Summer Ramadhan di Dresden, Jerman

Summer Ramadhan di Dresden, Jerman

0
BAGIKAN
Kota Dresden, Jerman. Credit photo by travelinas.net

Ramadhan di saat menjadi perantau tentunya akan selalu ada dan membekas dalam ingatan saya, terutama saat berada di negeri orang yang sangat berbeda budaya dan suasana dengan negeri asal kita. Tahun 2009 merupakan Ramadhan kedua saya di Dresden, Jerman. Setelah mendapatkan kesempatan melanjutkan program studi master. Kedua bulan Ramadhan yang saya jalani di Dresden dimulai pada musim panas. Musim panas berarti siang hari lebih panjang daripada malam hari. Puasa Ramadhan di tahun 2009 lebih banyak hari musim panasnya dibanding tahun sebelumnya, kira-kira tiga perempatnya masih musim panas. Dimulai sama dengan Indonesia pada 22 Agustus hari Sabtu, dengan hari pertama imsak pukul 4.19 dan maghrib 20.13. Semakin menuju akhir Ramadhan, maka jam berpuasa memendek, karena mendekat ke musim gugur. Ramadhan kemudian dilanjut dengan lebaran, tentu ada suka dan duka bagi orang Indonesia seperti saya.

Kalau diingat-ingat, yang terasa agak berat itu adalah jam siang yang sangat panjang manakala musim panas.  Walau suhu rata-rata tidak sepanas di negara kita, tetapi tetap saja matahari terasa seperti lampu sorot. Orang Jerman malah berjemur-jemur jika matahari menyinari bumi dengan terang, karena tak sepanjang tahun mereka merasakannya. Kelembapan udara yang rendah juga membuat tubuh kita kekurangan cairan, apalagi di masa adaptasi minggu pertama puasa.  Perlu bagi kita untuk jaga kondisi dengan waspada terhadap panas dan kelembapan udara yang rendah yang dapat mengakibatkan sakit kepala atau pecah pembuluh darah di hidung dan telinga, sama seperti saat musim dingin.  Padahal musim panas sebenarnya sangat tepat untuk jalan-jalan karena siang yang panjang, cerah dan tidak dingin. Saya ambil hikmahnya untuk fokus penyelesaian tugas akhir di rumah atau perpustakaan.

Perpustakaan di Dresden adalah tempat yang sangat kondusif bagi para pelajar atau siapa saja yang perlu atau sedang mencari informasi, mengunduh jurnal, fokus belajar, menyelesaikan tugas, atau mengunduh file tanpa batasan kuota. Kalau di asrama yang dikelola negara bagian, kita juga dapat mengakses dan mengunduh jurnal, tetapi dengan jatah internet 5 GB dalam hitungan 7 hari. Penggunaan melebihi kuota tersebut, akan dikenakan sanksi berupa pemblokiran internet di kamar selama satu minggu untuk peringatan pertama dan selanjutnya lebih berat. Perpustakaan Dresden dengan nama SLUB dan beberapa perpustakaan lain yang dikelola oleh Technische Universität Dresden serta pemerintah negara bagian Sachsen memiliki bangunan canggih, nyaman, luas, dan tidak memungut bayaran dari siapa saja yang menjadi anggota, kecuali keterlambatan atau tidak melakukan pengembalian buku. Jam buka SLUB adalah 7 hari dalam seminggu dari jam 8 pagi hingga jam 12 malam. Kecuali di hari Minggu, buka jam 10 pagi hingga 6 sore. Ini menunjukkan bahwa pemerintah sangat serius dalam membangun sumber daya manusia di negara tersebut.

Juga perihal makanan, tidak nampak keberadaan pasar Ramadhan di Dresden. Tetapi acara berbuka puasa bersama dengan komunitas Indonesia di Dresden menjadi pengobat kangen suasana dan makanan khas Ramadhan tanah air. Mengenai tarawih, hanya sekali saya coba melaksanakannya di Masjid Dresden.

Waktu itu, saya belum sekali pun tarawih di masjid. Selama ini tarwih dilaksanakan sendiri-sendiri atau di rumah keluarga Indonesia yang mengadakan acara buka puasa bersama. Saya menghubungi beberapa rekan Muslimah, tetapi tidak ada yang bisa ikut sholat tarawih bersama saya. Pergilah saya sendiri ke masjid, karena entah kapan saya bisa berada Dresden lagi saat Ramadhan.

Masjid dapat dicapai dengan berjalan dari asrama selama sekitar 15 menit. Sesampai di masjid, saya naik ke lantai 1 (lantai 2 kalau di Indonesia), tidak ada seorang pun jamaah perempuan yang terlihat. Saya jadi canggung sendiri. Sholat tarawih akan dilaksanakan sekitar jam 10 malam, dengan 11 rakaat.

TIDAK ADA KOMENTAR

Tinggalkan Pesan Balasan