Sang Perantau

Sang Perantau

0
BAGIKAN

Orang berilmu dan beradab tidak akan diam di kampung halaman
tinggalkan negerimu dan merantaulah ke negeri orang
Merantaulah, kau akan dapatkan pengganti dari kerabat dan kawan berlelah-lelahlah, manisnya hidup terasa setelah lelah berjuang.
Aku melihat air menjadi rusak karena diam tertahan
jika mengalir menjadi jernih, jika tidak, ‘kan keruh menggenang.
Singa jika tak tinggalkan sarang tak akan dapat mangsa
anak panah jika tidak tinggalkan busur tak akan kena sasaran
Jika matahari diorbitnya tidak bergerak dan terus diam
tentu manusia bosan padanya dan enggan memandang
Bijih emas bagaikan tanah biasa sebelum digali dari tambang
kayu gaharu tak ubahnya seperti kayu biasa jika di dalam hutan.
Kutipan dari Imam Syafi’i dalam Novel Negeri 5 Menara

Aku suka sekali untaian kata-kata ini. Bukan saja bijak tapi aku bahkan sudah membuktikannya sendiri. Dari Imam Syafi’i, “Merantaulah, kau akan dapatkan pengganti dari kerabat dan kawan. Berlelah-lelahlah, manisnya hidup terasa setelah lelah berjuang“. Indahnya masa-masa saat berada di perantauan, bertemu dengan para kawan yang layak disebut saudara. Dan sampai sekarang masih kurasakan manisnya kebersamaan kala berjuang bersama di tanah rantau.

Tak terasa kita telah memasuki sepuluh hari pertama bulan Ramadhan. Sahur, berpuasa, berbuka, dan momen bulan suci lainnya kembali kita lewati tahun ini. Bulan Ramadhan selalu jadi bulan yang dinanti, karena pada bulan suci ini semua pahala atas amal ibadah dilipatgandakan. Bagi kaum muslimin, bulan Ramadhan adalah bulan yang penuh berkah. Bulan di mana ampunan dan pembebasan dari api neraka dijanjikan Allah Yang Maha Kuasa untuk umat-Nya terutama bagi mereka yang ikhlas dan bersungguh-sungguh dalam beribadah.

Ramadhan pertama tanpa Mamah, tanpa masakan mamah, tanpa dibangunin sahur sama mamah, tanpa nonton kultum bareng sama mamah, tanpa diskusi nentuin ta’jil sama mamah, tanpa teraweh bareng mamah. Rasanya tak tergambarkan. Hati bergetar saat pertanyaan, “Sahur nanti gimana, Nak?”, dari seberang telepon. Aku baru menyadari ketiadaan sosok Mamah di sampingku pada Ramadhan tahun ini. Rasanya ingin terbang ke kota kelahiran detik ini juga.

Ramadhan tahun ini jelas sangat berbeda dengan yang sebelum-sebelumnya. Maklumlah sejak memutuskan untuk menuntut ilmu dan mengejar cita-cita di kota lain, aku harus menjalani bulan Ramadhan seorang diri. Sesuatu yang sangat berbeda tentunya, hidup jauh dari keluarga. Awalnya terasa aneh bahkan sangat aneh. Ada yang kurang. Ada yang hilang.

Tetapi, tetap harus di jalani. Lama kelamaan pun akan terbiasa. Sedih rasanya awal puasa kali ini ga bisa bareng keluarga tercinta. Kegalauan menyertaiku yang notabene hidup sebagai perantau. Yah, beginilah nasib kalau orang yang merantau. Hidup sendiri merupakan salah satu konsekuensi yang mesti aku jalani sejak 1 tahun lalu, demi masa depanku yang lebih baik. Keseharian di kampung halaman dan lezatnya masakan orang tua adalah memori terindahku perantauan.

Hari pertama sahur, aku bangun pukul 03.00. Setelah menyiapkan makanan untuk sahur, aku termenung memperhatikan sekeliling yang begitu hening. Ah, ternyata aku hanya sendiri menyantap sahur kali ini. Heningnya malam saat orang lain sedang bersuka cita menyambut awal Ramadhan bersama keluarga yang di cintai membuat semakin merindu. Apa daya, air mata pun menetes juga di hari pertama puasa.

Kesedihan semakin membuncah karena menu sahurku hanya semangkok mie instant dan nasi putih. Tapi semua kesedihan ini tidak menghalangiku untuk melaksanakan ibadah puasa.

Tetapi menjalankan puasa di perantauan tidak terasa apalagi kegiatan perkuliahan tetap berjalan di bulan Ramadhan. Meskipun berat, tetapi bukankah belajar juga termasuk ibadah? Apalagi jika dilakukan saat bulan Ramadhan. Hanya ada satu ibadah yang kadang terabaikan yaitu tidur. Hampir tak ada waktu untuk itu.

Bagi mahasiswa rantau, buka puasa bersama membawa keberkahan tersendiri. Lumayan untuk menghemat uang bulana. Buka puasa bersama selalunya diadakan di masjid. Dan masjid yang sering aku datangi adalah masjid yang berada di kampus Universitas Diponegoro. Disana juga aku menjadi panitia Ramadhan.

Buka puasa bersama selain sebagai ajang penghematan, juga sebagai penyeimbang gizi karena mustahil rasanya bisa menyiapkan menu-menu luar biasa di kosan sendiri.

Untuk sholat tarwih, aku memilih masjid yang paling cepat selesai. Tak jauh dari masjid kampus, ada satu lagi masjid yang tarwihnya paling cepat. Pukul 8 biasanya tak ada lagi jamaah yang sholat. Kita pun harus datang awal karena mulai sholat pun lebih awal. Tetapi sering juga aku memilih sholat tarwih di masjid-masjid besar, karena biasanya bacaan tartil imam di masjid besar lebih bagus.

Menjadi mahasiswa rantau memang harus banyak menghemat. Apalagi mahasiswa rantau yang berasal dari keluarga ekonomi pas-pasan. Menu sehari-hari seperti soto, rendang, ayam goreng selalunya disantap dalam bentuk mie instant. Tapi jangan salah, meskipun menu sederhana, mahasiswa rantau seperti ini biasanya memiliki kegigihan untuk berprestasi mengejar beasiswa.

Untuk semua mahasiswa rantau tangguh, semoga ilmumu barokah. ‘’Sesungguhnya kita semua adalah ”perantau” di dunia ini, akhiratlah kampung halaman yang sesungguhnya.’’

TIDAK ADA KOMENTAR

Tinggalkan Pesan Balasan