Sehat Jiwa dan Raga di Negeri Pejalan Kaki

Sehat Jiwa dan Raga di Negeri Pejalan Kaki

1
BAGIKAN
Nagoya University

“Dimana kaki berpijak, disitu langit dijunjung“, peribahasa ini pasti sangat melekat bagi mereka yang pernah, sedang atau akan tinggal atau menetap di negara atau daerah lain. Tidak terkecuali para pelajar. Saya sebagai pelajar asing di Jepang, sebaiknya mampu menyesuaikan diri dengan kebudayaan dan pola kehidupan di Jepang. Sampai sekarang, salah satu pola kehidupan orang jepang yang membuat saya kagum adalah kebiasaan berjalan kaki.

Ketika pertama kali ke Jepang, saya masih duduk dibangku SMA. Saya menjadi siswa pertukaran pelajar melalui program AFS di tahun 2006-2007. Dan ditempatkan di Toyohashi-shi, Aichi. Pada saat itu, saya masih jarang berjalan kaki karena lebih sering naik sepeda dari rumah ke sekolah atau diantar jemput dengan mobil oleh keluarga angkatku. Tapi saya sempat memiliki pengalaman berjalan kaki selama kurang lebih 25 menit dari stasiun ke rumah selama beberapa hari. Mungkin mendengar jangka waktu 25 menit, perjalanannya sangat panjang. Ya, saya akui memang perjalanannya cukup jauh, tapi tidak sedikit orang yang juga berjalan kaki serta didukung udara yang masih tetap segar walaupun pada saat itu hari telah beranjak sore.

Setelah beberapa tahun dari sejak program pertukaran pelajar yang kuikuti pada saat SMA, saya kembali mendapatkan kesempatan untuk bersekolah di Jepang. Kali ini sebagai mahasiswa pascasarjana di salah satu universitas negeri di Nagoya, Aichi. Dibandingkan pada saat SMA, frekuensi jalan kaki ku semakin bertambah. Hal ini karena jarak kampus dengan tempat tinggalku tidak begitu jauh. Begitu pula dengan tempat pemberhentian angkutan umum seperti bus atau kereta bawah tanah. Selain itu, berbeda dengan sebelumnya, sekarang saya tinggal sendiri sehingga tidak ada lagi antar jemput dengan mobil. Awalnya saya sangat kewalahan dengan berjalan kaki ini. Namun, semakin lama, saya semakin terbiasa. Apalagi banyak sekali orang yang lebih memilih berjalan kaki dan menggunakan alat transportasi umum dibandingkan alat transportasi pribadi.

Di Indonesia, budaya jalan kaki, cukup sulit untuk ditemui di kota-kota besar. Kebanyakan orang-orang menggunakan kendaraan pribadi seperti mobil atau sepeda motor untuk beraktivitas. Hal ini pastinya menyebabkan kemacetan apalagi sarana prasarana jalan masih kurang memadai. Selain itu, jalan yang seharusnya menjadi tempat berjalan kaki para pejalan kaki, mulai beralih fungsi. Kita tidak perlu heran ketika trotoar dilalui oleh sepeda motor atau ada yang mendirikan tempat makan bertenda di trotoar tersebut. Saya sendiri di Makassar, tempat tinggalku, menggunakan mobil untuk beraktivitas. Beraktivitas dengan jalan kaki sekali pun sepertinya tidak pernah terpikirkan.

Jika kita melihat beberapa kota besar di Indonesia, trend berjalan kaki itu semakin meningkat tapi dengan ritme yang masih lambat. Masih jarang kita temui orang-orang berjalan kaki dari satu tujuan ke tujuan yang lain atau sekedar berpindah dari stasiun ke stasiun yang lain atau dari bus stop ke bus stop yang lain. Namun, ketika melihat Indonesia bagian pedesaan, kita masih sering melihat orang yang berjalan kaki. Mereka berjalan kaki dari satu tempat ke tempat yang lain. Mereka berangkat ke sekolah, mereka pergi bekerja, bahkan untuk menghadiri acara di tempat kerabat, mereka tetap berjalan kaki. Di Jepang terjadi hal sebaliknya. Jumlah pejalan kaki di kota besar lebih banyak dibandingkan jumlah pejalan kaki di daerah yang jarang alat transportasi umum atau di daerah kecil.

Budaya jalan kaki ini sangat menarik menurutku. Secara filosofi, jalan kaki memiliki makna yang dalam. Ketika berjalan kaki, kita berharap sampai di tujuan dengan selamat, tepat waktu, dan harapan lainnya. Namun, selama berjalan kaki apa yang kita rasakan? Lelah, panik, khawatir, bahkan tidak jarang pula kita merasa tidak sanggup. Tapi dibalik itu semua, kita memiliki keinginan kuat untuk mencapai tujuan. Seperti halnya ketika kita berusaha dalam hidup. Banyak harapan yang kita ingin raih. Banyak tujuan yang ingin kita capai. Tetapi tanpa usaha, impian, harapan, dan keinginan kita, semua itu menjadi tidak akan ada artinya. Dibutuhkan usaha yang kuat. Di dalam usaha pasti kita juga akan merasakan lelah, panik, khawatir, dan bahkan tidak sanggup. Sama seperti ketika kita berjalan kaki. Tapi dalam berusaha, tentunya ada keinginan kuat untuk mencapai tujuan tersebut. Hal ini menjadi salah satu penyemangatku untuk terus berjalan kaki dan tetap berusaha mencapai tujuan hidup. Semakin saya sering berjalan kaki, semakin saya terlatih untuk pantang menyerah dalam berusaha dan menjalani kehidupan ini khususnya sebagai seorang pelajar di luar negeri. Bisa saya bilang jalan kaki mampu menyehatkan raga dan jiwa.

Dimana kaki berpijak, disitu langit dijunjung

1 KOMENTAR

Tinggalkan Pesan Balasan