BAGIKAN

Merantaulah, kau akan mendapat pengganti kerabat dan teman. Berlelah-lelahlah, manisnya hidup terasa setelah lelah berjuang.
– Syair tentang Tanah Rantau oleh Imam Syafi’ie

Sore adalah pertanda, menghentikan segala aktivitas siang untuk menyambut gelap adalah sebuah sikap memahami sifat sang waktu yang berganti dan berputar dari pagi, siang menuju malam, lalu pagi kembali.

Rasanya masih segar di ingatan: 23 tahun silam, Engkau kerap mengajakku duduk berduaan di bangku belakang rumah kala sore menjelang, menikmati kopi hitam dan pisang goreng buatan Ibu, Istrimu.

“Setiap mesin memiliki cerita dan keunikan berbeda,” Engkau meyakinkan kebingunganku pada tumpukan mesin yang tak terpakai. Mengapa tak dirombeng aja pikirku. Ceritamu mengalir, tentang tumpukan bangkai mesin yang sengaja Engkau letakkan di sudut-sudut ruangan, agar ruang kerjamu selalu terlihat lapang dan rapih, pun di lantai selalu saja tersisa bekas tumpahan oli yang sulit dibersihkan.

Dan cerita selalu dibumbui tentang kisah suka dan duka seorang anak bungsu yang ditinggal Ibu dan Bapak-nya sebelum beranjak remaja. Seorang lelaki yang selalu mengayuh kendaraan roda tiga di pinggiran kota menuju bengkel tempatnya belajar, demi sebuah impian menjadi teknisi mesin. Waktu melaju, kumandang azan menutup kisah kisah itu.

Penjelajahan

Suatu hari saat waktu libur sekolah, Engkau mengajak berkunjung ke kampung halaman Nenek. Hari itu Aku masih belia. Berkunjung ke rumah Nenek adalah sebuah usaha dimana tekad serta niat haruslah bulat, kuat dan suci.

Sebuah kampung yang terletak di atas bukit, melewati jalur yang terjal dan berbatu, curam dan licin, apalagi di musim penghujan. Aku mengiba lalu berbaring saja di atas punggungmu, kakiku tak mampu menapak, otot-otot lututku rasanya masih lemah dan muda jika harus melalui jalan-jalan itu. Tapi bagimu: Silaturahmi, mengunjungi sanak saudara- adalah kewajiban yang padanya terdapat kebahagiaan yang tak ternilai. Tap, tap, tap langkahmu mengayun satu per satu, mengikuti irama nafas dan detak jantung. Tak terasa hingga setengah hari berjalan melewati hutan dan lembah, kampung yang begitu asri dan sejuk akhirnya membentang dari kejauhan.

“Kalau sudah besar, jadilah seperti Pak Habibie.” Sepanjang jalan berbukit menuju tanah kelahiranmu, dengan semangat Engkau berkisah tentang Habibie, mengagumi beliau melalui cerita dan perjuangannya sebagai anak rantau. Terasa nyaman berada di pundakmu selama 12 jam.

Hari ini Aku tersadar, saat itu betapa Engkau tanpa keluh berkisah selama 12 Jam perjalanan menjemput bahagia yang tak bernilai: Silaturahmi, tentang seorang Profesor penemu sayap pesawat terbang yang lahir dengan kecerdasan yang tak mendua. Hari itu adalah awal tumbuhnya benih seorang petualang 23 tahun kemudian. Seorang petualang yang siap mengejar impianmu yang tertunda.

TANAH RANTAU, TANAH YANG DIJANJIKAN

Semesta seakan mendukung, Engkau mengorbankan waktu dan tenaga demi sebuah cerita buat anakmu yang kini telah beranjak dewasa. Dulu, kita punya cerita, cerita tentang menanti bebek ternak menetas telur di waktu subuh, menagkap ikan Mujair di sawah, atau berburu layangan yang Engkau rakit untukku kala senggang.

Sekarang, Aku juga telah merajut cerita, cerita masa lalu yang Aku rangkai beberapa tahun terakhir. Cerita untuk mereka yang akan beranjak dewasa dan cerita masa kini untuk Engkau: Sebuah cerita bertualang ke Negeri Elizabeth dan menyaksikan “Kick & Rush” Liga Premiere Inggris. Permainan sepakbola yang begitu luar biasa apik, terlebih jika dibandingkan dengan Liga Indonesia. Tidakkah menonton pertandingan sepakbola, juga laku kebiasaan kita setiap akhir pekan, walau menyaksikannya hanya lewat tayangan televisi, dengan antena parabola, dan di rumah seseorang yang Engkau sebut sebagai atasan?

Negeri Ratu Elizabeth II

Wembley menjadi saksi, 5 tahun yang lalu, tepatnya tahun 2011, perkenalanku di usia dini dengan keindahan sepakbola Negeri Ratu Elizabeth II, berbuah foto dari kamera Nikon D3100 yang engkau hadiahkan. Kebanggaanku: Memajangnya di salah satu sudut rumah, berjejer bersama foto-foto yang lain kala Aku juga berkesempatan berkeliling ke negara-negara Eropa, Amerika Selatan dan Asia.

Tak terasa, 15 tahun sudah ruh dan raga ini berkelana di tanah rantau. Secangkir kopi yang pernah kita sesapi, rasanya rindu ingin menyeduhnya untuk kita resapi, sembari menikmati indahnya panorama kampung halaman. Berdua.

Ayah, bagi mereka, Engkau mungkin hanyalah seorang teknisi lulusan SMK. Tapi bagiku, Engkaulah teknisi yang mengajariku arti sebuah petualangan, Engkau membimbingku meniti jembatan khayalan tanpa ruang dan batas.

Semoga suatu saat bisa membawamu berlibur ke tempat yang telah aku ceritakan, atau sekedar menemanimu menyicipi aroma kopi di perkotaan. Amin

(by HRS | Edited: ZB)

TIDAK ADA KOMENTAR

Tinggalkan Pesan Balasan