Summer Ramadhan di Dresden, Jerman

Summer Ramadhan di Dresden, Jerman

0
BAGIKAN

Menariknya saat Ramadhan bertepatan dengan musim panas adalah bahan makanan yang segar harganya turun karena sedang bertepatan dengan musim panen. Jadilah menu yang dominan adalah kentang, brokoli, tomat ceri, apel, pir, apricot, plum, jeruk, dan makanan halal lainnya yang sedang murah. Maklum di akhir studi, beasiswa harus semakin dihemat.

Di asrama, saya berteman dengan seorang pelajar Program Master Komunikasi dan Sastra Jerman asal Kyrgyzstan yang tinggal di lantai yang sama dengan saya. Kami jadi akrab karena sering bertemu di dapur. Ia bernama Aliya, ia membiayai hidup dan kuliahnya dengan bekerja sebagai Au pair di salah satu keluarga Jerman. Aliya tahu tentang puasa, tetapi tidak berpuasa penuh saat Ramadhan. Aliya nampaknya seorang non-practising Muslim, hal biasa bagi warga negara-negara pecahan Rusia. Pernah ia bertanya, apakah baru kali ini saya berpuasa. Saya menjawab bahwa berpuasa sudah umum dilakukan sejak kanak-kanak di keluarga Indonesia. Ia kaget mendengar  itu. Ia juga mengaku bahwa saat ini memutuskan untuk tidak sholat dengan alasan agak mistis, ia trauma dengan sholat. Entah apa cerita dibalik itu.

Aliya yang cantik dan baik itu berkali-kali mengundang saya untuk makan di kamarnya. Di asrama ini juga ada dua orang teman sekelas saya, Thomas asal Kenya di lantai dasar dan Ganesh asal India di lantai 1, sementara saya berada di lantai 3. Ganesh sering sekali  memasak dan mengundang kami. Masakan India buatannya sangat super lezat. Semetara Thomas, ialah referensi kami mengerjakan tugas, cerdas nan jenuis. Pernah sekali Thomas mengajak kami untuk makan siang bersama. Tanggapannya setelah tahu saya sedang berpuasa, “So, after sunset you will eat a lot, huh?”…Ehehehe…

Ramadhan di dunia online pun diramaikan dengan persiapan lebaran. Para ibu di forum masyarakat Indonesia di Dresden sudah bersahut-sahutan di milis mengenai menu. Tahun ini 1 Syawal jatuh pada hari Minggu, sehingga kami bisa sholat Idul Fitri dengan tenang tanpa diburu-buru urusan kantor, kuliah, atau pun mengantarkan anak ke sekolah.

Saya pernah mengalaminya tahun lalu, terlambat kuliah karena sholat Idul Fitri dulu di pagi hari. Di Dresden saat itu terdapat dua masjid, dengan penyelenggaraan sholat Idul Fitri pada jam berbeda. Masjid Afrika menyelenggarakan sholat Idul Fitri di gedung Sekolah Internasional yang lumayan besar, takbiran dimulai jam 6.30 dan sholat pada jam 7.15. Satunya lagi, masjid yang tadi, umumnya pelajar Indonesia di Dresden menunaikan ibadah sholat Jumat di masjid ini karena dekat kawasan TU Dresden. Memulai takbir pada jam 7.30 dan sholat pada jam 8.30.

Saya pun menunaikan sholat Idul Fitri di masjid ini. Dikhutbahi oleh Imam Masjid dalam 3 bahasa yaitu Arab, Inggris, dan Jerman. Tidak seperti tahun lalu yang hanya dalam bahasa Jerman saja. Dan ternyata imam masjid ini adalah imam yang baru yang berasal dari Australia.

Setelah khutbah, para jamaah dipersilakan menikmati sarapan ala Arab-Jerman. Roti pita seperti piring lebar ceper lengkap dengan lauk dan makanan manis lainnya, sangat berbeda dengan tahun lalu yang hanya tersedia kue-kue khas Arab.

Di Indonesia, setelaj sholat Idul Fitri, terdapat tradisi salam-salaman, maka di Dresden hal ini tidak lumrah. Beberapa Muslimah menatap kami aneh ketika diajak bersalaman.

Masjid tempat kami sholat, tidak berupa bangunan masjid melainkan bangunan perkantoran yang dikontrak satu lantai sehingga hanya ada satu pintu keluar masuk masjid. Setelah sholat Idul Fitri, kami berjalan keluar dan para jamaah laki-laki menunggu di koridor berlawanan. Tiba-tiba saja seorang bapak berpakaian gamis putih mengambil kain panjang berwarna kuning untuk dijadikan sekat. Dan kami pun, wanita-wanita, dipersilakan lewat terlebih dulu. Mereka begitu menjaga hijab antara lelaki dan wanita.

Hidangan utama kami di hari Idul Fitri ini adalah gulai kambing buatan keluarga Ibu Irna. Saya bersyukur, Allah SWT memberi kesempatan kepada saya sebagai perantau merasakan Ramadhan di negeri orang, memperkaya pemahaman saya akan tradisi ummat Muslim negara lain, mempererat persaudaraan, dan semakin menghargai kesempatan manakala bertemu dengan ibu dan bapak.

TIDAK ADA KOMENTAR

Tinggalkan Pesan Balasan