangan Ibu saat takbirMu menggema, maafkan hamba masih enggan memeluk tubuh tempat dimana Engkau percayakan hamba berasal, maafkan hamba masih terkadang lalai dalam melaksanakan kewajiban. Terima kasih masih memberi hamba kesempatan bertemu dengan ramadhanMu tahun ini, ijinkan hamba bertemu lagi dengan ramadhanMu di tahun-tahun berikutnya. Sesungguhnya Engkaulah Maha Pengampun dan Maha Pengabul doa, sesungguhnya pula aku bersaksi bahwa tiada Tuhan yang berhak disembah selain Engkau Ya Allah”. Aamiin

Tak terasa, pukul 00:00 WIB, tak ada lagi potong memotong, tak ada lagi masak memasak, dan tak ada lagi cuci mencuci dini hari. Pagi nanti kami harus bangun lebih cepat, mandi pagi yang sangat jarang kami lakukan, lalu bergegas melaksanakan shalat Idul Fitri. Hari kemenangan telah tiba. “Taqabbalallahu minna wa minkum” (Semoga Allah menerima (amalan) dari kami dan darimu sekalian). Aamiin

Sepulang dari shalat Ied, saya sangat berharap dapat telepon dari Ibu. Namun Ibu pasti sedang sibuk melayani tamu, ke rumah keluarga dan berziarah kubur hingga tak sempat menelponku. Telepon yang kuharapkan itu tak kunjung datang bahkan hingga malam tiba. Kalau saja saya mampu pasti saya yang menelpon, sayangnya kemampuan saya hanya bisa mengirim pesan singkat. “Maafkan anakmu ini Bu, masih ingin ia menabung rindu”, seperti itulah potongan pesan yang kukirim ke Ibu. Paling tidak sudah kusampaikan meski tidak secara langsung.

“KALAU SAJA JARAK TIDAK MEMBERIMU SEDIKIT PUN PELAJARAN, TIDAK MEMBERIMU RASA RINDU PADA APAPUN YANG BERJARAK DENGANMU, MAKA JANGANLAH KAU MEMBUAT JARAK. KAU MASIH BUTUH MENDENGAR LEBIH BANYAK KISAH DARI IBUMU.”

Salam, bahagia menyertai kita semua. Aamiin

1
2
BAGIKAN
Berita sebelumyaRantau Ramadhan: Ekspedisi ke Sulawesi
Berita berikutnyaBahagianya Berbagi Di Bulan Ramadhan
Percaya saja bukan siapa-siapa. Toilet selalu menjadi tempat yang asik dengan buku sambil menjalankan proses menuju lapar. Mungkin dibenci oleh abjad delapan belas (jangan menghitung pakai jari). Saya juga punya satu rahasia besar, yaitu tidak pernah mengungkap rahasia. Ingatkan saya senyum jika bertemu di jalan atau di kolom komentar.

TIDAK ADA KOMENTAR

Tinggalkan Pesan Balasan