Tak Ada “Ahlul” di Belanda

Tak Ada “Ahlul” di Belanda

3
BAGIKAN
Kota Leiden

Sudah tak terhitung kiranya jumlah orang yang bertanya, “Kenapa sih kamu dipanggil Louie?”. Sudah beragam pula spekulasi dan komentar negatif terkait motif di balik penggunaan nama tersebut. Ada yang dengan sinisnya bilang sok keren. Ada yang menuduh sok kebarat-baratan. Bahkan ada pula yang dengan kejamnya menghakimi saya sebagai persona rendah diri karena menolak nama asli sendiri. Hey, wait a minute.

Ada sejarah di balik tiap sebuah nama

Di rumah, saya dipanggil dengan nama Amri. Seluruh trah keluarga besar ibu dan bapak saya mengenal sosok hitam manis ini dengan nama itu. Tepatnya sejak duduk di bangku SMP, saya mulai dipanggil dengan nama Ahlul. Mengapa? Karena waktu itu di kelas II ada dua orang siswa yang bernama Amri. Saya Amri Buana dan dia Amri Hasan. Oleh sebab Amri yang satunya suka patottoai alias iseng di kelas sehingga kerap menimbulkan kesalahkaprahan di antara para guru, saya pun mengalah, merelakan nama Amri dan menyerah untuk dipanggil Ahlul demi melindungi reputasi. Nama ini terus melekat kepada diri saya hingga masuk ke SMA Negeri 05 Makassar.

Naik kelas dua SMA, saya lulus program pertukaran pelajar AFS-YES ke Amerika Serikat. Di Ohio, lidah kaukasia kawan remaja dan host family saya tidak cukup hebat untuk dapat melafalkan nama “Ahlul” dengan baik. Selalu saja terdengar aneh ketika host-mother saya, Sue Crapes, menyeru “Aa-luul”. Karena ketidaknyamanan inilah saya mencari-cari sebuah alternatif yang kira-kira dapat diterima oleh masyarakat sekitar dan diri saya pribadi. Akhir kata, ditemukanlah sebuah nama yang kira-kira cukup representatif dan mendekati bunyi “Ahlul”, yaitu Louie.

Kembali ke Indonesia, di kota Makassar sendiri nama saya juga sebenarnya sudah sejak lama dimodifikasi agar sesuai dengan kultur setempat. Ahlul memiliki varian Luluq, sebagaimana Ucuq untuk Yusuf, Nureq untuk Nur, Boraq untuk Ibrahim, Pireq untuk Firman dan Alluq untuk Syahrul. Ini karena karakter bahasa Bugis-Makassar memang seperti itu. Padanan fenomena ini, di Jawa seseorang yang bernama Abdurrahim bisa berubah menjadi Ngabdurokim, Hafidz menjadi Hapit dan Zainab menjadi Jenab.

Kelisanan Bugis-Makassar yang unik tertuang pula dalam bunyi-bunyi aksara daerahnya yang bernama huruf lontaraq. Coba perhatikan, di dalam kosakata Bahasa Bugis dan Makassar tidak ada bunyi konsonan mati. Peluru akan berubah menjadi peloroq dan ketika ditulis ke dalam aksara Lontaraq menjadi pe-lo-ro, dokter berubah bunyi menjadi dottoroq ditulis do-to-ro, duit berubah bunyi menjadi doiq ditulis do-i, dan besan berubah bunyi menjadi baiseng ditulis ba-i-se. Jadi masalah ubah-ubah nama ini sudah bukan lagi sesuatu yang baru dan juga terjadi dalam pergaulan sehari-hari bangsa kita.

Nah, sejak berkuliah di Universiteit Leiden, Belanda saya ngotot untuk kembali dipanggil dengan nama Louie oleh teman-teman sekalian. Mengapa? Bukannya mau sok-sokan karena mumpung lagi di luar negeri jadi minta dipanggil dengan nama yang kebule-bulean. Itu disebabkan karena bunyi “lul” dalam Bahasa Belanda artinya… hmmm, pokoknya sesuatu yang sangat jorok dan berkonotasi porno. Kira-kira setara dengan kata “jancuk” dalam khazanah permakian masyarakat Jawa Timur. Jadi, bersikukuh tetap menjadi seorang “Ahlul” di Belanda sama saja dengan bunuh diri, alias mencari ribut dengan warga lokal.

Selidik punya selidik, ternyata saya bukanlah satu-satunya atau orang Makassar pertama yang menggunakan nama Louie sebagai panggilan. Sejarah dengan adil mencatat kisah dua orang pemuda keturunan Gowa bernama Daeng Ruru dan Daeng Tulolo yang mengadopsi nama “Louie” empat abad sebelum saya lahir. Keren ya. Berarti sebenarnya nama Louie sudah tidak asing lagi bagi orang Makassar –pledoi nih, ceritanya. Kedua pangeran Gowa ini tumbuh besar di pengungsian orang-orang Makassar di Thailand, pasca Perjanjian Bongaya yang mengakibatkan banyaknya penduduk Makassar, Bugis dan Mandar berdiaspora keliling Nusantara karena tak sudi tunduk di bawah kekuasaan VOC. Daeng Ruru dan Daeng Tulolo dikirim untuk bersekolah di sebuah kolese Jesuit bernama Louis Le-Grand setelah terjadi kudeta mengerikan yang dilakukan oleh orang-orang Makassar terhadap raja Thailand akibat muslihat adu domba. Cukup epik perjalan hidup duo Louis ini.

Tahun 1688, Pendeta Nicolas Gervaise menerbitkan sebuah buku berjudul “Description historique du Royaume Macassar” yang ditulis berdasarkan informasi yang ia terima dari kedua orang muridnya, kakak-beradik Louis berdarah Makassar serta budak asal Toraja yang ikut ke Paris. Setelah belajar Bahasa Perancis serta keagamaan di kolese Louis Le-Grand, kedua Louis kemudian melanjutkan pendidikan di sekolah militer Clermont yang bergengsi. Nasib kedua kakak-beradik ini cukup cemerlang di Angkatan Laut Kerajaan Perancis. Daeng Ruru bahkan pernah berperang di Hindia Barat (kepulauan Karibia). Sayang, setelah itu tidak ada lagi kabar yang terdengar dari mereka berdua.

Demikianlah. Mengikuti jejak para pendahulu di atas, saya hidup sebagai seorang “Louie” selama bersekolah di Belanda. Bagi saya, memberikan julukan maupun panggilan yang terbaik kepada sesama manusia adalah bahagian dari kemuliaan. Oleh karena itu, saya tidak pernah punya masalah dengan mengadopsi nama Louie ini sebagai nama panggilan. Ya, saya adalah Ahlul, saya adalah Louie. Sepanjang tidak ada hati insan yang tersakiti tentunya.

Ah, apalah arti sebuah nama!

Apalah Arti Sebuah Nama
Apalah Arti Sebuah Nama

3 KOMENTAR

Tinggalkan Pesan Balasan